| Lindung |

40 8 1
                                        

Permasalahan yang kian rumit memaksa Juna menceritakan tentang Nakaisha kepada Mama.

Lagipula, membawa masuk Nakaisha ke rumah dalam kondisi yang kacau seperti sekarang pasti akan menimbulkan tanda tanya besar di kepala anggota keluarganya. Papa dan Jeva kebetulan sedang tidak ada di rumah. Hanya Mama. Dan Juna segera meminta tolong Mamanya untuk mengobati luka- luka di wajah Nakaisha.

Kini, mereka berada di ruang televisi. Mama membalut luka terakhir Nakaisha di sudut bibir dengan plester.

"Mereka tuh, keterlaluan, Ma." Juna bersuara. Kerutan di dahinya menunjukkan bahwa api amarah itu belum juga padam. "Kalau aja Kakak gak ingat kondisi Kai, Kakak pasti sudah hajar pria itu."

"Mama dan Papa gak pernah ajarkan Kakak melakukan kekerasan," peringat Mama.

"Kakak kesal."

Mama menghela napas. Kedua tangannya memasukkan kembali obat merah dan beberapa peralatan ke dalam kotak P3K. Setelahnya, Mama menatap Nakaisha dan menangkup tangan gadis cantik itu.

"Nakaisha aman di sini," kata Mama lembut.

Pandangan Nakaisha sayu dan jatuh menunduk. Tidak berani menatap apa dan siapapun. Selama itu, Mama pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman. Juna bergeser ke tempat duduk Mama tadi.

"Kai, lo baik- baik saja di sini. Jangan khawatir." Juna tersenyum simpul.

Namun, ketenangan seperti yang Juna janjikan tidak benar- benar terwujud. Dari arah pintu utama, suara teriakan yang berat menggema nyaring. Juna segera berdiri, sementara Mama menyusul dengan tergesa- gesa. Oleh karena hanya ada Juna sebagai laki- laki di sana, maka ia yang melangkah maju dan mencari tahu siapa yang telah membuat keributan di rumahnya.

Baru beberapa langkah, Juna berhenti tatkala matanya menangkap dua wajah tak asing ini. Bapak dan Ibu Zuchman, datang dengan rahang mengeras dan emosi yang membuncah.

Juna segera memberi kode untuk sang Mama agar selalu bersama Nakaisha.

"Ada apa?" tanya Juna tenang.

Tingkah orang- orang hebat ini memang tidak dapat dipercaya. Tanpa perlu menjawab pertanyaan sang pemilik rumah, Pak Zuchman maju dan menarik lengan kurus Nakaisha kuat. Dipaksa mengikutinya.

"Ayo! Jangan menyusahkan kamu!" bentaknya.

Di saat itu, Juna mengkhawatirkan dua orang sekaligus. Nakaisha, dan juga sang Mama.

Namun tanpa Juna duga, sang Mama justru memukul wajah Pak Zuchman dengan kepalan tangannya. Kuat, sampai Pak Zuchman terdorong beberapa langkah ke belakang. Tak lama, sebuah cairan merah kental mengalir dari salah satu hidungnya.

"Beraninya kamu," gerak Pak Zuchman.

"Ada apa ini?" Semua orang menoleh pada suara itu.

"Pa!" panggil Juna.

Ya, itu sang Papa yang datang bersama Jeva. Melihat situasi yang tidak beres, juga tangisan Nakaisha yang terdengar memilukan, Papa segera menarik Jeva masuk ke belakang tubuhnya. Tatapan Papa tak kalah menusuk.

"Ada keperluan apa, Pak Zuchman?" tanya Papa.

"Anak Anda menculik putri saya! Dan istri Anda ini, telah memukuli saya!" ujar Pak Zuchman yang memegangi hidungnya.

Pengakuan palsu itu segera Juna bantah. "Bohong! Kami punya CCTV kalau Anda mau diperlihatkan. Anda duluan yang memaksa Nakaisha!"

"Nakaisha putri saya!" balas Pak Zuchman tak kalah.

"Anda memperlakukannya dengan kasar!"

"Saya berhak!"

"Berhak?" Juna tidak percaya bahwa Pak Zuchman bisa berperilaku seburuk ini bahkan pada putri kandungnya sendiri.

"Ayo ikut, Kai!" Pak Zuchman kembali menarik lengan Nakaisha, yang ada dalam pelukan dan perlindungan Mama.

"HEI!" Papa yang bertindak. Ia segera berlari mendekati Mama dan Nakaisha. Mendorong dada pria tua itu hingga terjatuh. "Anda menyentuh istri saya!" kata Papa geram.

Kepalan tangan Juna menguat, sampai kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Juna tidak peduli. Matanya bergerak tajam, mencari benda yang bisa ia hantamkan pada sosok tua durhaka ini.

Pak Zuchman seolah mengerti dengan tindak- tanduk Juna itu.

"Ja-jangan macam- macam kamu!" ancamnya, penuh gemetar. "Saya bisa penjarakan kamu!"

"SAYA LEBIH BISA PENJARAKAN ANDA YANG SUDAH MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAP NAKAISHA!" Juna menunjuk- nunjuk wajah Pak Zuchman. "Saya bisa membuat Nakaisha memberikan kesaksian. Saya bisa menunjukkan bukti CCTV."

Seolah tak mau dipojokkan, Pak Zuchman kembali bersuara, "Saya bisa laporkan kamu karena sudah menyerang saya di rumah saya sendiri."

"Siapa yang akan Anda jadikan saksi?" Nada bicara Juna, hingga ke ekspresi wajahnya berubah sinis. "Simpanan Anda itu?"

Wajah Bapak dan Ibu Zuchman kompak berubah pucat.

Melihatnya, Juna menyeringai. "Silakan pergi."

Pak Zuchman mendongak. Di belakang Juna, Nakaisha ada di dalam penjagaan pasangan suami istri rumah itu. Melihat pada mata Juna, Pak Zuchman merasa akan mati jika ia bicara sekali lagi.

Maka, ia pun segera berbalik dan menarik Bu Zuchman pergi.

"Tunggu dulu," tahan Juna. Ketika dua orang itu menoleh, Juna melanjutkan, "Sekarang, kalian bisa bersenang- senang dengan simpanan masing- masing. Asal jangan pernah mengganggu Nakaisha."

Bapak dan Ibu Zuchman akhirnya benar- benar pergi dengan perasaan malu.

Perlu teman- teman ingat, bahwa bagaimana pun dunia memperlakukan kalian, ada segelintir orang yang tetap menyayangi kalian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perlu teman- teman ingat, bahwa bagaimana pun dunia memperlakukan kalian, ada segelintir orang yang tetap menyayangi kalian. Jangan patah terlalu patah, ya.

Kalian bisa jadi berada di posisi Nakaisha. Lahir dalam keluarga yang buruk, tapi akhirnya bertemu keluarga lain yang jauh lebih tahu bagaimana cara memperlakukan dirinya.

Peluk sayang🤗

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang