Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Tidak akan ada gunanya berdebat dengan orang macam Pak Zuchman. Juna segera membantu Nakaisha berdiri. Tubuh gadis itu benar-benar lunglai, hingga Juna harus sangat hati- hati ketika membuatnya berdiri. Selama itu, Pak Zuchman menatap mereka nyalang.
Tidak butuh banyak kata lagi, Juna memapah Nakaisha untuk berjalan keluar. Namun, hal itu tertahan ketika tangan kurus Nakaisha ditarik kasar oleh Pak Zuchman, hingga gadis itu terputar seratus delapan puluh derajat.
Kemudian, suara tamparan nyaring itu menggema ngilu sampai ke gendang telinga.
Juna menganga untuk apa yang telah Pak Zuchman lakukan.
"Berani kamu, ya!" teriak Pak Zuchman kasar, menyeret- nyeret Nakaisha tanpa belas kasih.
Murka. Juna lantas maju dan menyerang dada Pak Zuchman dengan kakinya yang kuat. Pria tua itu terpental, cekalannya pada Nakaisha terlepas. Pak Zuchman tampak merintih sakit. Beberapa lama, ia mencoba menarik napas, tetapi Juna tidak memberinya kesempatan.
Juna angkat kaca yang merupakan bagian terpisah dari meja tamu, lalu ia lempar ke arah Pak Zuchman dengan sekuat tenaga.
Segera sebelum kaca itu mengenainya, Pak Zuchman menggeser tubuh dengan tergopoh- gopoh. Pada akhirnya, kaca itu menghantam dinding di belakangnya dan kemudian pecah berkeping- keping.
Mata Juna berapi- api, menghunus setajam pedang.
Serangan tiba- tiba yang dilakukan Juna membuat Pak Zuchman merasakan sakit di dadanya. Matanya membesar, sarat kesulitan menarik napas. Ia juga sempat menatap Juna, yang auranya seperti akan segera mengantarkan Pak Zuchman ke pintu kematian.
Mengerikan.
Setelah memastikan Pak Zuchman tidak akan mampu berdiri lagi, karena ia masih sibuk mencari napas sembari meremat dadanya, Juna memapah Nakaisha lagi. Pelan-pelan tapi tepat membawanya sesegera mungkin keluar dari rumah itu.
Namun, mereka justru bertemu Bu Zuchman dengan seorang laki- laki muda.
Sudah sangat terlambat untuk Bu Zuchman menarik tangannya yang melingkar di lengan kekar laki- laki itu. Juna sudah melihat segalanya, dan ia tak ragu untuk meyakini bahwa Bu Zuchman juga melakukan hal yang sama menjijikannya dengan Pak Zuchman.
"Mau dibawa kemana Nakaisha?" Wanita itu bertanya. Pandangannya tak lepas dari kondisi Nakaisha yang kacau dan bergetar di dalam dekapan Juna.
Lewat tatapannya yang belum melunak, dan nada suara yang keras, Juna menjawab, "Pergi. Kemana pun di mana Nakaisha gak akan disakiti."
Bu Zuchman terlihat mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
Melirik sedikit pada laki-laki yang dibawa Bu Zuchman, Juna menarik satu sudut bibirnya ke atas. Tersenyum miring. "Saya mungkin benar, mungkin juga salah. Tapi melihat Anda sekarang, saya bisa meyakini satu hal."
"Apa itu?" tanya Bu Zuchman yang wajahnya mulai panik.
"Anda dan pria ini, tidak jauh berbeda dari pria berengsek dan selingkuhannya di dalam sana," tekan Juna, yang kemudian berjalan bersama Nakaisha melewati gerbang rumah itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah dipikir- pikir, penulis ini juga mau punya cowok macam Juna, si pelindung yang gak banyak bicara.
Duh, perolengan ini sungguh berat, ya.
Kalau kalian? Masih setia sama Jeno, Juna atau Jeva, nih?