| Baru |

156 8 0
                                        

Naik kelas sebelas, artinya Jeva hanya akan menaiki satu tangga saja untuk sampai di kelas. Berkat nilainya yang masuk ke dalam jajaran lima teratas, Jeva berhasil masuk ke kelas unggul. Sebelas sosial satu.

Hari ini hari pertama setelah libur pengambilan rapor. Jeva tidak antusias, tidak juga lemas. Biasa- biasa saja. Ia sedang berusaha terbiasa tanpa seseorang, yang mungkin akan gagal lagi ketika sekolah ini ia injak. Di sini, Jeva memiliki banyak hal yang menjelma kenangan bersama Rainey.

Tidak perlu bersusah payah, Jeva menemukan kelas barunya. Sebagai anak pindahan dari kelas sosial dua, Jeva masih belum terlalu akrab dengan orang-orang di kelasnya sekarang. Namun, beberapa dari mereka Jeva kenali, dan mereka juga berusaha ramah pada Jeva. Menyapa.

Membalas seadanya, Jeva berjalan ke arah belakang. Sudah mengunci satu meja untuk jadi tempat duduknya selama satu tahun ke depan. Sedikit lagi Jeva berhasil sampai, sebuah tas sudah terlebih dahulu dibanting oleh seseorang ke atas meja.

Kontan saja Jeva mendongak dan menyorot seseorang itu tak senang.

"Ups! Maaf. Gue duluan," kata si gadis berambut panjang, dianyam rapi dan jatuh di kedua sisi bahu. Matanya besar dan agak sendu, hidungnya mancung, bibir kecil, juga kulit yang agak eksotis.

Jeva masih tidak terima. "Gue duluan. Gue baru aja mau duduk di sini."

"Lah? Buktinya, gue sudah menempatkan tas gue di meja ini. Tandanya, gue pemilik resmi meja ini!" tandas si gadis mengangkat dagu. Tak kelihatan canggung, padahal ini kali pertama mereka bertemu.

Kepala Jeva menggeleng tegas. Memperpanjang perdebatan itu. "Gue sudah menargetkan meja ini bahkan sebelum sampai di kelas!"

"Gue sudah menargetkan sejak dari rumah!" balas si gadis.

"Gue sudah sejak pengambilan rapor kemarin. Gue akan selalu duduk di kursi belakang! Biar kalau ngantuk, bisa tidur tanpa diketahui guru," cerocos Jeva, sampai menunjuk- nunjuk meja dengan telunjuk kanannya.

Gadis cantik itu sama kepala batunya. Ia berkacak pinggang dan menilik Jeva tak takut. "Gue sudah ... sejak lulus SMP!" katanya ragu- ragu. Tak lama, ia mengibaskan tangan. "Pokoknya, meja ini punya gue!"

"Gak. Gue!"

"Gueee!" Mata besar gadis itu memelotot.

"Gue. Mau apa lo?" tantang Jeva. Baru kali ini, ia bertemu perempuan setidak anggun yang ada di hadapannya sekarang. Baru kali ini juga, Jeva tidak menuturkan ucapan yang halus dan manis pada perempuan yang ia jumpai, seperti yang ia lakukan sebelum- sebelumnya.

Jeva juga tidak akan menyapa dengan baik kalau perempuannya bar- bar seperti gadis ini.

"Engh ... teman- teman?" suara seseorang. Jeva dan si gadis kompak menoleh, menemukan seorang laki- laki seumuran merela menatap seraya menghela napas, kelihatannya lelah.

"Kursi di meja itu, ada dua. Kalian bisa duduk sama- sama kalau memang gak ada yang mau mengalah," sarannya.

Senyap.

Lima detik kemudian, si gadis lamgsung menyengir dan membuat Jeva memandangnya heran.

"Iya juga, ya. Ya udah, duduk bareng, ya?"

Kalau dia berubah lebih jinak seperti sekarang, Jeva juga tidak jadi kesal.

"Hm, oke." Jeva mengiakan tanpa keberatan.

Mereka kemudian benar- benar duduk satu meja. Tidak ada banyak percakapan. Sebab seorang pengajar yang merangkap wali kelas, masuk tepat di pukul tujuh. Satu kelas mengadakan doa bersama dulu, dipimpin siswa secara suka rela. Selama itu, semuanya aman- aman saja.

Mulai terusik ketika gadis di samping Jeva berbisik padanya.

"Psstt! Umur lo berapa?" tanyanya, tidak jelas.

Sebisa mungkin, Jeva tidak menoleh. "Enam belas."

"Lah, sama." Gadis itu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Jeva. "Tahun ini, gue tujuh belas," imbuhnya.

Akhirnya, Jeva kalah, dan menoleh pada si gadis. Ikut berbisik. "Sama."

Gadis itu cekikikan.

"Kucing gue baru aja lahiran," beritahunya. "Anaknya kembar tiga. Gue kasih nama ... A, B dan C. Soalnya, gue pelupa."

Apa hubungannya dengan Jeva?

Jeva mungkin sering berceloteh tidak jelas, sama seperti yang dilakukan gadis ini. Namun, kalau Jeva yang mendengar celotehan asal orang lain, entah mengapa rasanya agak aneh dan mengherankan.

Barangkali itu yang orang lain rasakan ketika Jeva mulai berceloteh tentang apa saja.

Gadis itu tiba- tiba mengulurkan tangannya. "Gue Shivani."

Jeva memandanginya sangsi. Ia bergulir sebentar pada wali kelas yang sedang menjelaskan segala macam peraturan selama pembelajaran di kelas sebelas. Merasa aman, Jeva kembali menatap gadis itu—Shivani.

"Shiva?" Bermaksud menanyakan nama panggilan yang lebih singkat.

Dia menggeleng. "Vani."

Kemudian, Jeva menerima uluran tangan Shivani. Tersenyum lebar. "Gue Jeva, cowok paling ganteng satu angkatan."

"Hih, biji kuaci," cibir Shivani yang segera membuat keduanya tergelak.

"Lo punya kucing?" Shivani kembali memelankan suara ketika wali kelas terlihat mengedarkan pandangan ke penjuru kelas.

Lebih hati- hati, Jeva berbisik, "Gak."

"Mau lihat kucing gue? Imut. Nanti, gue kirim fotonya sama lo. Lewat media sosial aja. Minta, dong."

Tidak keberatan, bahkan tanpa perlu pikir panjang, Jeva menuliskan nama media sosialnya yang paling aktif di secarik kertas, lalu menyerahkan pada Shivani.

Shivani mengambil dan segera membacanya. "Wah, oke. Nanti sekalian gue follow. Kalau gak lo follback, foto kucing- kucingnya gue tarik."

"Gak ada ngaruh sama gue," heran Jeva.

Akan tetapi, Shivani mendecak. "Is! Gue ngancem doang!"

Jeva tertawa pelan. Melihat Shivani, Jeva merasakan sesuatu.

Bahwa ia telah menemukan sesuatu, lagi.

Dan ucapkan salam perkenalan pada Shivani, gadis cantik yang akan jadi obat dalam kisah cinta Jeva yang sempat terluka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dan ucapkan salam perkenalan pada Shivani, gadis cantik yang akan jadi obat dalam kisah cinta Jeva yang sempat terluka.

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang