| Sakit |

207 11 0
                                        

Selesai membereskan kamar dan memastikan Danu tidak memiliki luka fatal, Duwi meninggalkan ayahnya sendiri di kamar untuk beristirahat. Sepiring nasi juga Duwi dekatkan, kalau-kalau Danu ingin makan. Setelahnya, Duwi menuju ruang tamu, yang merangkap ruang televisi.

Jeno ada di sana.

Barangkali lupa, Jeno membiarkan masker dan topi terlepas dari dirinya. Kepala menunduk, menatap ujung sepatunya yang tak lagi bersih.

Ia terpaksa tetap di sana karena Duwi yang bersikeras.

Begitu datang, Duwi membawa segelas air teh dan menaruhnya di atas meja. Tak lama, Duwi duduk di sebelah Jeno. Terdengar menghela napas.

"Diminum," tawar Duwi.

"Gak perlu," sahut Jeno cepat.

Duwi tidak berkeinginan memaksa.

"Maaf, gue udah bawa- bawa lo ke masalah keluarga gue." Gadis yang kini menguncir rambutnya itu terdengar tulus. Pandangannya ada di lantai, mungkin satu titik dengan fokus Jeno. "Gue gak tahu dia akan ke sini. Udah lama, sejak terakhir kali."

Jeno tidak tahu cara bercerita, dia terbiasa memendam permasalahan hingga perasaannya sendiri. Bersama Duwi, Jeno menjadi pendengar yang baik. Ia tidak hanya sekadar ada, tetapi memasang telinga dan mencerna cerita tanpa cela.

Teringat cara Jeno melindunginya, Duwi mengangkat kepala dan menatap Jeno lekat dari samping.

Mancung hidung Jeno terlihat sangat jelas. Duwi sampai salah fokus.

"Makasih, Jen. Makasih. Gue gak tahu harus apa, balas kebaikan lo gimana. Gue terlalu takut bahkan untuk membayangkan nanti dia bisa aja dateng lagi." Suara Duwi  tercekat. Dicky dalam bentuk imajiner di kepalanya saja sudah cukup mencekik leher Duwi. Menyendatkan napasnya, menambah kinerja degup jantungnya lebih keras.

Rasanya bahkan sudah sakit tanpa perlu hadir raga Dicky yang sesungguhnya.

Tangan Duwi naik, berhenti di pundak kanan Jeno. "Tapi hari ini lo ada, dan gue jadi lebih berani. Sumpah, sih. Energi lo ngalir ke gue," kekehnya pelan.

Jeno kontan menoleh begitu mendengar kekehan gadis itu. Di saat sendu dan perih seperti ini pun, ia masih sempat tertawa.

"Lo ternyata lebih rapuh, dari pada yang terlihat," komentar Jeno, menghadap Duwi sepenuhnya. Baru beberapa detik, Jeno cepat-cepat berusaha mengalihkan wajahnya lagi.

Tapi terlambat. Duwi sudah melihat segalanya. Ia menatapnya terpaku, sampai lama tak berkedip.

"Ini ..." Ujung jemari Duwi hampir menyentuh luka dan lebam itu. Di sudut bibir, di rahang kanan, di bawah mata, di pelipis, di batang hidung.

Lebam- lebamnya berwarna ungu, kontra dengan kulit Jeno yang putih bersih.

Tangis Duwi tak terbendung.

"Eh?" Tidak bohong, Jeno kelimpungan. Ia tidak pernah melihat seseorang menangis seperti ini di hadapannya. Sampai terisak- isak, kesulitan bernapas.

"Pasti ... gara-gara ... gue, ya?" tanyanya, sulit terdengar jelas karena sesegukkan yang mengganjal. "Ma ... maaf."

"Bukan karena lo," balas Jeno kering.

Jeno membuang napas perlahan. Ia tidak tahu cara membujuk, tidak pernah melakukannya. Jadi, yang ia lakukan agar Duwi diam hanyalah mengusap puncak kepala Duwi. Ia tepuk- tepuk ringan.

"Gue gak kenapa-napa. Ini masalah cowok. Biasa," katanya.

"Muka lo terlalu ganteng untuk dibuat bonyok."

"Cuma karena muka gue ganteng?"

Duwi menangis lebih keras.

Laki- laki berambut pirang itu tidak habis pikir. "Kenapa lo peduli? Luka gue, urusan gue."

"Karena lo orang baik." Duwi mengusap kasar kedua matanya. Hal pertama yang tampak jelas adalah kedua mata yang memerah, basah, redup. "Harus ada yang peduli terhadap orang- orang baik seperti lo," ucapnya, tersendat sebab ia harus menghirup lagi cairan yang keluar dari hidung. "Bentar, ya. Gue ambilkan air hangat."

Jeno tidak sempat menolak, Duwi sudah berlalu masuk ke dapur. Ditinggal, Jeno kalut dalam pikirannya sendiri yang penuh kemelut.

Jika benar apa yang dikatakan Duwi, soal peduli pada orang- orang baik. Bisakah Jeno melakukan hal yang sama terhadap gadis itu juga?

Plis, penulis paling tidak kuat dengan cerita cinta yang dimulai se'kalem' Jeno-Duwi ini😭

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Plis, penulis paling tidak kuat dengan cerita cinta yang dimulai se'kalem' Jeno-Duwi ini😭

Tolong doakan penulis ini bertemu Jeno dalam versi yang bisa digapai. AAMIN!

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang