Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Sampai di rumah, amarah Juna masih tidak terbendung.
Luka- luka di wajah Nakaisha membuat dirinya berang. Gadis yang dianugrahi kecantikan paripurna itu harus menelan sakit sendirian, menjadi tempat segala kekesalan bermuara. Sampai detik ini, Juna merasa yakin bahwa keluarga Nakaisha tidak baik-baik saja. Nakaisha ditekan dalam bayang rasa takut yang menjelma ironi.
Terakhir kali Juna mampu meraih Nakaisha, ketika Nakaisha tersinggung dan memilih menghujam Juna dengan pemilihan katanya yang tidak halus. Saat itu, Juna marah. Ia merasa dipermainkan, keberadaannya tak diinginkan. Lalu, pemandangan di bawah mereka sukses membuka mata Juna lebih lebar. Pak Zuchman, yang rupanya bermain hati dengan perempuan muda.
Paras Nakaisha yang cantik terlihat terluka sekali kala itu.
Nakaisha mungkin bisa tetap menahan raut wajahnya agar senantiasa datar. Namun, garis- garis wajahnya menahan pedih. Juna mengamati sampai ke bagian terdalam irisnya, ada selapis bening menetap di sana. Nakaisha rapuh.
Kemudian pagi tadi, Nakaisha terduduk di sisi jalan dengan luka- luka mengerikan itu di beberapa bagian wajahnya.
Juna akan menangis jika mengingatnya lagi.
Cukup. Ini akan jadi hari terakhir hati Nakaisha dilukai. Walaupun Juna bukan apa- apa dan siapa- siapa, tetapi melindungi seseorang yang jiwanya rapuh bisa berubah menjadi harus detik itu juga. Juna tak gentar. Dalam sekali tarikan, ia membuka pintu kamar dan segera melesat menuruni tangga. Juna bahkan tidak sempat memikirkan untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Terpenting menurutnya sekarang, menyelamatkan Nakaisha dari rumah penuh rasa sakit itu.
Tepat sasaran, mobil Pak Zuchman terparkir di pekarangan. Tanpa pikir panjang, Juna melangkah lebih jauh dan segera mendorong pintu yang tidak terkunci dari dalam.
Luar biasa. Pemandangan di depannya tidak jauh menjijikkan dari apa yang Juna lihat ketika di balkon bersama Nakaisha kemarin.
Juna langsung berkomentar sinis. "Oh, sedang bermain ya, Pak?"
Pak Zuchman yang terkejut, segera berdiri setelah memaksa perempuan muda itu melepaskan pelukan pada dirinya. Ia memelotot. "Apa- apaan kamu!" gertaknya.
"Saya kira Anda berpendidikan. Tapi Anda gak lebih dari orang yang menyengsarakan anak Anda sendiri," hardik Juna, suaranya tidak takut. Sama dengan wajah tampannya yang kini menguarkan aura dingin dan menusuk.
"Anak kurang ajar!" Pak Zuchman berdiri dan mendekat ke arah Juna dengan tergesa. "Siapa yang mengajarkan kamu bicara seperti itu? Pasti orang tua kamu, ya? Gak becus mendidik anak!"
"Hanya sesama orang tua yang bisa mengeja didikan orang tua lain. Anda gak pernah menjadi seorang Ayah bahkan untuk satu anak perempuan saja!"
"Beraninya kamu!" Tangan Pak Zuchman yang besar telah terangkat. Siap membuat laki-laki di hadapannya ini untuk diam.
Namun, suara pekikan Nakaisha dan disusul dorongan kuat di dada Pak Zuchman menggagalkan tujuan pertamanya.
"Jangan, Pa!" kata Nakaisha, napasnya terengah- engah.
Nakaisha berdiri tepat di depan Juna. Seolah, ia tameng laki-laki itu. Nakaisha terlihat berantakan. Dalam sekali pandang, Juna tahu bahu Nakaisha terguncang hebat. Ketakutan menguasai sekuat-kuatnya.
"Nakaisha," geram Pak Zuchman. "Beraninya kamu-"
"Papa bisa pukul Kai, tapi jangan pukul Juna!" seru Nakaisha, sudah menangis histeris. "Kai sudah biasa, Pa. Kai sudah baik-baik saja meski Papa dan Mama pukul. Tapi, jangan Juna." Gadis itu membungkuk, lama-lama terjatuh dengan lutut menyentuh lantai terlebih dahulu.
Tangisannya mengencang, tetapi tak bersuara. Tangis tanpa suara seakan menambah sesak di dalam dada. Pedihnya lebih hebat dari luka manapun.
Juna bersimpuh di belakang Nakaisha. Meremat kedua pundak gadis itu, memberinya kekuatan tak kasat.
Pertama kalinya, Juna melihat Nakaisha menangis. Dan itu disebabkan oleh ayah kandungnya sendiri.
Juna tidak akan memaafkan hal ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan pernah buat orang pendiam marah. Kalian bisa melihatnya dari Juna. Dia gak akan memberikan ampunan pada seseorang yang telah membuat gadisnya kesakitan. Siapa pun orang itu.