| Jalan |

39 11 0
                                        

Tiga hari berlalu, Duwi bekerja dengan derai pertanyaan soal keberadaan Jeno.

Aneh, tidak penting. Duwi sendiri heran kenapa ia harus sampai memikirkan Jeno, padahal ada atau tidaknya laki-laki itu tidak berpengaruh apa pun pada dirinya. Lama kelamaan, Duwi merasa pening sendiri.

Ia mengelap seluruh permukaan meja bundar kayu itu dengan gerakan cepat. Kemudian, beralih pada lantai di bagian kanan kedai untuk disapu. Beberapa menit selanjutnya, semua pekerjaan usai.

Duwi kembali pada pemikirannya yang kosong soal Jeno.

Mungkin benar kata orang- orang yang mengenal Jeno. Laki-laki itu tidak peduli pada dunia sekitar. Pada kuliah, pada lingkar sosial, pada apa saja. Namun, karena ia seorang putra tunggal dari publik figur terkenal, maka ketidakhadirannya tetap jadi desas- desus heboh.

Terlalu renggang. Tidak ada hubungannya dengan Duwi.

Selesai berpamitan pada pemilik kedai—seorang pria berumur setengah abad yang baik hati, juga seluruh pelayan yang masih ada, Duwi mendorong pintu kedai sambil memperbaiki tali tasnya yang agak miring. Sesaat, atensi Duwi jatuh penuh pada tali tas. Ketika ia memandang ke depan lagi, tubuhnya kontan terhenyak karena sosok berbaju hitam, ditambah topi juga masker putih itu.

Duwi membelalak. Alarm di kepalanya berbunyi, tanda waspada.

"Gue Jeno," kata sosok itu, cepat- cepat mengklarifikasi sebelum Duwi melarikan diri.

Suaranya tidak asing. Lekat, meski jarang Duwi dengar.

"Gue Jeno."

Suara yang sama. Duwi mengerjapkan mata. Menelaah lebih pada mata yang turut memandangnya itu. Khas. Pertama kali melihat, bentuk mata Jeno yang kecil—sipit, lebih tepatnya— menjadi ciri khas yang memudahkan seseorang dalam mengenalinya. Dan, ya. Duwi berhasil yakin begitu melihat mata juga alis pria ini.

"Jeno?" Duwi bersuara pelan.

"Temenin gue, mau, gak?"

Lima belas menit selanjutnya, Duwi mengiringi langkah Jeno di trotoar jalan raya.

Mengambil rute agak jauh untuk sampai di rumah mungkin tidak masalah, pikir Duwi. Jadi, ia bersedia menemani Jeno, yang ketika ditanya akan kemana, selalu laki- laki itu jawab tidak ada.

Jeno seperti tak tahu tujuannya sendiri.

Ditelan rikuh, suara mesin mobil dan motor yang lewat, bising- bising khas kota, membikin Duwi menggigit bibir tak nyaman. Ia menoleh sedikit. Jeno menundukkan kepala. Topi menutup dahi, masker menutup sampai ke bawah mata. Melihatnya membuat sebuah pertanyaan muncul di benak Duwi.

"Lo kenapa pake masker?"

Jeno menoleh dengan agak tersentak. Barangkali, ia sedang tenggelam dalam pemikirannya ketika suara Duwi menguar.

"Hm, sakit," balas Jeno singkat.

"Oh."

Mereka berdua diam lagi.

Tidak jelas kala Jeno meminta Duwi menemaninya, tapi hingga detik ini tak ada pembicaraan yang keluar dari mulutnya. Jeno bingung, debaran jantungnya cepat. Sebegitu sepi dunianya, sampai Jeno meminta gadis asing ini untuk bersamanya, sebentar saja.

"Lo beruntung bisa kuliah," cetus Duwi mendadak. Arah pembicaraannya tak tertebak oleh Jeno. Ia menatap.

"Kenapa lo malah suka bolos?" lanjut Duwi, keningnya berkerut.

Jeno suka Duwi di bawah sinar rembulan. Dia indah dengan caranya. Menenangkan.

"Lo harus tahu, ada banyak orang gak seberuntung lo. Contoh? Gue." Sekejap saja, raut wajah Duwi berubah putus asa. Tidak berkeinginan menyela, Jeno diam mendengarkannya saja.

"Gue lulus SMA, itu aja udah bersyukur banget. Mau kuliah? Boro- boro. Nangis darah pun kayaknya gak bisa. Gue gak pinter, gak kaya." Jeda ketika keduanya harus menyebrangi jalanan. Tidak berpegangan, Jeno dan Duwi berjalan masing-masing.

Sampai, Duwi kembali melanjutkan. "Makanya gue cari kerja. Waktu lo numpahin minuman di kemeja gue, saat itu gue lagi down banget karena ditolak sana- sini. Makanya, sensi. Marah-marah ke elo." Ia terkekeh mengingat saat- saat itu.

Di balik masker yang ia kenakan, Jeno ikut tersenyum kecil.

"Makanya, Jen," Intonasi suara serak basah Duwi semakin serius seiring pembicaraannya yang memberat. "lo harus berubah. Lo beruntung banget bisa kuliah. Bahkan, katanya lo bisa aja lulus bahkan tanpa nilai mencukupi, karena nyokap lo aktris terkenal, ya?"

Apa saja, kecuali perihal itu. Jeno akan mendengarkan tanpa lelah, selama yang Duwi oceh bukan mengenai wanita yang sangsi untuk Jeno sebut sebagai seorang ibu.

 Jeno akan mendengarkan tanpa lelah, selama yang Duwi oceh bukan mengenai wanita yang sangsi untuk Jeno sebut sebagai seorang ibu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tim Jeno-Duwi?

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang