| Teriak |

57 11 0
                                        

Menjelang ujian akhir semester satu, sekolah mengadakan perlombaan. Unik memang. Mengingat biasanya perlombaan seperti itu justru diadakan ketika ujian selesai, namanya classmeeting. Namun, ketentuan di sekolah Jeva berbeda.

Sebagai sepasang sahabat yang dijuluki best couple milik kelas sepuluh sosial dua, Jeva dan Rainey langsung didaftarkan dalam perlombaan menyanyi yang menjadi salah satu kontes dalam rangkaian acara. Meski kaget, baik Jeva atau Rainey tidak ada yang menolak. Keduanya telah membicarakan semuanya dengan ketua kelas, dan berakhir pada persetujuan tanpa lama.

Hari ini, mereka sudah siap naik ke panggung.

Rainey mungkin bukan pemilik suara paling bagus, tetapi suaranya yang halus cukup enak didengar ketika bernyanyi. Juga, Rainey tidak buta nada. Jeva yang bisa memainkan gitar menjadi pendukung. Permainan alat musik petik itu memang tidak begitu Jeva kuasai. Namun, ia tahu dasar- dasarnya dan mampu menyeimbangkan ketikan senar dan nada lagu. Komposisi pas.

Selama menunggu di belakang panggung, Rainey tidak henti- hentinya meremas tangan. Riasan tipis di wajahnya tampak mulai dijatuhi bulir-bulir keringat. Jeva mengambil sehelai tisu dan menyeka peluh di dahi dan ujung hidung gadis imut itu.

"Je, gugup," adu Rainey, yang kakinya pun mulai bergerak tidak nyaman begitu peserta lain menyelesaikan penampilan mereka di atas panggung. Selanjutnya, giliran Jeva dan Rainey. "Duh, giliran kita!" kata Rainey heboh.

Jeva tertawa kecil. "Ney, dengarkan gue," Jeva arahkan wajah Rainey untuk menatap padanya. "Kita sudah latihan. Di depan anak kelas, mereka bilang kita sudah bagus. Terus, mau khawatir apa lagi? Gugup karena apa? Lo cantik," tutup Jeva seraya menyelipkan rambut Rainey ke belakang telinga.

Tarikan napas Rainey panjang, ia kemudian mengembuskannya perlahan. Ia menatap Jeva dalam, dan tersenyum segera.

"Gue, lo, kita bisa," katanya. Jeva turut mengulas senyum dan mengangguk.

Nama dan kelas mereka disebutkan oleh panitia perlombaan itu. Jeva—dengan celana levis hitam yang berlubang di salah satu lututnya, kaus polos putih berbalut kemeja kotak- kotak berwarna hitam putih— menarik tangan Rainey, yang saat ini menggunakan gaun pendek dengan jenis A-line dress berwarna hitam polos, lengannya panjang sampai di pergelangan. Mereka berdua naik ke atas panggung, mengambil posisi. Jeva duduk di kursi yang telah disediakan, Rainey berdiri di sampingnya, mengatur ketinggian mikrofon.

Lima menit berikutnya, kedua sahabat itu larut dalam penampilan terbaik yang bisa mereka persembahkan.

Kegiatan itu usai begitu permainan gitar Jeva selesai dan Rainey yang membungkuk singkat. Tepuk tangan terdengar, mengiringi langkah Jeva dan Rainey menuruni panggung.

Di belakang, Jeva menepuk- nepuk puncak kepala Rainey sambil tersenyum hangat.

"Bagus. Lo hebat," pujinya pada Rainey.

"Je, apa kita bisa menang?" Ia bertanya khawatir. Alisnya berkerut.

"Menang atau gak, yang penting lo sudah melakukan yang terbaik, Ney," ucap Jeva lembut. Mengusap pipi Rainey singkat.

Pertanyaan Rainey itu kemudian terjawab ketika pengumuman pemenang kontes menyanyi. Jeva dan Rainey ada di peringkat lima. Hanya tiga besar saja yang dipanggil naik ke atas panggung dan menerima hadiah. Piala bergilir diberikan untuk peringkat pertama.

Jeva tidak masalah dengan kekalahan itu. Ia sudah melakukan yang terbaik. Lagipula, para peserta yang masuk tiga besar itu memang punya talenta yang luar biasa. Jeva sangsi mereka merupakan amatir, pemenang-pemenang itu mungkin saja profesional dalam bidang ini.

Menoleh, Jeva menemukan bibir Rainey mengerucut, matanya menahan tangis.

"Kok nangis?" Jeva menyentuh sudut mata Rainey dan menyeka sudutnya. "Kenapa, hm?" tanyanya pelan.

"Kita kalah ..." cicit Rainey, suaranya bergetar.

"Terus?"

Rainey memukul pelan dada Jeva. "Sedih!"

Jeva tergelak singkat.

"Rainey hebat. Sudah berani tampil dan dilihat seluruh siswa sekolah bahkan guru, itu udah menunjukkan kalau Rainey yang terbaik. Gak usah nangis. Lomba itu biasa kayak gini. Yang penting jangan putus asa. Sudah ya, cantik."

Bujukan Jeva memang efektif. Rainey tidak jadi menangis. Tindihan air mata itu perlahan mengering tanpa perlu jatuh. Jeva terkekeh, kemudian menarik Rainey masuk ke dalam pelukannya.

"Sudah. Rainey udah lama menang, kok, di hati Jeva, hehe."

"Ngalus, huuu!"

Mereka tidak tahu bahwa sedang ada yang mengawasi gerak- gerik keduanya.

Mereka tidak tahu bahwa sedang ada yang mengawasi gerak- gerik keduanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mau pacar kayak Jeva :(

BTW, TERIMA KASIH SUDAH BERTAHAN SEJAUH INI, SAYANG!

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang