| Pamit |

138 8 0
                                        

Ketenangan pembukaan semester baru berubah heboh. Pasalnya, ada berita mengejutkan yang tersebar ke seluruh penjuru sekolah dengan sangat cepat.

Tidak diketahui bagaimana kejadiannya, tetapi kasus perbuatan asusila di lingkungan sekolah oleh siswa di sana membuat seluruh guru, waka kurikulum, hingga kepala sekolah pusing bukan main. Sebisa mungkin, mereka menahan agar berita ini tidak keluar dari sekolah. Seluruh siswa dilarang mengungkit permasalahan ini. Namun, desas- desusnya masih saja hangat.

Awalnya, Jeva tidak peduli. Hanya sekadar tahu. Hingga kemudian, nama Rainey disebut- sebut bersama Yonash.

Jeva tidak bisa menahan kebingungannya. Segera ia capai ruang kantor kepala sekolah. Ada banyak siswa di sana, mereka mencoba mengintip di cela jendela transparan. Jeva mencoba hal yang sama, dan menyaksikan Yonash menunduk di depan meja kebesaran kepala sekolah. Disidang.

Menelisik lebih teliti, Jeva menemukan Rainey duduk di salah satu kursi, di antara beberapa siswi lain. Rainey tampak menunduk dalam, sesekali bahunya diusap oleh salah seorang yang Jeva ingat sebagai guru konseling. Jantung Jeva berdentum melihatnya. Ia benci pikirannya, tetapi nama Rainey disebut- sebut sebagai korban yang hampir menjadi target tindak asusila Yonash.

Beberapa menit kemudian, seluruh keramaian di luar kantor dibubarkan. Siswa- siswa diajak masuk ke dalam kelas, kegiatan belajar mengajar akan dimulai.

Jeva tidak bisa meninggalkan Rainey. Ia masih penuh kebingungan, juga secuil rasa takut. Membayangkan apa yang Yonash bisa lakukan pada Rainey hanya untuk memuaskan napsu bejatnya, memantik api di dalam diri Jeva.

Berakhir di kelas justru membuat Jeva tidak nyaman. Ia terus bergerak gelisah di kursi, tidak fokus pada pengajar, pada apa yang diterangkan. Sampai pengajar itu keluar lebih cepat daripada jam yang terjadwal, Jeva berniat keluar dan mencari tahu yang terjadi selanjutnya di kantor kepala sekolah.

"Lo yakin Rainey udah digrepe- grepe sama Yonash?"

"Tadi gue dengar dari guru konseling, katanya enggak. Rainey itu hampir! Nah, yang sudah sampai digrepe- grepe itu siswi lainnya. Atas dasar suka sama suka gitu. Kalau Rainey, dia teriak pas Yonash mulai lancang."

"Terus, nasib mereka?"

"Langsung dikeluarin kayaknya. Kecuali Rainey, sih. Dia'kan korban."

Terkadang, Jeva tak acuh pada sekumpulan anak perempuan kelasnya yang hobi sekali membentuk kelompok diskusi, membahas kehidupan orang lain. Bahasa paling mudah, gibah. Namun, kali ini Jeva bersyukur. Karena berkat mereka, kebingungan Jeva menemukan setitik tanda cerah.

Jeva memanggil ketua kelas, lalu pamit izin ke kamar mandi.

Ketika sudah di tangga menuju koridor kelas sebelas, Jeva berhenti karena seseorang berjalan tepat di arah berlawanannya. Jeva belum melihat siapa, tetapi dari bentuk kakinya yang kecil, Jeva tahu seseorang itu perempuan.

"Je."

Jeva tersentak.

Detik- detik selanjutnya penuh debar. Tatap Jeva dan Rainey menyapa, sudah cukup lama saling enggan. Gadis itu yang terlebih dahulu tersenyum rikuh dan menaiki dua tangga. Sampai di satu tangga di bawah Jeva. Ia mendongak.

Setelah sekian lama saling diam, Rainey tiba- tiba terisak halus.

"Je ... maaf." Jeva memandanginya dengan dahi mengerut. "Maaf karena gua gak percaya sama lo," lirihnya, menundukkan kepala.

"Seharusnya gue gak pernah meragukan feeling seorang sahabat. Je, maaf." Tepat ia menyelesaikan kalimatnya, Rainey menangis kencang, layaknya anak kecil.

Jeva sendiri meremat tangannya. Turut hancur atas penyesalan yang kini Rainey tuangkan.

"Gak apa. Gue sudah maafkan. Lo bisa lebih hati- hati lain kali," balas Jeva.

Intonasi bicara Jeva tak lagi sama. Rainey berhenti menangis karenanya. Dulu, Jeva penuh semangat. Segala soal Rainey adalah kobaran antusias. Kini, anak laki- laki itu seperti orang asing.

Ini salahnya. Rainey kembali menangis pedih.

"Sekarang lo mau kemana?" Jeva bertanya, membuat Rainey mendongak dengan wajah memerah dan basah. "Gue ... bakal pindah sekolah."

"Ha?"

"Iya. Gue trauma, Je, di sini." Rainey sesegukan.

"Maka dari itu, gue mau temui lo untuk yang terakhir kalinya. Gue mau bilang maaf, terima kasih, sampai jumpa. Dan, gue sayang lo, Je," aku Rainey, tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Jeva menatap mata Rainey yang bulat, lekat dan dalam. Meneduhkan pandangannya dan memberi izin pada Rainey untuk kembali tahu bagaimana rasanya disayangi oleh Jeva. Mereka tak lagi sama. Mereka sudah jadi dua orang yang berdiri di antara ribuan jarak.

Tanpa diduga, Jeva menarik tubuh Rainey. Jatuh dalam dekapannya, meletakkan kepala gadis itu di dadanya.

"Jaga diri lo baik- baik, Ney. Semoga sukses di sekolah baru," cetus Jeva lembut, seraya mengusap rambut Rainey pelan.

Demi Tuhan, Rainey menyesal karena telah menyia- nyiakan laki- laki sebaik Jeva.

Demi Tuhan, Rainey menyesal karena telah menyia- nyiakan laki- laki sebaik Jeva

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jeva tetap menyayangi sebagai seseorang yang pernah ada dalam hidupnya. Tapi kalau kepercayaan dan pedulinya diabaikan, Jeva memilih untuk tak lagi memberi kesempatan.

Dia sudah dewasa.

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang