| Takjub |

49 9 1
                                        

Niatnya serius kali ini. Di pukul delapan, Jeno sudah siap dengan setelan kasualnya. Ia akan masuk kampus, setelah sekian lama absen. Hari ini, ada seminar. Seluruh mahasiswa prodi Sastra Indonesia diwajibkan mengenakan almamater universitas, warnanya abu- abu gelap dengan garis putih di kerah leher dan kedua lingkar pergelangan tangan.

Jeno mengenakannya dari rumah. Biar tidak ribet, katanya. Jeno juga tidak lupa untuk memasang masker, lebam di wajahnya masih tampak jelas. Setelah itu, Jeno menyampirkan satu tali tas ke pundak kanan. Tubuhnya kemudian keluar dari kamar setelah memakai sepatu kets putih polos.

Untungnya, rumah masih dalam keadaan damai. Farah masih belum pulang. Hanya ada beberapa asisten yang bekerja, membersihkan ruang tamu, ruang televisi. Jeno tidak menyapa ketika melewati mereka. Para asisten yang rata- rata berusia setengah abad itu yang menatap takut- takut pada Jeno, tidak berani menyapa.

Padahal, mereka merasa aneh saat melihat anak dari majikannya berpenampilan serapi itu untuk pergi ke kampus. Biasanya, Jeno hampir tidak pernah peduli pada pendidikan. Dia bahkan sering lupa kalau dirinya seorang mahasiswa di salah satu universitas kota.

Dengan motor miliknya, Jeno melesat menuju tempat tujuannya.

Bukan kampus, melainkan kafe di dekat kampus. Begitu Jeno memarkirkan motornya, kafe itu baru saja dibuka. Cepat Jeno membuka helm dan menaruhnya di atas motor. Ia turun, merapikan rambutnya singkat hanya dengan jemari. Lalu, masuk ke kafe itu.

Duwi langsung terlihat ada di belakang kasir. Sepagi ini, senyum dan lesung pipi gadis itu sudah membingkai indah. Hanya saja, matanya yang agak sembab terlihat sedikit menyedihkan. Jeno menghela napas. Kakinya mendekat pada meja bar yang berhubungan dengan tempat kasir itu.

"Hai." Begitu Jeno menyapa Duwi yang saat itu sedang berbicara dengan pelayan lainnya.

Duwi menoleh cepat. "Ah, hai." Ia terdiam sejenak. Kedua mata besarnya memicing. "Jeno, ya?"

Meski tidak terlihat, Jeno tetap tersenyum. Matanya mengecil karena itu. "Mata lo bengkak," tunjuk Jeno.

Gadis itu memelotot. "Diam!" gertaknya, dan Jeno tertawa kecil lagi.

Melihat Jeno, membuat Duwi ingat tentang luka dan lebam di wajah tampan Jeno. Ia baru saja berpikir untuk bertanya, tetapi setelan yang kini Jeno pakai lebih dahulu menarik perhatiannya.

"Tumben lo rapi?" komentar Duwi. Ia menatap Jeno setelah tadi menelisik dari ujung kaki hingga kepala. "Kalau gini, kelihatan anak mahasiswanya." Gadis itu menyengir dan mengacungkan dua ibu jari sekaligus untuk Jeno.

Ucapan Duwi sederhana, tetapi Jeno senang. Setidaknya, ada sesuatu yang ia kerjakan dan itu diperhatikan orang lain, dipuji pula. Berharga bagi seorang Jeno yang selalu ingin dianggap berguna.

"Hm, Duwi," panggil Jeno samar- samar.

"Ya?" Duwi melongokkan kepala ke arah belakang Jeno, memastikan tidak ada pengunjung yang datang. Kemudian, ia memandang Jeno lagi. "Kenapa?"

Bibir Jeno mendadak saja kelu. Rangkai kalimat yang sudah ia siapkan, bahkan sejak perjalanan menuju ke kafe, mendadak tertanam di ujung lidah. Sampai- sampai hilang di detik- detik berikutnya. Jeno harus menyusun ulang kalimat itu di otaknya.

"Kenapa, heh? Kalau ada urusan atau masalah, bilang aja," kata Duwi. "Cowok sialan itu ganggu lo, ya?! Si Dicky kampret itu?" Ia membulatkan mata dan meninggikan intonasi bicaranya.

Segera Jeno menggeleng. "Bukan."

Duwi menenang. "Bagus. Terus, ada apa?" tanyanya lagi.

"Hm, gue boleh mampir ke rumah lo, gak? Nanti, pas lo sudah selesai kerja di sini. Gue bakal datang ke sini lagi begitu kuliah gue selesai. Kita pulang bareng," aku Jeno.

Jantungnya berdebar- debar menanti kalimat yang akan kelaur dari mulut Duwi.

Sesuai dugaannya, Duwi pasti akan tertegun. Pasti heran dengan ketiba- tibaan Jeno ini. Karena itu, keresahannya menjelma berkali-kali lipat.

"Buat ... apa?" Suara Duwi terselip ragu.

"Buat jenguk Oom. Kemarin, beliau pasti kaget banget sama kejadian itu. Mau jenguk Oom, gak apa- apa, 'kan?" sahut Jeno mudah.

Agak lama, Duwi pun mengangguk. "Oh, iya. Gak apa- apa. Ya udah, nanti kita ke rumah gue, ya," putus Duwi akhirnya.

Jeno segera menghela napas dan mengangguk.

Meski di hatinya yang paling dalam, alasan yang ia kemukakan tidaklah benar sepenuhnya.

Jumpa lagiiii

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jumpa lagiiii.

Jaga kesehatan, jaga hati, jaga pandangan. Dan jaga kesetiaan kalian untuk baca LINDRAKA sampai tuntas, ya!

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang