| Bisik Tawa |

150 26 2
                                        

Usia enam belas tahun sangat berarti untuk Jeva. Masih ada sebelas bulan lagi untuk ia capai angka itu. Namun, semangatnya yang sering berlebih membuat Jeva sudah ribut sejak sekarang.

Ia baru menyelesaikan setengah hari ospek pertamanya di SMA. Jeva meluruskan kaki, setelah tadi bergabung dengan lingkar duduk teman- teman satu kelompoknya. Tidak ada bangku di area lapangan utama, tempat tanaman yang terbuat dari batu bata berlapis semen menjadi pilihan untuk diduduki.

Di kanan kiri Jeva, ada beberapa anak yang sama- sama tengah mengistirahatkan diri.

"Hei, syut!" Jeva mengetukkan telunjuk di pundak seorang anak laki- laki dan sukses menarik perhatian si empunya.

"Umur lo berapa?" tanya Jeva tersenyum lebar. Alisnya naik turun lucu.

Si anak laki- laki memandangi Jeva heran. "Lima belas," jawabnya.

"Sama!" Jeva berseru sesaat hingga mengagetkan beberapa orang di dekatnya. "Tahun depan, gue enam belas. Lo juga, kan?" Keantusiasan Jeva itu dibalas anggukan terpatah oleh si anak laki- laki.

"Lo tahu?" Jeva mendekatkan diri, mencoba tidak peduli pada tatapan- tatapan bingung teman satu kelompoknya yang lain. "Jadi enam belas tahun itu berarti udah masuk fase remaja tingkat atas. Artinya, lo bisa ngelakuin apa yang dilarang sewaktu umur lo masih di bawah enam belas. Kayak, gue dilarang pacaran sama orang tua gue karena dikira masih kecil. Tapi nanti di usia enam belas, gue bisa bilang kalau gue udah gede dan dibolehin pacaran."

"Gue udah pacaran sejak tiga belas tahun, btw," tanggap si anak laki- laki, yang kontan membikin mata Jeva membelalak.

"H .... hah?"

Anak laki-laki itu lantas mengangkat bahu. Ia berdiri dan meninggalkan Jeva yang bungkam dengan tubuh mematung.

"Eh .... WOI! GIMANA CARANYA BISA PACARAN DI UMUR MASIH BOCIL?!" teriak Jeva, pada tubuh yang kini bahkan tak lagi mampu dijangkau.

Bagaimana bisa begitu? Orang tua Jeva bahkan melarangnya memiliki kekasih hingga usianya memasuki enam belas tahun. Kakak Jeva juga diberi peraturan yang sama. Jeva tidak habis pikir dengan peraturan keluarga orang lain.

Kehilangan teman pendengar segala ocehannya, Jeva beralih ke sisi kiri. Senyumnya hadir lagi, merekah ketika menemukan gadis berambut panjang tergerai itu.

"Halo." Jeva menyapa. Dia tahu mengetahui beberapa batasan. Teruntuk seorang gadis, bahasa yang ia gunakan biasanya jauh lebih lembut dan pelan.

Karena suara yang sangat dekat, gadis manis itu menolehkan kepala ke kanan. Mata kecilnya terlihat membulat sebab Jeva menyuguhinya sebuah senyuman lebar, memamerkan tatanan gigi yang rapi.

"Gue Jeva," lontar Jeva. Pada anak laki- laki, ia tidak perlu bersusah- susah memperkenalkan diri. Pengecualian untuk anak perempuan.

Senyum gadis itu tertahan. "Tanpa lo kasih tahu pun, satu sekolah ini tahu nama lo," ungkapnya.

"Heh? Masa?" Jeva mencebikkan bibir, alisnya bertaut. "Gak tahu, tuh."

Sejak kehadirannya, Jeva memang mudah dikenali lewat parasnya yang tampan rupawan. Langka di sekolah sebesar dengan ratusan peserta didik ini. Selain itu, perangainya yang aktif dan suka bicara, Jeva jadi lebih menonjol.

"Rainey," kata si gadis, kini membiarkan senyumannya tertanam. "Nama gue Rainey."

"Oke, Rainey." Jeva menggeser tubuhnya, merapat pada Rainey. "Berapa umur lo?"

"Enam belas."

"Sa-H .... hah? Enam belas?" Dahi Jeva mengerut kaget.

Rainey mengangguk, sedetik kemudian ia tertawa kecil. "Respons lo. Iya enam belas. Kenapa?"

Di mata Jeva, gadis itu bisa saja lebih muda darinya.

Mendadak saja, seluruh rentet kalimat di otak Jeva benar- benar tertahan di ujung lidah. Akhirnya hilang dibawa angin. Entahlah, ia jadi tidak punya minat mengoceh apa- apa lagi.

Rainey memandanginya. "Kenapa? Mau ngasih tahu kalau umur enam belas itu .... waw?"

Rainey banyak tertawa di awal pembicaraan mereka. Jeva lebih memilih menatapnya tanpa ingin menyela.

"Iya, sih. Umur enam belas tahun itu, semuanya berubah. Pikiran, hubungan, pertemanan. Gue setuju, sih, sama lo. Enam belas itu .... waw." Kemudian, Rainey tertawa lagi.

Jeva merasa ia telah menemukan sesuatu.

Tinggalkan jejak, teman- teman tersayaaaang, hehe

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tinggalkan jejak, teman- teman tersayaaaang, hehe.

Beberapa chapter ke depan mungkin bakalan ringan, ya. Jadi belum masuk konflik yang menguras tenaga banget. Tapi, akan tetap diselingi adegan- adegan penuh teka- teki.

So, semoga betah.

instagram | seirasjiwa

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang