Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Jeva menyingkir dari keramaian, menuju koridor perpustakaan.
Ia sensitif, Jeva akui itu. Walau terlihat santai dari luar, humble, easy going, nyatanya Jeva punya secuil sifat alami yang seringnya ia tutupi.
Lahir sebagai bungsu di dalam keluarga yang serba ada telah membuat Jeva selalu berpikir bahwa apa pun kehendaknya, bisa terpenuhi. Soal Rainey tidak dikecualikan. Kalau Jeva mau gadis itu hanya bersamanya, tertawa untuknya, maka seharusnya itu yang terjadi.
Jeva tidak suka sesuatu berjalan di luar keinginannya.
Selama pelajaran jam pertama dan kedua berlangsung, Jeva jauh lebih tenang. Sesekali ia menyeletuk, bergurau, dan membangkitkan suasana tawa. Seolah itu adalah perangai tetapnya. Tapi, tidak selepas hari- hari lain. Jeva masih belum bisa menerima kejadian pagi tadi.
Sampai istirahat pertama, Jeva tidak mau menatap Rainey.
Jeva sudah makan pagi. Di pukul sembilan begini, tidak akan masalah jika ia tidak ke kantin dan makan. Jeva akan melakukannya di istirahat kedua nanti saja. Ia butuh ruang. Menenangkan diri, juga menghindari Rainey beberapa waktu.
Gadis itu harus sadar akan kesalahannya.
Karena Jeva bukan tipe orang yang senang membaca, ia jadi tidak berkeinginan masuk ke dalam perpustakaan. Cukup berdiri di depannya saja seraya melipat tangan ke dada.
Namun, Jeva memang tidak pernah suka ditemani hening lama- lama.
Pada akhirnya, Jeva memutuskan pergi menuju lapangan basket. Bermain sebentar, mungkin. Apa saja untuk bisa membuatnya tidak sadar bahwa waktu istirahat telah habis.
Hanya saja, rencananya buyar ketika melihat tubuh Rainey setengah berlari dari ujung koridor arah berlawanan.
Cepat- cepat Jeva membuang pandangan. Memperjelas rasa dongkolnya pada Rainey yang kini sudah sampai tepat di hadapannya.
Bibir Rainey mengerucut. Kedua tangannya disembunyikan di belakang tubuh. "Maaf ih, Je.."
Jeva menatapnya.
"Gue sudah kembalikan kalung itu, kok," ungkap Rainey, yang matanya penuh dengan kilauan menggemaskan. "Gue gak akan terima kalau lo gak suka, Je."
Bibir Jeva terkulum, menahan senyuman.
Selain pada pengakuan Rainey barusan, Jeva butuh bukti lebih kuat. Melihat ke leher gadis itu, benar tak ada lagi benda perak melingkar yang membikin hati Jeva memanas. Jeva mengangkat alis, senyumnya kini dibiarkan membentang.
"Ululu.. pinter." Jeva menepuk- nepuk puncak kepala Rainey, membikin si empunya menatap dengan mata selucu anak kucing. "Gak marah lagi, Je?" tanya Rainey polos.
Jeva tergelak. "Enggak."
Semudah itu memperbaiki suasana hati Jeva.
Satu lengan Jeva kemudian menimpa pundak Rainey, merangkul. Keduanya berjalan beriringan melewati koridor. Rainey juga sudah kembali tertawa, dan Jeva senang karena Rainey melakukan itu untuk dirinya.
"Gimana cara lo kembalikan kalung itu?" tanya Jeva.
Rainey menoleh. Rupanya ia memegang sebuah es krim sejak tadi. "Gue langsung kasih aja," jawabnya mudah.
"Gak dicurigai sama dia?" Satu alis Jeva naik. Diambilnya sebungkus es krim itu dari tangan Rainey, membuka, lalu dikembalikan lagi.
Rainey menggeleng sebagai jawaban, sebab mulutnya kini penuh oleh es krim.
Jeva terkekeh. Ia mengusak rambut panjang Rainey, merangkul tubuh mungilnya lagi. Tercetus ide jahil begitu mereka baru melewati belokan koridor.
Dengan satu gerakan cepat, Jeva menunduk dan berhasil mengambil satu gigitan di es krim yang sedang Rainey kulum.
Sebab tingkah tiba- tibanya itu, Jeva dihadiahi pukulan kecil di tangan oleh Rainey. Mereka lantas tertawa- tawa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.