| Kita |

44 9 3
                                        

Salah satu pantai di kota itu ada di pinggiran kota. Jaraknya lumayan. Karena Jeno bukan hanya mengajak Duwi, tetapi juga Danu, maka ia membawa mobil miliknya untuk menjemput dua orang itu. Selain motor, Farah juga memang menyediakan fasilitas kendaraan roda empat untuk Jeno, yang mana jarang ia gunakan.

Setelah satu jam lebih duduk diam di mobil, mereka sampai. Jeno memarkir di atas pasir putih. Dalam sekali pandang, tampak hamparan pantai biru yang mempesona. Langit di ujungnya mulai kemerahan. Jeno memang tidak salah memilih waktu untuk mengajak Danu dan Duwi ke tempat ini.

Danu tidak punya kursi roda. Namun berkat Jeno, ia memilikinya sekarang. Jeno dan Duwi membantu Danu duduk di sana. Pelan- pelan, dengan kesabaran penuh. Setelahnya, Duwi bersiap mendorong kursi roda Danu, tetapi Jeno mencegahnya.

"Gue aja."

Kursi roda itu akhirnya didorong oleh Jeno.

Sejak pelukan hangat Danu kemarin, Jeno merasa ia punya keluarga. Ia punya orang- orang yang menganggapnya tidak hanya sekadar manusia, tetapi jiwa yang hadirnya ingin dianggap berguna. Jeno mungkin tidak punya ibu di keluarga ini. Tapi, itu lebih baik daripada memiliki bu kandung yang tingkahnya mirip malaikat pencabut nyawa itu.

Ketiganya sampai di bibir pantai. Angin segera berembus kencang. Menggerak- gerakkan rambut pendek Duwi, juga rambut pirang Jeno. Danu duduk dengan tenang. Selama ini, ia terpenjara dalam kamar, tak mampu melihat dunia luar. Berkat Jeno, Danu kini bisa.

Dua pemuda- pemudi itu berdiri bersisian. Memandang pantai yang sama. Senyum keduanya membingkai tulus.

"Sudah sejak lama gue merasa bebas," kata Duwi, membuka percakapan. "Dulu, saat keluarga gue baik- baik aja, waktu kayak gini masih ada. Semenjak Ibu meninggal, Ayah kecelakaan kerja, dan Bang Dicky ninggalin rumah, baru semuanya berubah. Kelam." Duwi tertawa pahit.

Meski gemerisik dedaunan kelapa di dekat sana hampir mengganggu, tetapi Jeno masih berusaha untuk mendengarkan Duwi. "Kalau boleh tahu, Ibu meninggal karena apa?"

"Diabetes."

"Oh.." Jeno mengangguk- anggukan kepala.

"Sejak itu, gue jadi anak tunggal. Bang Dicky tuh gak ada guna. Di saat keluarga terpuruk, dia malah pergi dari rumah. Gak punya otak emang," sinis Duwi kesal.

"Duwi.." tegur Danu pelan. Duwi menunduk, lantas terkekeh dan mengecup puncak kepala Danu sekilas."Maaf, Yah," cicitnya.

Jeno ikut terkekeh pelan. Namun, ia kemudian terdiam karena beberapa hal, yang secara mendesak mengacaukan pikirannya. Soal Dicky. Haruskah Jeno katakan segalanya pada Duwi, tentang saudara kandung gadis itu?

"Hm, Duwi," panggil Jeno pelan.

"Ya?" Duwi menyahut cepat. Tersenyum manis pada Jeno.

"Gue ... kenal sama Dicky, abang lo itu."

"Hm? Kenal, dong. Dia yang kemarin ngamuk di rumah gue."

"Bukan. Gue udah kenal Dicky jauh sebelum kejadian itu."

Kontan, dahi Duwi mengernyit.

"Kenal ... darimana?" Duwi bertanya ragu. Siap tidak siap mendengar jawaban Jeno selanjutnya.

Ragu mereka sama saja. Kini, bibir Jeno kelu untuk bicara lebih lanjut. Ia menatap deburan ombak yang hampir menyentuh posisi mereka. Dalam keheningan singkat yang Jeno ciptakan, terselip takut kalau- kalau menyebutkan namanya akan membuat Duwi juga Danu merasa buruk. Jeno tidak ingin mematahkan hati siapapun. Apalagi satu- satunya keluarga yang ia miliki.

Tapi, Jeno harus. Ini bukan perihal anteng.

Menoleh, Jeno menubruk netra cokelat gelap Duwi lekat. "Dicky itu pacar Mama." Ia mengangguk yakin begitu melihat kebingungan di mata Duwi."Ya, Mama gue."

Mata Duwi membulat sempurna.

"Mereka sudah pacaran sejak dua bulan lalu, kayaknya," lanjut Jeno.

"Dua bulan lalu tepat Bang Dicky ninggalin rumah!" seru Duwi, matanya mengerjap cepat. "Ternyata, dia pergi dari rumah dan macarin Mama lo?"

Jeno mengangguk dengan pasrah.

"Tuh'kan, Yah. Ayah gak perlu bela Bang Dicky. Dia memang gak ada otak," desis Duwi. Alisnya yang tipis dan berantakan beradu tak suka. "Mama lo seumuran Ayah, 'kan, Jen?"

Jeno mengangguk lagi.

"Ayah, Bang Dicky macarin tante- tante."

Tawa Jeno tak bisa ditahan saat itu juga. Pikirnya, Duwi akan termenung karena fakta yang baru saja ia kemukakan. Akan menangis, atau merasakan hatinya semakin sakit. Namun, justru gadis itu terlihat tak ambil pusing, kecuali kekesalan yang pelan- pelan meningkat. Mungkin benar, Duwi sudah menganggap Dicky mati, sejak lama.

Entah keberanian darimana, Jeno memegang kedua pundak Duwi, memutar gadis itu agar menghadapnya. Duwi tidak melakukan hal lain kecuali menurut. Terpaku pada netra legam Jeno yang kecil. Beberapa saat, ada banyak harap di mata laki- laki tampan ini. Duwi membisu.

"Duwi, gue suka diandalkan. Gue senang dijadikan tempat bergantung. Kalau mau, lo bisa bergantung sama gue. Gue gak akan menolak. Gue bersedia," tutur Jeno lembut. Selembut angin sore pantai yang kini membelai tiap permukaan kulit mereka.

Genangan air mata menumpuk di kedua mata besar Duwi. Lama ia pandangi raut wajah Jeno yang teduh, hangat, dan penuh pengharapan. Bisa jadi, Duwi bukan tempat paling baik untuk ditaruh harapan. Namun, tidak ada salahnya menampung harap laki- laki rapuh ini.

Lagipula, Duwi juga menginginkannya.

Anggukan kepala Duwi membuat Jeno terkesiap. "Gue mau. Dan, lo juga akan melakukan hal yang sama ke gue. Ya, Jen?" kata Duwi.

"Ya." Jeno menyahut tanpa lama. Tak ingin membuang lebih banyak waktu. Saat itu juga, Jeno menarik Duwi dan menenggelamkan tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Peluk seerat yang Jeno bisa. Memperdengarkan pada sang gadis suara detak jantungnya yang menggila, penuh kinerja.

Bersamaan dengan itu, langit sore menanggalkan jingganya dan menabur kelam di permukaan langit.

Semesta dan takdir tidak pernah bisa ditebak.

BERLAYAR, TEMAN- TEMAN SEKALIAN! Mari berpelukan dengan erat, huhu😭

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

BERLAYAR, TEMAN- TEMAN SEKALIAN! Mari berpelukan dengan erat, huhu😭

Selamat menikmati perjalanan dua insan yang mencinta ini. Semoga tidak karam di tengah jalan, ya🤗

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang