Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Duwi mengernyitkan dahi sebab perkataan tiba- tiba Jeno itu.
"Untuk?" tanya Duwi, yang kembali fokus pada gerak tangan si Ibu penjual yang cekatan.
Tadi, Duwi menyempatkan diri untuk singgah di sebuah warung pinggir jalan, membeli dua bungkus nasi untuk ia dan Danu. Ia menawarkan pada Jeno, jelas hanya basa- basi, yang mana hal itu ditolak Jeno. Jeno juga tidak keberatan menemani Duwi menunggu. Maka, mereka berdua berakhir di kursi panjang yang warung itu sediakan.
"Soal ucapan gue, ngatain lo murah," cetus Jeno. Suaranya memelan, mungkin tidak nyaman dengan pemilihan kata yang pernah ia lontarkan pada Duwi.
Tidak ada yang senang dengan perkataan semacam itu. Duwi tidak menjadi pengecualian. Namun, ia sudah tidak mempermasalahkan itu lagi. Sebab, hal itu pun sampai terucap oleh Jeno karena tindakannya sendiri yang mengundang. Memakai pakaian terbuka, menyerahkan diri pada pria tua kaya. Duwi memang tidak berpikir panjang saat itu, dan Jeno yang tidak menyenanginya segera berkomentar sinis. Maklum.
"Gak apa. Justru karena ucapan lo itu, gue jadi sadar," sahut Duwi, merajut senyum tipis ketika menoleh sekilas pada Jeno. "Hidup emang keras ya, Jen. Gak kerja, gak makan. Mau kerja, susah. Seperti perkataan lo, S1 gak menjamin untuk sukses. Serba salah emang. Yang cuma tamatan SMA tambah pusing lagi kalau yang S1 aja banyak nganggur."
Telinga Jeno mendengarkan, matanya memperhatikan, dan bibirnya diam tanpa berkomentar. Ia terlalu larut dalam cara bicara gadis berambut pendek ini. Rasanya, sayang jika ceritanya dilewatkan. Selain itu, suara Duwi yang khas karema serak- serak basah, betah terngiang di otak Jeno.
"Waktu itu, gue mikir. Kalau gue kerja di kantoran, gajinya gede. Bisa untuk hidup sehari- hari, untuk obat Ayah. Tapi gue lupa, lulusan SMA begini pasti banyak pertimbangannya. Apalagi, gak ada pengalaman." Napas kasar keluar dari hidung Duwi. Ketika ia mengulum bibir, salah satu lesung pipinya terbentuk. Manis.
Duwi berdiri, mengambil kantung plastik berisi dua bungkus nasi itu sambil merogoh saku celana. Mengeluarkan uang selembar nominal dua puluh ribu.
Cepat-cepat Jeno bangkit dan mencegah Ibu penjual itu mengambil uang dari Duwi.
Ia yang kemudian menyodorkan uang selembar lima puluh ribu, yang dikembalikan sisanya oleh si Ibu penjual.
"Eh, kenapa dibayarin?" tanya Duwi ketika Jeno mendorong lembar uang itu masuk ke saku celana jeansnya.
"Hm, anggap aja sebagai ucapan terima kasih. Lo sudah temani gue," jawab Jeno singkat.
"Ah ... seharusnya gak perlu." Namun, Duwi tetap mengangguk dan tersenyum tulus. "Makasih, ya."
Mereka melangkah lagi di jalanan yang lebih kecil. Menuju gang tempat rumah Duwi berada. Selama itu pula, angin sesekali menyentuh. Ingin bergelung dalam obrolan antara Jeno dan Duwi.
Jeno mempererat jaket kulit di tubuhnya. Melirik Duwi, rasanya berlebihan kalau Jeno sampai harus menanggalkan jaket hanya untuk diberikan pada gadis itu. Lagipula, Duwi sedang mengenakan sweater kebesaran. Itu sudah cukup.
"Jadi, waktu pertama kali kita ketemu, yang gue gak sengaja ngotorin kemeja lo, itu lo lagi ngelamar kerja?" Jeno bertanya lagi, dan Duwi menganggukinya. "Di perusahaan?"
"Iya. Karena gak ada yang berhasil, akhirnya depresi." Oleh karena kata di akhirnya kalimatnya sendiri, Duwi tertawa kecil. "Terus sangking putus asanya, sampai berpikir menyerahkan diri sama Om- Om kurang belaian itu." Berikutnya ia menggeleng- gelengkan kepala dramatis. "Untungnya, lo dateng waktu itu. Lo nyelametin gue. Lo ngebuat gue sadar."
Jeno tidak mendengarkan suara- suara khas malam lainnya. Hanya pada Duwi, dan segala tentangnya yang jadi pusat perhatian Jeno. Sama halnya dengan senyum manis milik Duwi, bergandeng lesung pipi dalam, Jeno memaku hanya dalam sekali perangkap.
Iris Duwi coklat gelap, memeluk Jeno tak kasat.
"Untuk semua itu, makasih, ya. Lo orang baik, Jen."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Halooo.
Orang- orang baik, terima kasih sudah membaca LINDRAKA sampai sejauh ini. seirasjiwa love youuu.