Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Pelajaran olahraga, praktek pula. Kaum hawa di kelas sepuluh sosial dua, merutuk. Kelas itu mendapat jadwal olahraga sesudah istirahat makan siang. Terik baskara, perut yang kenyang, juga peluh yang bau dan mengganggu. Kaum adam di sana juga sebenarnya tak senang, tetapi mereka lebih bisa menerima daripada anak perempuan yang terus mendumel pelan di belakang pengajar Penjas itu.
Praktek hari ini mengacu pada materi atletik yang telah dibahas minggu lalu. Seluruh siswa mendapat bagian maju sesuai absen. Jeva duduk di pinggir lapangan basket itu, memandang Rainey yang sedang melakukan praktek lari jarak pendek. Menurut Jeva, lari Rainey memang tergolong lambat. Wajar ia menjadi yang terakhir sampai di garis finish.
Rambut bergelombang hitam gadis itu dikuncir asal. Beberapa helainya lengket di dahi juga leher bagian belakang.
"Ney, sini!" panggil Jeva, mengangkat tangan.
Rainey menemukan Jeva dengan mudah, ia segera berjalan menuju cowok itu.
"Capek," keluh Rainey tepat ketika pinggulnya mendarat di samping Jeva.
Tidak banyak bicara, Jeva hanya melukis senyum kecil dan menyodorkan botol air minumnya pada Rainey.
Diterima tanpa lama oleh gadis itu. Ketika Rainey mengembalikannya pada Jeva, isinya sudah habis setengah.
"Seharusnya gue kebagian yang tolak peluru aja. Lebih anteng, ketimbang lari." Kulit wajah Rainey memerah. Ia mengipas- ngipaskan tangan ke arah sana. "Lo mau dapet nomor atletik apa, Je?" tanyanya sambil memiringkan kepala.
"Apa aja. Gue 'kan pro. Gak bakal dapat masalah, pasti." Balasan itu terkesan sombong. Rainey mendesis dan memukul lengan atas Jeva tak kuat.
"Songong banget," sindirnya.
Jeva tertawa, tidak sempat membalas lagi karena namanya dipanggil sang pengajar. Jeva sempat menitipkan botol air minumnya pada Rainey, dan segera berdiri ketika Rainey memberikan anggukan kepalanya.
Jeva mendapat nomor atletik lompat. Lebih tepatnya, lompat jauh.
Maka, ia sudah berdiri di area khusus untuk praktek itu. Sekitar tiga meter di depannya, ada lapangan pasir berukuran sedang, untuk tempat akhir pendaratannya. Jeva mengambil ancang- ancang, menarik napas dalam dan memusatkan perhatian. Berikutnya, sambil memperagakan teknik- teknik lompat jauh yang ia ingat, Jeva segera berlari dan melakukan lompatan terbaiknya.
Tepat sasaran. Jeva berhasil mendarat dengan sempurna dan mendapat lompatan paling jauh.
Jeva memang tidak menonjol hanya karena parasnya yang tampan turun- temurun, bukan juga karena dia yang seringkali bertingkah terlampau pecicilan. Jeva unggul dalam beberapa bidang di jurusan sosial, juga olahraga.
Selesai, Jeva pun kembali meminggirkan diri.
Ia berniat duduk di tempatnya semula, sebelum kedua alisnya sontak naik karena tidak menemukan Rainey ada di sana. Jeva segera memutar kepala, menelisik sekitar, mendeteksi Rainey.
Tapi tidak ada.
"Rainey mana?" Jeva bertanya pada teman perempuannya yang duduk di pinggir lapangan, berteduh di bawah bayangan pohon yang rimbun.
Yang ditanya menatap sekilas. "Mau ke toilet, katanya."
Jeva segera mencari Rainey ke sana.
Dari lapangan basket, toilet lantai pertama tidak jauh. Jeva melenggang di tengah- tengah koridor yang sepi, sesekali melongokkan kepala pada pintu kelas dua belas yang terbuka. Sempat saja beberapa kakak kelasnya perempuannya tersenyum dengan kedua mata menyala- nyala.
Cringe, komentar Jeva dalam hati.
Ia berhenti ketika hampir mencapai toilet. Ketika Jeva mendongak, dahinya kontan mengkerut dengan dua matanya yang memicing jauh ke depan sana.
Jeva tidak salah, matanya tidak salah melihat. Gadis berbaju olahraga, rambut dikuncir asal, dan botol air minum Jeva.
Rainey dan senyumannya untuk seorang anak laki-laki.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.