Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Dengan rambut pirangnya, Juna persis sang Papa di usia muda.
Mereka sama saja. Idola pada masanya, tetapi Juna peduli dan memberi respons baik. Papanya dulu, boro-boro. Menatap saja enggan. Perangai Juna yang tidak terlalu dingin menurun dari sang Mama.
Jeans hitam, kaus polos hitam dibalut kemeja merah kotak- kotak, sepatu kets putih. Sederhana, tetapi Juna selalu punya aura memikat tersendiri. Selesai mempersiapkan diri, ia pun menyambar tas dari atas meja belajar dan turun dari kamar.
Lemparan kunci segera Juna tangkap ketika ia baru saja melangkahi anak tangga terakhir.
"Thanks," kata Juna pada Jeva, yang kini mengangguk singkat dan kembali memasuki ruang makan.
Juna mengikuti adiknya itu.
"Mama?" Juna bertanya soal keberadaan sang Mama ketika ia hanya menemukan Papa dan Jeva ada di sana.
"Di luar. Belanja," sahut Papa singkat.
Meski tak lagi muda, Papa masih sering mewarnai rambutnya. Tidak pirang, kali ini coklat tua. Wajah Papa juga masih mendukung. Ia tampan, tak terkikis masa.
Juna mengangguk dan menggigit apel utuhnya. Beberapa saat, mereka dipeluk hening. Hanya sendok dan garpu yang dipakai Papa dan Jeva sesekali bersentuhan, menghasilkan denting. Ketika suara kresek dan langkah kaki mendekat, barulah Juna mengangkat kepala dan mendapati Mama menuju meja makan.
"Tumben, Ma, belanja di sini?" cetus Juna.
Mama tersenyum dengan rambut pendeknya yang paling Juna suka. Hitam, dan cocok untuk tipe wajah Mama yang agak tembem.
"Iya. Sesekali, mau nyapa ibu- ibu komplek. Eh, itu susunya diminum, Kak."
"Iya, Ma."
Mama masuk ke dapur, dan Papa menyusul tak lama. Juna juga Jeva acuh tak acuh saja, sebab mengerti kedua orang tua mereka pasti butuh waktu berdua. Menjalin romansa, mempererat rasa.
"Otw, gak?" tanya Juna sembari berdiri.
Jeva menenggak sisa susu hangatnya sebelum menyahut. "Kuy."
Jeva langsung menuju ruang tamu untuk memakai sepatu, sedangkan Juna berinisiatif menumpuk piring kotor dan mengantarkannya ke dapur. Juna sempat mengintip dulu, melihat keamanan kondisi untuk ia bergabung dalam satu ruangan dengan orang tuanya. Tidak ada yang mereka lakukan. Kecuali mengobrol tanpa tatap, karena Mama yang sedang mencuci sayuran dan Papa duduk di kursi bar.
Juna masuk dan segera menaruh dua tumpuk piring ke atas wastafel.
"Tetangga sebelah udah pulang, kayaknya." Suara sang Mama menarik Juna untuk menguping pembicaraan itu lebih lanjut.
"Oh, ya?" Papa merespons. "Lama juga, ya, kosong. Ini sayurannya aku bantu masukin kulkas, gak?"
Kepala Juna menoleh spontan pada kedua orang tuanya. Tidak ada alur panjang untuk topik mengenai kepulangan tetanngga sebelah, alias keluarga Zuchman. Juna mengerjap hingga akhirnya menghela napas.
"Ma, Pa, Kakak berangkat, ya, sama Adek," pamit Juna.
"Hati- hati, Kak." Mama tersenyum, dan Papa hanya mengangguk.
Juna penasaran, apa benar Nakaisha sudah pulang setelah berkunjung ke rumah neneknya?
"Mau ke mana lagi?" Juna bertanya heran begitu Jeva datang dari arah berlawanan dengannya di ruang televisi.
"Mau pamit, tadi lupa." Anak laki- laki enam belas tahun itu menyengir lebar. Mengundang decakan Juna, mengirim sebuah jentikan di dahi mulus Jeva.
Juna kemudian melarikan diri ketika Jeva berteriak, mengadu pada sang Mama.
Kaki Juna bergerak cepat, melewati ruang tamu, sampai di selalasar dan turun hingga ke sisi jalan. Ia berpura- pura melewati gerbang rumah Nakaisha, dan kontan tersenyum ketika melihat Nakaisha dengan segala kecantikannya yang khas tengah menyiram tanaman.
Juna sadar, setengah sadar, entahlah. Yang jelas, ia segera menyapa Nakaisha dengan senyuman paling lebar, juga antusias yang jarang dia keluarkan.
"Pagi, Kai!"
Nakaisha menoleh dengan agak tersentak. Beberapa detik, ia membulatkan mata, tidak menyangka pada keberadaan Juna yang tiba- tiba.
Juna pikir ia tidak akan direspons. Juna kira ia akan segera merutuki diri karena bertingkah aneh di depan Nakaisha. Namun hari ini, untuk pertama kalinya, Nakaisha menatap tepat ke dalam irisnya dan mau tersenyum kecil untuk membalas sapaan Juna.
Juna mematung.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.