| Usik |

63 16 1
                                        

Jeva tidak sempat menebak alasan Rainey tidak ada di kelas sepagi ini. Biasanya, ketika Jeva baru saja memasuki kelas, akan ada senyum gadis itu yang masih segar dan lebar. Atau, seruannya memanggil nama Jeva. Keantusiasan yang jarang Jeva lihat Rainey berikan pada laki-laki lain.

Dilihat dari jam di pergelangan tangannya, masih ada lima belas menit menuju bel masuk. Berpikir Rainey belum datang adalah kesalahan besar, sebab tas gadis itu sudah duduk manis di kursi. Hanya pemiliknya yang hingga detik ini tidak diketahui keberadaannya.

"Lihat Rainey, gak?" Jeva akhirnya bertanya pada sekumpulan anak perempuan, yang paginya selalu diisi dengan diskusi mengenai kejelekan orang lain.

"Oh, gue lihat dia keluar kelas sejak dateng tadi. Gak tahu kemana," balas seorang perempuan dengan bibirnya yang merah sekali, sebab perona yang tidak ia usap rata.

"Kantin mungkin, Je," celetuk yang lain.

Jeva mendengus.

Setelah mengangguk dan sekumpulan anak perempuan itu kembali larut dalam gosip hangat terbaru, Jeva berjalan menuju luar. Di selasar depan kelas, Jeva menggaruk kepalanya. Bingung akan mencari Rainey kemana.

Kantin sepertinya bukan tempat yang akan Rainey datangi pagi- pagi. Gadis itu tidak terbiasa sarapan.

Tapi, tak ada salah juga mencoba pergi ke sana. Pikir Jeva, Rainey bisa saja menemani seseorang ke kantin, dan diajak duduk dulu sebelum bel masuk berbunyi.

Dengan dugaan itu, Jeva segera melesat ke kantin.

Belum jauh langkah Jeva menderap, tetapi sebuah suara tawa yang khas menyapa telinganya, membikin tubuhnya kontan berhenti tepat di depan pintu kelas sebelah.

Selain tawanya yang tak asing, bayangan yang tampak di ekor mata Jeva pun membuatnya yakin akan pemilik suara itu.

Maka secepat mungkin, Jeva memutar kepala. Menelisik tepat ke tubuh mungil di dalam kelas sepuluh sosial satu, yang berdiri di dekat meja guru. Meski hanya punggung, serta rambut hitam bergelombang gadis itu yang terlihat, tetapi Jeva sudah sangat yakin bahwa itu Rainey.

Aneh kala gadis pemalu seperti Rainey, justru tampak tengah tertawa bersama seorang laki- laki dari kelas berbeda, yang sama sekali tak Jeva kenali.

Selama ini, hanya Jeva tempat Rainey tertawa sekencang itu. Sejauh ini, hanya Jeva yang bisa membuat Rainey tertawa lepas seperti itu.

Siapa laki- laki yang berhasil mengganti kedudukan Jeva di depan Rainey?

Ia mendengus tanpa sadar.

Jeva selalu merasa orang- orang terdekat adalah miliknya. Dalam artian, Jeva tidak suka miliknya diusik, apalagi ditarik darinya. Itu sebabnya, kini ia sudah mengepal kedua tangan. Tak sabar untuk menarik Rainey pergi dari tempat ini.

Seharusnya, Rainey tidak perlu tertawa untuk laki- laki asing itu.

Pada akhirnya, Jeva kalah cepat karena Rainey sudah lebih dulu membalikkan badan. Tatap mereka bertemu. Beberapa saat, alis Rainey berkerut karena melihat Jeva berdiri diam di tengah koridor.

"Je?" Rainey memanggil seraya mendekat pada Jeva.

Jeva masih mematung.

"Ngapain?" tanya Rainey.

"Gue yang seharusnya tanya," sela Jeva cepat. Sorotnya tajam pada laki- laki yang kini memandangi Rainey juga Jeva dengan dahi mengernyit. Jeva kembali menaruh atensi penuh pada Rainey. "Lo ngapain ke sini?"

"Hm, gak apa- apa."

"Itu tandanya ada apa- apa."

Rainey berdecak. "Sudah, ah. Ayo ke kelas. Lo pasti nyariin gue, 'kan?"

Tidak nyaman karena Rainey terus menerus dipandangi oleh laki- laki itu, Jeva menarik lengan Rainey menuju selasar depan kelas mereka.

"Ney—" Jeva menghentikan kalimatnya yang akan kembali mengintograsi tatkala melihat sebuah benda berkilau melingkar di leher Rainey. Bandulnya jatuh di antara tulang selangka Rainey, berbentuk salah satu huruf.

"Y?" Dahi Jeva mengkerut, juga jantungnya yang berdegup kencang.

Rainey ikut menunduk pada hal yang telah menarik perhatian Jeva. "Oh, ini kalung pemberian Yonash," kata Rainey, sejurus senyuman lebarnya. Ia menatap Jeva polos. "Terlalu mencolok, ya? Iya, sih. Gue udah bilang sama Yonash kalau inisial begini terlalu kelihatan."

"Yonash siapa?" tuntut Jeva.

"Itu .... anak laki-laki yang barusan gue temui di kelasnya."

"Lo kenal dia sejak kapan?"

"Hm, memangnya kenapa?"

Sialnya, Jeva sudah keburu meradang. Bahkan sebelum ia sendiri mengerti mengapa perasaannya bisa semeledak ini, hanya karena tahu Rainey mendapat hadiah dari laki- laki lain.

 Bahkan sebelum ia sendiri mengerti mengapa perasaannya bisa semeledak ini, hanya karena tahu Rainey mendapat hadiah dari laki- laki lain

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Awas, Je, tikungan tajam.

Canda tajam.

Haiiii. Triple up, untuk kalian♡

instagram | seirasjiwa

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang