| Sudah |

84 9 0
                                        

"Aktris Indonesia bernisial F-H, mengejutkan dunia entertainment setelah penangkapannya di lokasi syuting. Penangkapan tersebut dilakukan setelah netizen melaporkan dirinya atas dugaan penganiayaan terhadap anak tunggalnya, berinisial J-L. Kini, pihak kepolisian telah menangani kasus tersebut dan meminta kesaksian dari asisten rumah tangga yang telah bekerja di rumah aktris tersebut."

"Jadi korban penganiayaan sang ibu, begini fakta Jeno Lindraka yang selalu terlihat sempurna di depan publik."

"Sering membangga-banggakan, ternyata Farah Helena menganiaya putranya sendiri."

Suara dari televisi yang ada di dinding kamar rumah sakit tempat Jeno menginap masih terdengar. Topiknya ramai dibicarakan sejak dua hari lalu, di mana- mana. Di televisi tak ada habisnya, di media lain, artikel, lebih meledak lagi.

Siaran langsung Jeno kemarin juga banyak diunggah ulang oleh akun- akun gosip, dijadikan video sensitif oleh pihak sosial media. Jeno sudah melihat keseluruhan akibat dari apa yang ia perbuat.

Penangkapan dan pemenjaraan Farah, ujaran kebencian untuk wanita itu, dukungan akan dirinya, juga cibiran atas tingkah Jeno yang dianggap berlebihan oleh sebagian orang.

Apa pun yang ia lakukan, akan ada yang tidak suka. Jadi, Jeno tidak terlalu memikirkan hal terakhir.

Dua hari lalu, Jeno terbangun dari rasa sakit, di atas tempat tidur rumah sakit yang dingin. Ia linglung. Sesaat, membuka mata juga terasa sangat sulit. Jeno tidak tahu apa- apa, selain sakit kepala yang mendera membuatnya menangis sesaat setelah siuman.

Kini, ia sudah lebih baik. Meski tubuhnya masih terlalu lemah, bahkan untuk sampai di sofa yang kini ia duduki. Jeno melakukan beberapa aktivitas dengan bantuan perawat di sini. Perlu diingat, Jeno tidak punya siapapun kecuali ibunya, yang sekarang sedang memendam dingin di balik jeruji besi.

Jeno mendesah. Wajahnya masih pucat, dan selang infus tertanam di punggung tangan kirinya. Jeno tidak sempat menyingsing lengan baju pasien yang ia kenakan, tidak sanggup melihat luka-luka sayatan yang membuat area kulitnya tidak merata. Benaknya tahu bahwa yang ia lakukan terlalu berlebihan. Akan tetapi, pedih yang memuncak tidak dapat ditahan lagi. Melukai diri menjadi pilihan untuk menyalurkan rasa sakit.

Lagipula, Jeno tidak berharap ia hidup setelah kejadian itu. Pikirnya, ia sudah mati. Sudah berada di tempat yang jauh lebih baik, atau justru tempat paling buruk yang ada. Entahlah. Memiliki kemungkinan hidup setelah tindakan beraninya kemarin adalah suatu mukjizat.

Pintu terbuka ketika Jeno tengah bergulat dengan pikirannya sendiri.

"Pak Jeno?" Pria berseragam lengkap kepolisian itu masuk setengah. Melihat Jeno duduk di sofa dan turut menatapnya, barulah ia dan satu orang rekannya masuk sepenuhnya. Berdiri di depan Jeno.

"Kami dari pihak kepolisian yang menangan kasus Farah Helena."

Jeno terhenyak. Tiba- tiba saja, jantungnya berdetak lebih kencang.

"Boleh kami meminta kesaksian?" tanyanya kemudian.

"Ah, ya," sahut Jeno pelan. Ia menegakkan punggung dengan sedikit rintihan dari mulutnya.

Polisi itu pun mulai mengajukan pertanyaan, dan Jeno menjawab tanpa susah. Seputar hubungannya dengan Farah, penganiayaan macam apa yang telah dilakukan, dan sejenisnya. Jeno merasa kepalanya kembali digerogoti sakit, dan itu membuat pihak polisi menghentikan sesi pertanyaannya.

Dokter dipanggil kemudian untuk memeriksa keadaan Jeno. Sementara itu, dua polisi tadi masih berdiri hingga pemeriksaan selesai.

"Pak," panggil Jeno pelan, dalam posisi berbaringnya.

"Iya, Pak Jeno?"

"Soal ... hm," Jeno ragu harus mengatakan apa, tetapi ia penasaran soal hal itu. "Soal Dicky, apa dia juga ditangkap?"

"Dia sedang dalam pencarian."

"Selain membantu Farah Helena melakukan penganiayaan, mereka juga melakukan penculikan terhadap seseorang bernama Danu," ungkap Jeno.

"Ya, kami sudah mengetahuinya dari pengakuan terduga. Karena itulah Saudara Dicky menjadi buronan. Kami akan memastikan keduanya diberi hukuman setimpal," janji polisi tersebut.

Jeno tidak percaya janji, karena takdir sering mematahkan hatinya. Namun, kali ini, Jeno berusaha yakin. Segala derita akan benar- benar usai. Mereka yang sudah lama menekan Jeno dalam dinding luka, akan segera dijatuhi hukuman.

Semoga, takdir mau bekerja sama dalam penuntasan rasa sakit ini.

Semoga.

Jeno baik- baik saja, karena kalian semua setia bersamanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jeno baik- baik saja, karena kalian semua setia bersamanya.

Dan juga, Jeno masih punya kesempatan untuk mendapat hidup yang lebih baik. Kalian juga, ya!

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang