| Satu |

109 9 0
                                        

Jeno jarang diberi kabar bahagia, sebab rentang hidupnya selalu pada soal luka demi luka. Namun, perwakilan pihak kepolisian itu memberikan kabar paling sempurna yang pernah Jeno dengar. Kata mereka, Dicky telah ditemukan. Bersama Farah, mereka akan disidang dan segera dijatuhi hukuman yang berat.

Ia sendiri tidak punya keinginan untuk datang ke persidangan dua orang itu, atau mengunjungi mereka di lapas. Biar saja mereka mengendap dalam dinginnya jeruji, memikirkan hingga meratapi semua kesalahan yang pernah dilakukan. Penebusan dosa, kata Jeno. Selama berbelas tahun ke depan, Farah dan Dicky punya kesempatan untuk bertaubat, itu pun kalau mereka menyesal dan mau.

Hari ini, Jeno merasa sepenuhnya bebas. Tak ada lagi dinding tinggi yang penuh rasa sakit, tak ada lagi belenggu, seluruh lara telah menguap. Jeno mengambil kunci motor dari atas nakas kamarnya sambil memikirkan satu tempat untuk jadi tujuan. Sebelum itu, Jeno menyempatkan diri singgah di sebuah toko bunga di pinggir jalan. Membeli sebuket bunga.

Lalu dengan senyuman lebar yang tak bisa ditahan, Jeno melaju lagi di tengah keramaian kota, mencapai tujuannya.

Tidak sulit menemukannya, meski sudah cukup lama sejak Jeno berkunjung ke rumah gadis itu. Di dekat kedai, di dalam gang yang kecil. Jeno menghentikan motor tepat di sisi jalan. Beberapa saat, ia terdiam.

Ada banyak orang yang keluar masuk. Pakaian mereka dominan putih. Selain itu, beberapa pria juga bekerja di halaman kecil depan rumah. Memotong kayu, membentuknya menjadi sesuatu. Sekilas pandang, seperti kotak persegi panjang, seukuran tinggi manusia.

Jeno yakin ia tidak salah rumah. Ingatannya cukup kuat untuk keliru. Mendadak ia tak bisa memikirkan apa pun.

Jeno segera menuruni motor dan menaruh helm. Sebuket bunga matahari yang ia beli, disimpan di dalam kantung kertas yang tergantung di setir motor. Dalam keterpakuan, Jeno melangkah pelan menuju selasar rumah. Jantungnya berdetak cepat, bertalu- talu.

Lalu, kibaran bendera kuning yang tak sengaja mengenai wajah Jeno di ambang pagar membuatnya berhenti. Jeno menyingkirkan bendera itu, terdiam beberapa detik ketika otaknya sibuk mengolah sesuatu.

Dunia seakan runtuh ketika sebuah pikiran terlintas di kepala Jeno.

Tanpa perlu mengulur waktu yang terasa semakin mencekik, Jeno setengah berlari masuk ke dalam rumah itu. Menahan degupan jantung yang menggila, juga seluruh tubuh yang bergetar. Batinnya tak henti melirih, mengemis pada takdir; jangan permainkan hidup ini lagi.

Gadis berambut pendek itu segera netra Jeno tangkap. Ia duduk bersandar pada dinding, tatapannya kosong, menyatu dengan iris coklat yang basah dan sembap. Kali ini, jantung Jeno seolah berhenti berdenyut.

Jeno sampai di samping Duwi. Duduk dan menyentuh bahu gadis itu, sampai ia menoleh.

"Jen, Ayah sudah pergi.." beritahu Duwi lirih, dengan raut wajah sedih luar biasa.

Bibir Jeno hampir bersuara, tetapi tercekat di kerongkongan. Keras usahanya untuk mengeluarkan sedikit kata, bahwa semua akan baik- baik saja. Namun, selapis bening malah berkumpul di matanya, yang kemudian jatuh tanpa terencana.

Pada akhirnya, air mata melisankan segala yang tak mampu diucapkan oleh suara.

Sepanjang pengurusan jenazah Danu, Jeno menatapnya tanpa putus. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana hangat senyum serta pelukan Danu. Juga masa- masa terakhir dimana Jeno bisa membuat Danu terbebas dari ruang yang pengap, menyaksikan hamparan biru, berupa pantai dan juga langitnya. Takdir lagi- lagi mempermainkan dirinya, beserta lingkar sukanya. Satu- satunya orang yang seumur hidup bisa Jeno panggil ayah, kini pun telah dirampas semesta.

Kejam.

Daripada dirinya sendiri, Jeno lebih memikirkan Duwi. Kondisi gadis itu sudah sangat lusuh. Tanpa suara, ia menelan rasa sakit diam- diam dan menangis tanpa ingin dilihat seseorang. Tangis yang berlangsung hanya di dalam benak. Sesaknya melebihi tangisan yang dikeluarkan kencang- kencang.

Jeno gapai pundak rapuh itu, didekapnya erat. Pada tangan Duwi yang jatuh tak berdaya di atas pangkuan, segera Jeno genggam. Ibu jarinya mengusap-usap pelan. Mengalirkan kekuatan. Mengatakan bahwa Duwi tidak sendirian dalam rasa sakit ini, Jeno bersamanya.

Singkatnya, Danu sudah dikebumikan. Tempat pemakaman itu adalah satu- satunya di sekitar gang, tanahnya lumpur. Jenazah Danu dimasukkan ke dalam kotak persegi yang telah dibuat para tetangga, lalu dikuburkan. Selama itu, Duwi tidak menangis. Ia terlihat meremat tangan Jeno, seolah menjadikannya pelampiasan dari seluruh buncahan air mata yang siap meledak.

Kemudian, para tetangga mengucapkan bela sungkawa sebelum akhirnya membubarkan diri. Tersisa Jeno dan Duwi.

Keduanya sama- sama duduk di samping makam. Duwi mengusap nisan bertuliskan nama sang ayah. Tatapannya masih penuh lara, barangkali ia terkejut oleh takdir yang merenggut satu- satunya yang ia punya, tanpa pamit. Dalam keterdiaman, Duwi memejamkan mata. Menggabungkan doa- doa untuk Danu di dalam hatinya, tanpa henti.

Jeno tahu batasan. Ia membiarkan Duwi larut dalam segala doa dan sisa dukanya, tak ingin mengganggu.

Duwi membuka matanya. "Ayah sekarang sudah sembuh," kata Duwi, mengulas senyum tipis. "Ayah gak akan kesakitan lagi.."

"Ya, Ayah sudah dipeluk Tuhan, dalam tempat terbaik-Nya." Jeno bersuara setelah sekian lama diam. Duwi menatapnya, dan tatapan itu dibalas lekat oleh Jeno.

Kemudian, entah sejak kapan Jeno sudah menggenggam kedua tangan Duwi dan menghadap gadis itu sepenuhnya.

"Kamu gak akan sendirian."

Duwi terpaku tatkala Jeno menyuguhinya secercah senyuman teduh. Sulit ditinggal untuk sekadar mengedipkan mata.

"Aku mungkin gak sempurna. But, I love you," bisik Jeno lembut tapi serius. Ia terlihat tak main- main.

"Mari saling mencintai dan melindungi. Mari saling jadi orang paling penting seumur hidup. Mari membangun hidup yang lebih baik, menentang ketidakramahan takdir." Jeno menatap Duwi dekat, sedekat gadis itu bisa melihat bayangannya sendiri di balik netra Jeno. "So, marry with me, Rindu Wirdhana."

Detik itu juga, tangis Duwi tak lagi bisa dibendung. Ia butuh jeda beberapa waktu, untuk membiarkan seluruh rasa sakit terkikis dan digantikan rasa bahagia. Selama itu, Jeno diam tanpa suara. Memberi jeda, menunggu jawaban.

"Ya," cetus Duwi, mengangguk- anggukan kepala dan menabrak tatap tegang milik Jeno. "Aku mau."

Senyum Jeno tak tahan untuk tak terbentuk. Segera, ia rengkuh tubuh Duwi, erat, tanpa jarak. Matanya terpejam dengan hati yang sepenuhnya membaik. Walau ia tahu takdir tidak akan selalu memberi jalan yang mulus, semesta tidak akan selalu memberi restu, Jeno tidak terlalu memikirkannya.

Yang Jeno tahu, bersama Duwi akan selalu jadi bahagia. Tanpa cela.

Selamat berlabuh dengan kondisi baik tanpa karam, tim Jeno-Duwi!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selamat berlabuh dengan kondisi baik tanpa karam, tim Jeno-Duwi!

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang