| Bukan |

28 9 0
                                        

Ruang udara panas, mencekat kerongkongan. Juna telah menyesal karena rasa penasarannya yang terlalu berlebihan, mengganggu privasi Nakaisha. Seharusnya, Juna tidak pernah mempertanyakan alasan atau apa pun mengenai gadis itu. Juna melewati batasan.

"Kai ... maaf."

Gurat wajah Nakaisha tandus lagi. Iris hijau itu redup, binarnya hilang. Tiba- tiba saja. Juna kurang bisa menerima perubahan yang terlalu cepat, tapi Nakaisha sangat fasih melakukannya.

Sebentar, ia menjelma antusias. Lalu, tandus. Juna tidak punya kesempatan untuk benar-benar mendalami soal dirinya. Padahal, Juna tertarik.

Menghela napas, Nakaisha menatap Juna penuh. "Sulit ya berbohong sama lo."

Kening Juna mengerut. "Maksudnya?"

"Gue gak pernah punya alasan."

"Untuk?" tanya Juna ragu.

"Berubah," katanya cepat, terdiam beberapa saat. "Jadi, gue tetap sama. Seperti awal ketemu."

Teka-teki lagi. Juna putus asa, ia tidak mengerti apa pun. Kepintarannya dirasa percuma dalam kondisi seperti ini. Namun, Juna berhasil menangkap satu hal paling jelas dari ucapan Nakaisha. Gadis itu tidak pernah berubah.

Lalu, dua hari ini?

"Lo berbohong ... maksudnya, berbeda sejak kemarin, itu untuk apa?" Kali ini saja, Juna ingin ia benar- benar punya jawaban untuk setiap pertanyaan yang tercipta karena Nakaisha, dengan segala rahasianya.

"Untuk gue sendiri." Jawaban itu tidak punya arah. Semakin menyulitkan. "Tapi lo bukan orang yang tepat untuk dibohongi. Lo tahu."

"Kenapa gue?" Nadanya naik setingkat, lebih keras, menuntut. Samar- samar, terdengar ada yang patah di dalam Juna.

Mungkin, itu hatinya yang baru akan berlabuh, rupanya pada dermaga yang salah. Patah.

Nakaisha memalingkan wajah. "Karena lo serba ingin tahu. Penguntit," sindirnya sarkas.

Hati dan perasaan Juna hancur lebih parah. Perihnya tidak bisa ditahan, itu bergerilya sampai mempengaruhi ketenangan garis wajahnya. Alis Juna beradu, dahi berkerut, bibirnya mengatup rapat- rapat.

Jadi, Juna hanya dipermainkan.

Selanjutnya, Juna bungkam. Angin tetap berembus perlahan, tidak tahu bahwa Juna benci pada hal- hal lain yang berkaitan dengan Nakaisha. Sejak kemarin, embusan angin menyemarakkan goyangan rambut Nakaisha, ia jadi cantik. Kini, Juna ingin wajah itu pergi jauh- jauh. Bersama segala tentangnya.

Juna tidak akan peduli lagi.

Sama tidak nyaman, Nakaisha segera berdiri dan siap meninggalkan balkon. Juna tahu, tapi ia inginnya seolah tak tahu. Baru saja Nakaisha melewati samping kanan Juna, sebuah suara dari arah bawah membuatnya berhenti.

Juna agak menoleh, memastikan bahwa Nakaisha benar- benar diam dan tak bergerak.

Yang ada di bawah, di pekarangan rumahnya, membikin Nakaisha membeku. Itu sang ayah, datang bersama perempuan muda lagi, bergelayut mesra lagi. Suara mereka yang mendayu- dayu saling bersahutan. Padahal, sekarang masih siang, dan para tetangga bisa saja melihatnya.

Seperti detik ini, Juna terhentak menyaksikan apa yang juga Nakaisha saksikan.

"Kai, itu bokap lo," cetus Juna, menganga. Sangking terkejutnya, ia sampai tidak mengedip sekali pun. Tak mau meninggalkan bahkan sedetik dari pemandangan di bawah itu.

Bapak Zuchman dan perempuan muda, yang bukan ibunya Nakaisha.

"Jangan kasih tahu siapapun," suara Nakaisha. Juna menatapnya. "Diam, dan jangan ikut campur."

Juna semakin tidak percaya akan apa yang gadis ini katakan.

Juna semakin tidak percaya akan apa yang gadis ini katakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada .... apa?

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang