Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Dipandanginya kalung itu, lama- lama hati Juna semakin sakit.
Rasa- rasanya, Juna tengah memegangi kalung berbandul bulat itu sambil memakaikannya ke leher jenjang Nakaisha. Disambut harum semerbak surai Nakaisha yang basah, wangi jeruk. Selama ia menyuarakan segalanya pada sang gadis, Nakaisha diam mendengarkan. Lalu, dia tersenyum karena senang dengan pemberian Juna.
Namun, hari ini Nakaisha mengembalikan kalung itu dengan dalih tak menginginkannya.
Entah mengapa Nakaisha mendadak seperti ini. Tapi ancaman Bapak dan Ibu Zuchman adalah alasan paling logis yang kini Juna pikirkan. Dua orang itu bisa melakukan apa saja, bermain kata, memaksa. Juna tidak akan heran kalau lewat tindak licik mereka, Nakaisha mampu dibujuk pulang, hingga menentang niat baik Juna.
Padahal, Juna hanya ingin melindunginya yang rapuh.
Selanjutnya, Juna membawa serta kalung itu ke lantai tiga. Buku yang pernah Juna bacakan untuk Nakaisha, kini ia taruh di rak yang paling jarang dijangkau. Tujuannya agar ia berhenti mengingat gadis itu, beserta segala jejaknya. Meski, kalung di genggamannya adalah ingkar tujuan.
Kaki Juna yang panjang melangkahi sofa, kemudian ia duduk di sana. Berhadapan pada pintu kaca, langit sejak pagi memang muram. Juna mendengus kasar. Menyebalkan ketika cuaca pun seolah mengejek kemalangan yang ia alami.
Menit berikutnya, Juna mengernyit kala sebuah suara sirine terdengar dari arah bawah. Cepat Juna menengok, tetapi terhalang oleng pintu kaca. Maka, ia pun menggesernya dan segera melangkah ke lantai balkon. Sebuah mobil polisi baru saja melewati rumahnya, berbelok kemudian.
Berhenti di pekarangan rumah Nakaisha.
Juna tidak tahu apa pun. Namun, ia juga tidak mau menduga- duga. Lebih cepat dari dirinya, otak sudah mengeluarkan spekulasi- spekulasi tak bertuan. Membuat Juna gemetar, membuat dadanya sesak.
Segera saja Juna menuruni tangga dan berlari keluar rumah.
Begitu sampai, rupanya kedua orang tua Juna dan adiknya sudah ada di sana, bersama tetangga yang lain. Mungkin, penasaran. Mereka terlihat lebih ingin tahu daripada cemas. Juna berusaha mengabaikannya dan segera masuk ke selasar rumah Nakaisha.
Jelas, ia dicekal oleh salah satu petugas polisi.
"Pak, kalau boleh tahu, apa yang terjadi?" tanya Juna, suaranya bergetar risau.
Waktu lebih cepat menjawab pertanyaan Juna daripada polisi itu.
Bapak dan Ibu Zuchman keluar, masing- masing tangan mereka dicengkeram anggota polisi. Tidak ada perlawanan. Hanya rasa malu yang menebal hingga tak sanggup mengangkat wajah. Tak lama, Nakaisha turut keluar. Ia bersama seorang polisi juga, tengah berbincang.
Juna yang sudah kepalang cemas, akhirnya memanggil, "Kai!"
Si empunya nama menoleh.
Nakaisha belum sempat membalas panggilan Juna lebih dari sekadar tolehan kepala. Ia menuntaskan perbincangan dengan pihak kepolisian itu, hingga akhirnya tersenyum dan ditinggalkan seorang diri. Semua pihak kepolisian masuk ke dalam mobil, Bapak dan Ibu Zuchman diapit oleh mereka.
Tak lama, mobil itu melaju dan meninggalkan perumahan.
Juna masih tidak mengerti, berusaha mendekati Nakaisha. Raut wajahnya tak terkontrol. Pucat pasi.
"Kai, lo gak apa- apa?" desak Juna.
Mungkin Juna sedang bermimpi, mungkin dia yang berhalusinasi. Tetapi senyuman Nakaisha yang cantik, juga binar matanya yang terang, terlalu nyata jika hanya ada di alam bawah sadar. Juna mengerjap, lantas yakin ia benar-benar mendapatkan senyuman cerah itu.
"Gue baik- baik saja. Gue, sangat baik," kata Nakaisha lembut. Juna menatapnya lekat.
"Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan kepada gue, untuk menyelesaikan permalasahan ini."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.