Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
"Lo suka baca?" Juna bertanya saat Nakaisha melompati sofa dan menggeser pintu kaca yang terhubung dengan balkon. Bahkan setelah itu, Juna mengerjap mata tak yakin, soal enerjik yang Nakaisha sedang tunjukkan.
Gadis itu berbeda seratus delapan puluh derajat. Juna sangsi ini Nakaisha yang dulu- dulu sudah ia kenal.
Setelah itu, Nakaisha sedang menatap langit yang cerah. Pemandangan yang lebih menyegarkan daripada area bawah, hanya ada rumah- rumah dan jalanan. Dari sini, Nakaisha juga bisa melihat pekarangan rumahnya.
"Rumah gue kelihatan dari sini," ucap Nakaisha. Suaranya halus. Ketika Juna perhatikan, senyumnya masih saja bertahan.
Apa yang terjadi sampai Nakaisha tak henti- hentinya tersenyum cantik seperti itu? Aneh.
Seperti biasa, bersama Nakaisha akan selalu memunculkan pertanyaan- pertanyaan baru. Sekarang, Juna menyusul ke dekat gadis berambut coklat tua itu dan mengulangi pertanyaan awalnya yang belum dijawab.
"Lo suka baca, Kai?"
Penggunaan nama seseorang di akhir perkataan, selalu menjadi poin tambah sendiri bagi Juna.
Kedua alis Juna terangkat. Butuh waktu untuk ia memahani ucapan Nakaisha, yang mana setelahnya ia segera menganggukkan kepala. Lantas larut dalam pandangan yang satu dengan Nakaisha. Langit cerah.
"Lo terlihat lebih cerah dari biasanya. Hm, apa hanya perasaan gue?" lontar Juna yakin tak yakin. Semilir angin datang, membelai lembut kulit mereka. Meniup panjang rambut Nakaisha, rambut pirang Juna yang mulai jatuh lemas di dahi.
Bahkan usai Juna berkata seperti itu, Nakaisha sempat menunjuk ke salah satu burung camar yang melintas di hadapan mereka dengan antusias.
"Gue senang, habis ketemu Oma, soalnya." Hanya itu. Nakaisha mungkin jujur, mungkin tidak. Setelahnya, Juna bungkam ditekan perasaan tak menentu.
"Lo suka baca?" Juna terhentak begitu suara Nakaisha sampai di telinganya setelah cukup lama diam. Lamunnya buyar, sampai- sampai ketika Juna memandang iris coklat terang Nakaisha, ia hampir tak berkedip.
"Ah, suka," balas Juna pelan.
"Bacain satu buku kesukaan lo untuk gue, mau?"
"Gimana?"
Barangkali karena raut wajah Juna yang lucu karena bingung, Nakaisha jadi tertawa kecil melihatnya. Cantik sekali, Juna memuji dalam hati.
"Lo baca buku, gue mendengarkan. Mau?" Nakaisha menatap penuh pada netra Juna yang masih diam.
Tak lama, keinginan itu diwujudkan Juna. Diambilnya sebuah buku dengan sampul keras dari salah satu susunan rak, warnanya ungu muda. Di sana tertera tulisan cetak yang besar, huruf kapital semua
"Atarangi?" tanya Nakaisa ketika membaca tulisan di sampul buku itu.
Sambil mengambil posisi bersila di lantai balkon dan diikuti Nakaisha, Juna menganggukkan kepala. "Atarangi, dalam bahasa Polinesia artinya langit pagi."
"Ini kisah tentang cewek yang punya hidup sempurna, kecuali kakaknya yang autis," imbuh Juna.
Ia segera membuka buku di tangannya. Bersama buku, Juna seringkali melupakan dunia luar. Bahkan sekarang pun laki- laki tampan itu tidak sadar bahwa Nakaisha duduk sangat dekat dengannya. Antusias.
"Tokoh utamanya?" tanya Nakaisha lagi.
"Seyri, Renaldi, sama Naresal yang akan jadi pasangan Seyri dalam cerita ini," sahut Juna mudah.
Cepat Nakaisha mengangguk. Tidak mau lama- lama menunda. "Baca, ya. Gue mendengarkan."
Juna juga mengangguk. Sebelum benar-benar masuk dalam dunia cerita itu, Juna menyempatkan diri untuk melirik paras Nakaisha, yang lantas membuat jantungnya segera berdebar- debar keras.
Sedekat ini, Nakaisha terlalu menarik, hingga Juna tak sanggup untuk tak jatuh padanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Juna itu cenderung pendiam. Bahkan untuk jatuh cinta pun, ia melakukannya diam- diam.