| Lelah |

98 11 1
                                        

Jeno tidak pernah punya alasan untuk hidup. Dia benar- benar melewati hampir dua puluh tahun ini hanya karena ia sudah lahir. Tak ada semangat, tak ada gairah hidup. Bahkan, tujuan mengapa ia sampai mau tetap bertahan di dunia yang kejam ini, juga tak punya. Jeno luntang- lantung dalam permainan takdir.

Akhir- akhir ini, Jeno terpesona pada indahnya rayuan semesta, sampai- sampai lupa bahwa ia tak pernah punya apa pun di dunia. Termasuk Duwi, gadis itu bahkan kini direnggut darinya.

Siapa yang bisa disalahkan? Jeno akan memilih dirinya sendiri. Sebab bebal karena tetap hidup selama puluhan tahun ini. Menerima setiap candaan takdir yang sama sekali tak menghadirkan tawa. Justru, lara jadi tertumpuk nyata sampai cahaya tak mampu menyerbak hangat.

Untuk apa ia hidup, Jeno sangsi.

Sudah dua hari tubuhnya dibiarkan tenggelam di kasur. Jeno mengemis pada takdir, untuk hidupnya. Sedikit lebih baik, sedikit lega. Jeno tidak minta banyak- banyak. Namun terlalu sukar takdir berikan. Kini, napasnya bahkan seolah tak lebih dari sekadar embusan penyambung hidup, yang sejatinya tak lagi Jeno butuhkan.

Letih. Jeno bangkit dari kasur, segera berdiri dan nyaris terjatuh di sisi kasur. Ia berhasil menyeimbangkan dirinya, dan memukul- mukul kepala yang pening bukan main. Mencengkeram kuat.

Akan tetapi, kini Jeno punya tujuan.

Dengan gontai, Jeno meraih ponsel di atas nakas. Menekan- nekan layar, menggeser, memastikan kejernihan kamera ponselnya. Mata Jeno yang sudah layu dan memerah, semakin sulit dibuka. Pandangannya buram.

Seingat Jeno, ia menyimpan sesuatu di laci nakas. Entah nakas yang mana, di laci yang ke berapa. Jeno membongkar seluruhnya. Menghamburkan seisi laci, mengusak-usak tumpukan benda itu demi mencari yang ia inginkan.

Benda pemotong itu berhasil ditemukan matanya.

Sekali sambar, Jeno dapat. Beralih Jeno pada ponselnya lagi. Beberapa saat, Jeno tersenyum, tak dapat diartikan.

"Halo, teman- teman!" sapa Jeno pada siaran langsung di salah satu sosial media miliknya. "Aku baik- baik saja," katanya, berjalan sempoyongan ke kursi belajar.

Pengikut sosial media Jeno menyentuh satu juta. Tidak mengherankan jika ia segera mendapat perhatian karena siaran langsung perdana ini.

Jeno meletakkan ponselnya di atas meja, disangga tumpukan buku hingga ponsel itu dapat berdiri. "Aku cuma mau menyapa." Jeno menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya. "Hai."

Jeno frustasi.

Banyak komentar bermunculan di layar, Jeno sepenuhnya mengabaikan itu. Dengan mata sayu, lingkar mata menghitam, dan senyum hampa, Jeno terus berbicara di depan layar.

"Aku ... capek," tukasnya, lirih. "Mama bilang, aku anak haram."

Ya, ini saatnya untuk memberitahu publik soal hidupnya. Jika ini hari terakhir Jeno, ia ingin dunia tahu bahwa selama hidupnya, Jeno selalu dibuat menderita.

Jeno tertawa pahit. "Kalian ... tahu Mamaku, 'kan? Iya, aktris terkenal itu. Ah, dia sering membangga- banggakan aku kalau di depan publik." Senyum Jeno luruh. "Tapi dia menyiksaku di rumah. Dipukuli, ditampar, dihardik anak gak berguna. Sakit. Rasanya sakit."

Air mata itu segera jatuh, berdesak- desakan. Memenuhi seluruh wajah, rembesannya sampai jatuh ke pangkuan Jeno. Jeno memukul kepalanya, berkali-kali, berulang- ulang, kuat.

Cukup lama Jeno melakukannya. Hingga ia mulai mengalami sesegukkan dan memaksanya berhenti menangis.

"Aku lelah. Mau pergi."

Tidak ada yang pernah tahu makna pergi yang Jeno ucapkan.

Hingga, Jeno mengeluarkan pisau yang sedari tadi ia pegang. Kilauan di bilahnya membuat Jeno terdiam, berperang dengan lonjakan emosi di benaknya. Haruskah ia tuntaskan, haruskah ia hentikan.

Tapi, Jeno sudah sampai di tahap ini. Artinya, ia tak boleh mundur.

"Teman- teman, kalau aku pergi, katakan pada publik bahwa aktris bernama Farah Halena itu gak benar- benar baik."

Jeno lalu menyayat- nyayat kulit lengannya. Tanpa henti. Meski tenaga yang dikerahkan tak sepenuhnya kuat, sudah terkuras duluan oleh segala tangis- tangis awal. Namun, sayatan itu tetap menimbulkan luka, memacu darah keluar.

Jeno tak peduli jika ia akan mati.

Jeno tak peduli jika ia akan mati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang