Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
"Sori, Je. Selain cuma mau berteman, gak ada maksud lain, kok."
Kedua mata Jeva kontan memutar malas. Jika ini telah direncanakan dan bukannya mendadak, Jeva pasti sudah menghindari anak laki- laki yang dalam sekali pandang saja sudah jadi sangat menyebalkan di mata Jeva. Diingat, karena orang inilah Rainey berbohong dan mulai lengang dari dirinya.
Entah itu faktanya, atau hanya perasaan Jeva yang terlalu sensitif saja.
Yang jelas, Rainey tidak tahu menahu soal ini. Jeva yang memilih pergi ke kantin tanpa ditemani siapa pun, kemudian bertemu Yonash di koridor kelas dua belas. Ia dibawa ke lapangan utama. Di sana, Yonash mulai bersuara seperti tadi.
Dorongan darimana sampai Yonash mau menemuinya begini. Sampai meminta maaf segala.
"Berteman? Ngasih kalung, ya. Cara berteman lo beda," komentar Jeva.
"Ya, lo harus terbuka sama perbedaan. Cara setiap orang, gak sama," balas Yonash.
Yonash tampan, tingkatnya satu di bawah Jeva. Namun, Yonash lebih tinggi dan berisi. Jeva terlihat kecil di dekatnya.
Mungkinkah Rainey menyukai Yonash karena penampilan fisiknya yang juga tak kalah menarik?
Jeva mengembuskan napas kasar. Ia balas menatap mata Yonash, tak gentar. "Udah? Ada yang mau diomong lagi?"
"Ada." Yonash mengangguk. Jeva mengerutkan kening, menunggu. "Tolong jangan terlalu kekang Rainey. Lo bukan pacarnya, 'kan?"
"Siapa yang kekang siapa, kata lo?" tantang Jeva. Dagunya naik. Perbedaan tinggi badan bukanlah masalah. Kini, Jeva terlihat jauh lebih garang dan siap menerkam.
Selain sensitif, Jeva juga emosional.
"Lo, mengekang Rainey," tekan Yonash di setiap katanya. Menunjuk- nunjuk dada Jeva keras.
Kedua tangan Jeva mengepal, hingga kuku-kuku jemarinya tertancap di telapak tangan. Tatapannya menjelma tajam, selayak mata elang. Seolah, ia bisa membelah kertas lewat tukikan matanya itu.
"Rainey sahabat gue, kalau lo lupa." Jeva masih ingat posisinya di sini. Ia siswa biasa, bukan anak pemilik yayasan atau sekolah. Kalau berbuat onar, ia bisa saja dikeluarkan tanpa pertimbangan. Jeva mengatur napas, menahan buncahan di dalam dadanya.
Tapi, Yonash memang sudah merencanakan ini semua. Ia sengaja memancing-mancing Jeva lewat permainan katanya.
"Sahabat, tapi lo sadar gak kalau lo terlalu posesif?"
"Posesif apa sih, anjir?!"
Atmosfer memanas. Di saat itu, Rainey datang dari arah belakang Yonash dengan setengah berlari. "Je!" panggilnya.
Tentu dengan cepat Jeva segera menengok. Tidak sadar, bahwa Yonash tersenyum miring untuk hal-hal yang hanya ia sendiri ketahui.
"Ney?" gumam Jeva.
Sampai gadis berbando hitam itu di antara Jeva dan Yonash. Ia memandang Yonash terlebih dahulu, kemudian jatuh terakhir pada netra Jeva. Rainey tatap lama, memaku Jeva dalam obsidian legamnya.
"Bagus, kalian ada di sini. Jadi Je, gue sekalian mau minta maaf sama lo. Gue tahu lo marah karena kemarin gue ketemu sama Yonash diam- diam. Hm, itu gak sengaja, kok. Waktu gue mau ke kamar mandi, kebetulan ketemu Yonash yang lagi jalan ke perpustakaan. Udah. Terus ngobrol sedikit. Mungkin pas itu, lo lihat, ya?" cerocos Rainey, yang kedua matanya menyipit sebab tak tahan menerima sinar matahari yang terik.
Amarah Jeva musnah. Ia menundukkan kepala, terdiam.
Keterdiaman itu berarti iya bagi Rainey.
"Tuh 'kan benar. Maaf, ya? Ini Yonash nemuin lo kenapa?"
"Gue juga mau minta maaf sama Jeva, Ney," potong Yonash cepat. Rainey segera menoleh padanya. "Gue ... dengar dari teman sekelas kalian kalau kalian marahan. Eh, Jeva sih yang gak mau ngomong sama lo. Jadi, gue berinisiatif minta maaf."
"Ah ... makasih ya, Yo," kata Rainey, lalu beralih pada Jeva. "Yonash sudah minta maaf, gue juga. Jadi, jangan marah lagi. Ya?"
Permasalahan itu, mungkin sudah selesai bagi mereka. Bagi Jeva, masih belum. Ia tidak menjawab, tidak mau. Selama itu, yang ia tatap hanyalah senyuman miring Yonash yang sarat akan suatu hal, dan Jeva masih tak tahu apa maksud terselubung anak laki-laki ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
16 tahun adalah usia yang melelahkan. Dan ingat bagaimana Jeva membanggakan usianya itu kepada kalian?