Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Baru saja menginjak rumah setelah menyelesaikan jadwal perkuliahannya, Juna segera diserang keterkejutan, hingga bergegas lari menuju salah satu ruangan yang beberapa hari ini menjadi kamar Nakaisha.
Begitu dibukanya pintu putih itu, kamar yang sudah rapi dan juga kosong segera tampak di mata. Juna memeriksa seluruh ruangan, di setiap sudut, bahkan dalam lemari. Namun, tak ada.
"Apa ada seseorang yang masuk ke rumah kita, Ma?" tanya Juna.
Mama menggeleng. Raut wajahnya risau. "Sejak Papa berangkat kerja, kamu dan Adek berangkat juga, pintu selalu Mama kunci dari dalam."
Pernyataan itu semakin membingungkan. Juna mengusak- usak rambut pirangnya. Kening mengkerut dalam, menyusun kemungkinan- kemungkinan soal ketiadaan Nakaisha di rumah.
"Mama yakin, kalau pintu sudah Mama kunci?"
"Iya, Kak. Mama yakin."
Juna larut lagi dalam peraduan pikirannya. Lama ia berjalan mondar- mandir. Suara- suara di kepalanya saling bersahutan.
Tak lama, Juna menemukan ide. "Kalau begitu, bukan orang luar yang masuk. Tapi orang dalam yang keluar," tandasnya cepat. "Mama, jangan keluar dari rumah sampai Kakak pulang."
"Memangnya, ada apa, Kak?" tanya Mama khawatir.
Juna merasakan dadanya sesak. Alis bertautan. Di bawahnya, kedua mata Juna membulat. Ia tidak tahu apakah ia benar atau justru keliru. Namun, hal-hal yang terjadi, juga pernyataan sang Mama, semakin menguatkan terkaan yang bersarang di otaknya.
"Nakaisha kabur, dari sini," lirihnya pelan.
Tidak ada alasan untuk membuat Nakaisha kembali ke rumah itu. Kenapa? Setelah sekian banyak luka, tangis, dan derita, apa Nakaisha akan tetap memaafkan dan menjadi putri rumah itu, lagi? Ini bukan terkaan Juna, tetapi Nakaisha memang tidak pernah dianggap ada oleh kedua orang tuanya sendiri. Lalu, apa yang terjadi?
Seharusnya Juna ingat. Bersama Nakaisha, adalah ribuan pertanyaan.
Sekarang, Juna sudah sampai di tempat yang ia pikirkan. Rumah tetangganya, rumah Nakaisha. Tepat sekali, Nakaisha keluar dari rumah ketika Juna baru saja akan melangkah ke selasar.
"Kai!" panggil Juna.
Nakaisha, yang sedang mengangkut kotak besar di tangannya, menoleh.
Ia tampak tidak terkejut oleh kehadiran Juna.
"Kai, lo kenapa?" Juna meluncurkan tanya ketika sampai di depan gadis itu.
"Apanya?" balas Nakaisha, terkesan tak minat.
Segera Juna menyentak napas. "Ikut gue," katanya seraya mencengkeram pergelangan tangan Nakaisha.
Semuanya menjadi lebih mudah andai saja Nakaisha ikut bergerak ketika Juna melangkahkan kaki. Namun, gadis itu justru mematung, hingga Juna harus memutar kepalanya lagi dan memandangi Nakaisha bingung.
"Ini masalah keluarga gue. Jadi, biar gue yang menyelesaikannya," tandas Nakaisha dingin.
Juna tidak mengerti.
"Tapi, Kai—"
"Pergi." Nakaisha menarik tangannya, membuat pegangan Juna terlepas tanpa usaha. "Pergi, Juna," tekannya tak sabar.
"Gak. Gak mau," tolak Juna. Memohon lewat tatapannya yang tak berdaya. "Gue gak mau lo terluka lagi."
"Gue bisa mengatasinya sendiri." Setiap kata itu Nakaisha beri penekanan, seolah tak ingin dibantah ke sekian kalinya. "Pergi."
Juna masih tak ingin beranjak. Sekilas, ia menatap di balik punggung Nakaisha, berdiri Bapak dan Ibu Zuchman. Senyuman mereka lebar, menandakan kemenangan, meremehkan Juna.
Apa mereka yang telah memaksa Nakaisha untuk pulang?
Ia kembali menatap Nakaisha, penuh rasa luka. Juna tidak tahu apa yang salah, hingga Nakaisha mendadak berubah dan justru memilih kembali ke rumahnya.
Sesuatu pasti telah terjadi.
Sebagai orang yang tidak menyukai perubahan secara tiba- tiba, hal ini cukup menyakiti Juna. Rasanya, baru kemarin Juna membacakan suatu cerita, bersama Nakaisha yang mendengarkan sambil berusaha terlelap. Selain itu, Nakaisha lebih sering tersenyum cantik saat Juna memujinya yang selalu menggantungkan kalung pemberian Juna di leher jenjang sang gadis.
Bicara soal kalung, Juna terkesiap.
Segera ia pandang leher gadis itu, lama. Hingga detik- detik selanjutnya, Juna hampir menangis begitu tak menemukan pemberiannya itu di leher Nakaisha.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.