Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Dinding ruang tamu penuh dengan bingkai foto keluarga Zuchman.
Pertama kalinya, Juna memasuki rumah itu lagi setelah kepemilikannya berpindah tangan. Rasanya, agak canggung. Juna datang bersama seluruh keluarganya. Langsung disambut ramah oleh pemilik rumah.
Seingat Juna, ia tidak menemukan potret- potret ini saat mengirim parcel pada Nakaisha kemarin.
Mungkin belum sempat dipasang, pikir Juna pada akhirnya.
Keluarga Juna diantar menuju ruang makan, di mana mejanya sudah diisi oleh berbagai masakan, juga kudapan yang menggugah selera. Setelah mengambil posisi duduk, Juna mengedarkan pandangannya.
Juna selalu penuh dengan tanda tanya. Kali ini, ia mempertanyakan keberadaan Nakaisha.
"Nakaisha mana ya, Bu?" Mama Juna bertanya pada Ibu Zuchman, seolah mewakili Juna.
"Ah, masih siap- siap, Bu," balas wanita itu tersenyum.
Juna sudah mendapatkan jawabannya.
Sejak awal, antara dua keluarga sudah menemukan berbagai topik pembicaraan. Larut dalam obrolan hangat. Pembahasan yang hanya dimengerti oleh ibu rumah tangga, dan soal bisnis oleh para kepala keluarga. Karena tidak ada teman seusia Jeva di dalam keluarga Zuchman, anak laki- laki itu jadi lebih banyak diam, menyantap kudapan tanpa peduli penuh pada sekitar.
Sementara itu, Juna masih belum menemukan tanda- tanda Nakaisha akan datang.
Juna menelan segelas air dingin dengan rakus. Sebentar, ia usap mulutnya yang basah. Tubuh Juna berdiri. Suara kaki kursi yang bergeser sempat menarik perhatian orang di meja makan.
"Maaf, saya mau ke kamar mandi," kata Juna sopan.
Pak Zuchman menunjuk ke satu arah. "Di sana, Nak."
Bibir Juna berucap terima kasih, lalu kakinya melesat ke tempat kamar mandi berada.
Tidak sulit menemukannya. Jujur saja, Juna tahu letak- letak ruangan di rumah ini. Pemilik sebelumnya sangat dekat dengan keluarga Juna. Karena itu, ia jadi sering berkunjung kemari, bersama Jeva juga.
Selesai dengan urusan di kamar mandi, Juna keluar dari sana tanpa lama. Berjalan menuju ruang makan, tanpa menduga langkahnya akan disejajarkan seseorang.
Lekas Juna menoleh dan mendapati Nakaisha ada di sisinya.
Berlebihan. Juna mengusap dadanya yang sempat berdebar kencang.
"Makan malamnya sudah dimulai?" Suara Nakaisha selalu terdengar datar, tak memiliki emosi tertentu. Tandus.
"Sudah," balas Juna seadanya.
Keduanya sampai bersamaan di ruang makan.
Nakaisha duduk di antara kedua orang tuanya. Juna mengambil posisi sendiri di sisi meja makan yang lebih pendek. Di hadapan keluarga Zuchman, ada orang tua dan juga adik Juna.
Makan malam itu berjalan khidmat.
"Oh iya, Nakaisha juga sudah menyiapkan makanan pencuci mulut, loh," tukas Bu Zuchman. Setiap ia mengukir senyum, selalu memperlihatkan susunan gigi rapinya.
"Oh ya? Kami boleh coba?" Mama Juna merespons dengan baik.
Iris hijau Nakaisha bergerak pada seluruh wajah, berhenti di Juna pada akhirnya. Ia mengangguk, lantas berdiri dan masuk ke dapur.
Nakaisha datang lagi dengan sebuah nampan berisi sepiring pie.
Pie itu diletakkan di atas meja. Baunya yang harum segera menggelitiki hidung. Nakaisha sudah memotong- motongnya menjadi beberapa bagian, cukup untuk semua orang yang ada.
"Silakan dinikmati," ucap Nakaisha.
Jeva yang pertama kali mengambil pie apel itu.
"Enak gak, Dek?" Papa Juna bertanya begitu melihat kelahapan Jeva mengunyah gigitan pertamanya.
Kepala Jeva mengangguk kuat. "Enyak, Pa!" sahutnya.
Pie apel buatan Nakaisha sudah ada dipegangan masing- masing. Dicicipi, kemudian dipuji sebab rasanya yang menarik.
Juna paling terakhir mencobanya.
Saat rasa dari kudapan itu menyentuh lidahnya, mata Juna segera membesar. Pelan- pelan muncul binar yang terang.
"Ini enak banget," cetus Juna. Ia menatap Nakaisha, lekat. "Serius. Ini pie apel paling enak menurut gue."
Karena kenikmatan yang seolah membuat Juna lupa sekitar, laki- laki itu jadi tidak sempat meluangkan waktu. Untuk sekadar melihat bahwa Nakaisha menarik sedikit dari kedua ujung bibirnya yang senantiasa lurus, ke arah atas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tadi malam lihat perankingan LINDRAKA nambah, wkwk, jadi seneng.
So, ketemu lagi dengan salah satu Lindraka kita. Jangan lupa berikan cinta padanya. Danke🖐