Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Karena halaman novel yang Juna pilih berkisar seratus lebih halaman, dalam waktu dua jam tidak sempat diselesaikan. Nakaisha sudah harus pamit pulang, dan mereka sepakat untuk melanjutkan bacaan itu keesokan harinya.
Kini, Juna sudah duduk tenang di balkon rumah, menunggu kedatangan Nakaisha.
Sering Juna melihat ke bawah, pada pekarangan rumah Nakaisha. Menunggu-nunggu gadis cantik itu terlihat. Tadi saat ia berangkat kuliah, Juna sempat mengintip ke rumah Nakaisha, tetapi tak ada gadis itu yang sedang menyiram tanaman. Maka, Juna pun berangkat tanpa melihat senyuman Nakaisha yang tak kalah rupawan dari wajahnya sendiri.
Tapi aneh. Juna masih belum sepenuhnya percaya bahwa orang bisa berubah dalam waktu sedekat itu. Nakaisha sudah lama berada dalam kesan dingin dan tak punya semangat hidup, sejak awal bertemu. Jadinya, senyum dan antusias yang ditunjukkan Nakaisha akhir- akhir ini rasanya janggal. Sebagai seorang yang senang mengamati, Juna tidak bisa tenang memikirkan alasan dari perubahan yang terjadi tiba- tiba begini.
Ia menghela napas.
Tadi, Juna menutup kembali pintu menuju balkon. Biar nanti ketika Nakaisha datang dan menggesernya, Juna bisa tahu bahwa gadis itu sudah datang.
Juna langsung memutar kepala begitu mendengar suara pintu bergeser.
Nakaisha terlihat dengan celana levis pendek di atas lutut dan kaus polos hitam, duduk di samping Juna.
"Halo," sapanya, tersenyum.
Baru satu detik, tapi sudah puluhan kali Juna bergumam cantik ketika menatap Nakaisha.
Rambut gadis itu coklat, lebih berkilau ketika ditimpa sinar baskara. Selain itu, cuaca yang cerah sampai terlalu terang semakin memperjelas lekuk-lekuk wajah Nakaisha. Juna tidak tahu kata apalagi yang maknanya lebih tinggi dari cantik. Kalau ada, begitulah Nakaisha.
"Hai." Juna membalas. Ia berusaha keras agar tidak terus menerus memperhatikan Nakaisha. "Gue ambil bukunya dulu, ya?" Nakaisha mengangguk kecil.
Buku yang Juna maksud masih sama seperti kemarin, letaknya di rak yang mudah dijangkau. Tidak lama Juna meninggalkan Nakaisha sendiri di balkon. Ia segera duduk kembali.
"Gue penasaran sama Seyri. Apa dia bakal berubah?" tanya Nakaisha.
"Sampai di posisi yang kita baca, Seyri masih belum tahu dia harus apa. Berubah 'kan butuh alasan. Seyri belum ketemu alasan untuk berubah dan menerima Renaldi. Dia juga kepala batu," tandas Juna.
Nakaisha tertawa singkat mendengarnya.
"Oke. Lanjut."
Sama seperti kemarin, Juna bersandar di dinding dengan satu kaki menekuk, yang lainnya berselonjor. Nakaisha duduk di hadapannya, bersandar pada pagar pembatas. Kadangkala, Nakaisha menekuk kedua lutut dan bertumpu dagu di sana. Matanya tak pernah lepas dari Juna. Mendengarkan juga memperhatikan cara bercerita Juna yang menyenangkan.
Hal yang mudah dilakukan mahasiswa Sastra Indonesia.
"Juna, berhenti dulu," cetus Nakaisha tiba- tiba.
Kontan Juna mengatupkam bibir dan mendongak. "Kenapa, Kai?"
"Seyri berubah!" katanya menyala-nyala. "Dia sudah temukan alasannya!"
"Iya, sudah." Helaian rambut Nakaisha yang tertiup angin dan mengenai wajahnya membuat Juna pangling. "Lo sendiri ... punya alasan?"
"Untuk?"
"Perubahan sikap lo. Setiap perubahan, pasti punya alasan, 'kan?"
Selesai pada lontaran pertanyaan itu, selesai juga Nakaisha membingkai senyum di bibirnya. Cepat, ia kembali pada Nakaisha di awal pertemuan mereka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Juna, gak salah ngomong, 'kan?
Susah- susah es di kutub mencair, eh dibuat beku lagi.