| Kejam |

66 8 0
                                        

Hari ini, rumah yang menjelma neraka bagi Jeno, ada penghuninya.

Melirik sedikit ketika ia mendorong pintu membuat Jeno bisa melihat ada Farah yang duduk melipat kaki secara anggun di sofa ruang tamu. Bak pengawal, Dicky berdiri di sampingnya. Entah apa, tatapan mereka punya maksud tertentu.

Jeno berusaha tidak peduli. Membangun tembok setinggi- tinggi yang ia mampu.

"Habis jalan- jalan sama pacarmu itu, ya?" Suara Farah merebak. Sampai di kalimat itu, Jeno masih berjalan lurus tanpa terusik. "Siapa namanya? Duwi?"

Pengucapan nama yang ditekan itu sukses menghentikan langkah Jeno. Tidak bisa untuk tidak merasa diusik.

Farah tersenyum miring. "Ah, gadis miskin yang punya Ayah penyakitan itu, ya."

Meski ia sakit hati, meski pedih penghinaan seringkali membuat kepala Jeno pening sampai membentur- benturkannya ke dinding, Jeno akan tetap diam. Selagi bukan hal- hal penting di hidupnya. Namun, perihal Duwi tidak akan Jeno abaikan. Farah tidak punya kuasa untuk mengganggu ketenangan Duwi.

Bibirnya lurus, tetapi mata kecilnya menukik tajam Farah.

"Kamu tahu, Jeno?" Farah menurunkan satu kaki jenjangnya dari paha, seraya meletakkan gelas yang biasa digunakan untuk minum bir, ke atas meja. "Mama ini aktris terkenal."

"You think I care?" Jeno tertawa sinis.

"Tunggu dulu. Mama belum selesai," balas Farah, agaknya senang dengan percakapan ini. Ia tersenyum penuh makna. "Kalau ada yang gak beres dalam keluarga kita, Mama bisa kena skandal."

"That is none of my business," sahut Jeno malas.

"Mama harus membuat kamu sadar bahwa yang kamu lakukan ini berbahaya untuk karir Mama!"

"What do you want?"

"Tinggalkan gadis itu," lontar Farah.

Jeno terdiam beberapa saat. Hingga ia tertawa dengan keras. "Oh, you just a stupid woman," gumam Jeno, masih terdengar sampai Farah meneriakinya, "Mama ngerti apa yang kamu katakan, Jeno!"

"Jeno juga ngerti. Mama berhenti mengatur- ngatur Jeno. Jeno benci Mama!" balas Jeno berteriak. Urat leher dan pelipisnya tampak ke permukaan. Berang.

Farah menggeram. "Duwi itu, gadismu itu, dia miskin! Dia bisa membuat Mama dikejar- kejar media karena hubungan kalian!"

"Kenapa Mama peduli?" tanya Jeno.

"Karena ini demi masa depan karir Mama."

"Ya, akan selalu demi itu," sela Jeno miris. "Mama menyedihkan."

"Mama gak peduli apa katamu, Jen. Tapi, jauhi gadis itu!"

"Gak!" tentang Jeno. "Jeno punya hak untuk hidup Jeno sendiri. Berhenti mengatur- ngatur!"

"Dia miskin." Farah sudah tidak bisa menahan diri. Ia berdiri dengan gurat wajah penuh kekesalan.

"Pacar Mama itu juga miskin," tunjuk Jeno pada laki- laki di samping Farah itu. "Dia berasal dari tempat yang sama dengan Duwi. Dicky itu kakak laki-lakinya Duwi, Ma."

Dicky tampak tidak menyukai ucapan Jeno barusan. Ia sudah mengepalkan tangan, tetapi Farah menahan dadanya agar tidak melangkah lebih jauh.

"Mama tahu," kata Farah tenang, melipat tangan ke dada.

"Lalu? Bukankah dia juga sama aibnya kalau Mama menganggap Duwi begitu?" desak Jeno.

"Kamu ini pembangkang," desis Farah. "Turuti saja, kenapa, sih?"

"Selama ini Jeno sudah terlalu menurut, sampai gak punya masa depan kalau terus- terusan menuruti Mama." Getar suaranya mencekat di kerongkongan. Jeno menelan bulatan kering, merasakan tak ada air di lidahnya. Tercekik.

Pembicaraan seberat ini membuat dada Jeno pedih. Panas di kepalanya singgah di mata, perlahan berubah kemerahan bersama munculnya bening hangat itu. Sambil menahan napas, Jeno juga berusaha menghindari jatuhnya bulir air mata. Jeno kuat. Jeno bisa menghadapi Farah, beserta segala keegoisannya.

Jeno punya Duwi dan Danu. Ia harus mengingat itu untuk membuat dirinya lebih kuat.

Hening. Jeno tidak tahu apa dia sudah berhasil membungkam Farah, tetapi menepis pertengkaran selanjutnya membuat Jeno cepat- cepat berbalik. Ingin pergi.

"Jeno."

Jeno mendesis frustrasi dalam hati.

Dengan terpaksa, terkesan ogah- ogahan, Jeno menolehkan kepala. Dan segera membelalak ketika melihat Danu tak sadarkan diri di atas kursi roda pemberiannya.

"Mama sudah bicarakan dengan Duwi soal negoisasinya, karena Mama tahu kamu akan menolak," kata Farah. Senyumannya luar biasa angkuh. "Duwi harus memilih, antara kamu, atau Ayahnya."

Segera Jeno merasa lututnya melemah. Kemudian ia ambruk di atas lantai yang dingin.

Takdir memang kejam. Tidak mau ramah padanya, dan lingkar sukanya.

 Tidak mau ramah padanya, dan lingkar sukanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

....

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang