Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Duwi penasaran bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa.
Keinginan itu tidak pernah terwujud. Barangkali, Duwi yang sudah pesimis duluan. Ia tidak terlalu pintar, tidak kaya. Bermimpi masuk ke universitas rasanya hampa dan semu saja. Tidak ada yang bisa menjadi pegangan Duwi untuk merealisasikan inginnya itu. Pada akhirnya, Duwi mendesah.
Ia melewati universitas yang dekat dari tempat kerjanya itu dengan langkah gontai.
Jam kerja kafe tempat Duwi bernaung buka mulai dari pukul delapan pagi hingga malam. Duwi kebagian sip kerja dari awal buka sampai ke istirahat siang. Kini, lengkap dengan seragam kerjanya, Duwi berjalan kaki menuju kafe yang terkenal di kalangan remaja karena tipenya yang instagramable itu.
Pukul tujuh lebih dua puluh menit. Duwi mendorong pintu kafe, bertemu langsung dengan dua pelayan lainnya yang sedang merapikan kursi juga mengelap meja. Duwi tersenyum kecil, sebagai bentuk keramah- tamahan. Sebelum ikut bergabung mempersiapkan ruangan kafe, Duwi menaruh tas ransel merah–hanya itu yang ia miliki– di ruangan khusus pelayan, di sebelah dapur.
Tiga puluh menit kemudian, semuanya sudah selesai.
Jumlah pekerja di kafe ini lumayan. Dengan begitu, membersihkan ruangan sebesar ini tidak membutuhkan waktu lama. Masih ada sisa sepuluh menit sebelum mereka bisa membalik papan nama yang menggantung di pintu. Selama itu, Duwi masuk ke dapur dan meregangkan tubuhnya.
Pegal- pegal di sekujur tubuhnya masih bertahan. Sakit kala Duwi bergerak- gerak lincah. Duwi mengusap wajah kasar. Ditariknya ikat rambut hitam dari rambut yang telah dikuncir. Duwi membiarkan rambut pendeknya tergerai, masih basah.
Tadi malam, ia tidak tidur dengan nyenyak. Tidak bisa juga. Danu menderita demam tinggi. Setelah pulang bekerja, Duwi harus keluar lagi menuju toko terdekat, membeli obat. Kemudian, sepanjang malamnya diisi dengan menjaga kehangatan air kompres Danu, memijat tangannya, hingga mengecek suhu tubuhnya.
Menjelang pagi, barulah suhu tubuh Danu turun, menuju normal.
Duwi bisa bernapas lega saat itu juga.
"Duwi, kafe udah buka," beritahu salah seorang pelayan perempuan. Ia menjembulkan kepala di pintu dapur.
Duwi menoleh dan segera mengangguk. "Oke."
Menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin kecil yang tergantung, Duwi menarik napas, sekaligus kedua sudut bibirnya ke atas. Lesung tertanam di kedua pipinya. Cekatan Duwi menguncir rambut, lalu merapikan sisanya yang tak sampai dijerat ikat rambut hitam itu.
Lantas, Duwi pun berbalik dan siap untuk bekerja.
Berhubung bukan waktu istirahat makan siang, maka pengunjung yang datang tidak terlalu ramai. Belum terlalu berarti untuk bisa membuat para pelayan kafe berjalan cepat dari dapur menuju meja. Duwi mendapat bagian mencatat pesanan, memberikannya pada pelayan yang khusus bekerja di dapur, lalu mengantarkannya lagi.
Kegiatan hilir mudik itu tidak terasa memakan waktu lama, hingga menyentuh tengah hari.
Duwi terduduk di kursi dapur. Kepalanya terdongak. Sementara itu, salah satu pelayan perempuan yang datang bersama nampan berisi piring dan gelas kotor tertawa kecil melihat Duwi yang tampak kelelahan.
"Belum istirahat ya, Mbak?" Duwi bertanya sambil berdiri di samping rekannya tadi.
"Belum," sahutnya. Duwi membantu untuk membilas piring yang sudah disabuni.
Ketika Duwi berbincang sembari mencuci piring, seorang pelayan pria melongokkan kepala seraya berkata, "Tolong, dong—eh Duwi. Catet pesanan, ya."
Mendengar namanya disebut, Duwi menoleh. "Ah, iya." Pelayan pria itu kemudian mengangguk singkat dan menarik diri.
Duwi beralih pada pelayan perempuan di sampingnya. "Mbak, saya ke depan, ya."
"Iya, Duwi."
Duwi mengangguk dan mengelap tangannya sekilas sebelum akhirnya keluar sembari memegang note dan juga pulpen. Didatanginya sebuah meja di tengah yang berisikan empat perempuan.
Dari almamater yang dipakai salah satunya, Duwi berkesimpulan bahwa mereka mahasiswi dari kampus di dekat kafe.
"Pesanannya, Kak?" Duwi bertanya ramah.
Mereka secara silih berganti mengucapkan pesanan mereka.
Duwi tersenyum dan mengangguk formal. Begitu ia akan berbalik, pembicaraan lingkar perempuan tersebut menahan dirinya di posisi.
"Jeno bolos lagi."
"Iya, mentang- mentang anak publik figur. Jadi semaunya."
"Gue denger, Jeno itu pinter. Dia cuma males-malesan kuliah."
Desas- desus bernada sinis, juga remeh itu membikin kepala Duwi bekerja lebih cepat. Mengolah beberapa hal, kilas balik yang awalnya ia kira tak akan jadi penting.
"Gue Jeno." Wajah datar, juga rambut pirangnya yang disisir naik segera terbayang di otak Duwi.
Apa mereka sedang membahas Jeno, laki- laki yang sudah sering semesta pertemukan dengannya, dalam waktu yang berselang itu?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hai. Penulis kayaknya hobi banget nge-ghosting, ya. Sampai pembaca yang budiman aja dighosting coba :)
Tapi, aku punya hadiah untuk kalian.
Ayo makanya tetap lanjut baca LINDRAKA sampai tuntas, ya!