| Sengaja |

79 18 0
                                        

Jeno jarang tidak mengikuti balap liar yang diadakan rutin setiap malam oleh geng kenamaan tempat ia bernaung. Selain karena memang gemar kebut- kebutan– sebab suara bisingnya mampu meredam lirihan parau yang keluar, tidak nyamannya rumah bagi Jeno juga menjadi alasan paling kuat ia memilih bergabung ke dalam geng ini dan seringkali mengikuti taruhan antargeng.

Namun malam ini, Jeno memilih absen dan menyerahkan tanggungjawab lomba pada rekannya yang lain.

Dari kafe tempat gengnya berkumpul, Jeno melaju ke tengah kota menggunakan motor kesayangannya. Melewati jalan raya, menerobos lampu merah dan diteriaki sebab menyelip secara tiba- tiba. Jeno menulikan pendengaran, fokus mengarahkan motornya ke suatu tempat yang bahkan asing Jeno dengar.

Dari informasi yang ia dapat, kedai Pak Thalib itu ada di pinggiran kota. Tidak besar, tidak dikenal luas, tetapi makanannya lumayan. Beruntung salah satu teman geng Jeno tahu soal tempat ini.

Sampai di depan kedai, yang rupanya tidak memiliki area parkir khusus, Jeno menghentikan motor.

Matanya menelisik keseluruhan depan kedai. Jeno kira, bangunannya berupa beton yang kokoh. Tetapi, tidak. Kedai tersusun oleh kayu- kayu maksih tanpa cat. Kesannya estetik juga sejuk.

Turun dan menaruh helm di atas motor, Jeno segera masuk ke dalam kedai yang pintunya terdapat papan tulisan 'buka'. Jeno punya terka- terka soal tempat ini, dilihat dari lokasi dan juga tingkat kepopulerannya yang tidak seperti kafe- kafe di tengah kota. Begitu melangkah masuk, matanya segera disuguhi desain yang klasik, temaram. Namun, tidak sama sekali mengecewakan.

Jeno menyukai ketenangan ini.

"Ah, selamat datang, Ka.." Sapaan formal Duwi menghilang di akhir, begitu ia melihat Jeno berdiri tepat di hadapannya. "Eh, lo lagi?"

Jeno dipeluk canggung. Atensinya bergulir pada alasan- alasan kedatangannya kemari. Jeno tidak lapar, punya kegiatan lain, tetapi kenapa ia tetap memutuskan mencari dan berkunjung ke kedai kecil ini?

Ia tidak yakin soal jawaban berikutnya. Apa Jeno kemari hanya karena ingin melihat Duwi, juga tempat gadis itu bekerja?

"Eh, ayo duduk," kata Duwi ramah. "Mau pesan apa?"

Tidak ada seragam khusus yang dikenakan Duwi, juga dua pegawai lainnya yang hilir mudik membersihkan meja sisa pengunjung. Malam ini, Duwi berbalut celana kulot denim, serta kaus putih lengan pendek dengan aksen tulisan di dada.

Jeno mengerjap karena titik pandangnya jatuh ke arah sana.

Menghindari tingkahnya yang semakin tidak terkendali karena rikuh, Jeno segera duduk di salah satu kursi.

"Buku menunya?" tanya Jeno. Di atas mejanya, benar- benar kosong akan apa pun.

Tidak tahu mengapa, Duwi tertawa kecil. "Di sini gak ada buku menu. Lo bisa lihat di atas sana." Jemari Duwi menunjuk papan berisi ragam makanan yang tersedia di kedai, menggantung di atas tempat kasir. "Lo lihat-lihat aja dulu. Kalau sudah punya keputusan, panggil gue."

"Engh.. nama lo?"

Kontan saja mereka teringat bahwa sejak awal pertemuan, tidak ada yang saling memberitahu soal nama.

Duwi tertawa lagi. "Rindu Wirdhana. Tapi gue lebih seneng dipanggil Duwi. Du–wi." Ia mengeja suku namanya.

"Gue Jeno," ucap Jeno. Detik selanjutnya, ia kaget mengapa memperkenalkan diri tanpa diminta.

Untungnya, Duwi tidak merasa janggal, juga tidak keberatan akan hal itu. "Gue tinggal, ya. Lo bisa panggil gue lagi nanti." Akhirnya, gadis itu berbalik dan melangkah.

Malam itu, entah kenapa, Duwi terlihat jauh lebih indah di antara suasana temaram dan sunyi yang menenangkan.

Malam itu, entah kenapa, Duwi terlihat jauh lebih indah di antara suasana temaram dan sunyi yang menenangkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Teruslah jatuh cinta. Jangan mundur.

Sekarang, kesadaran saja bagi yang mau menekan bintang. Tidak apa.

instagram | seirasjiwa

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang