Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Tidak ada apa pun yang terjadi begitu Jeno melangkah masuk ke dalam rumah—ah, neraka, yang besar dan megah ini. Kata salah satu asisten rumah tangga, Farah sedang ada jadwal syuting. Jeno tidak tahu apa, tidak mau tahu juga.
Selama ia sendiri di rumah, Jeno merebahkan diri di atas kasur. Rasanya, lelah. Sejenak saja, Jeno ingin bernapas selega-leganya. Tanpa bayang-bayang wajah Farah yang munafik, topeng pencitraan, juga kekasihnya yang tak tahu malu itu. Hanya menumpang hidup.
Bicara soal kekasih Farah, si Dicky, Jeno tertegun.
Dicky baru sekitar satu bulan dipacari oleh Farah. Setahu Jeno, usia pria itu 22 tahun. Selisih 20 tahun dari Farah sendiri. Selain itu, tak ada lagi yang Jeno ketahui soalnya. Selama Dicky ada dan tinggal satu rumah dengan mereka, selalu ada rasa sakit yang lebih parah menimpanya. Kadang, Jeno disuguhi pemandangan tidak mengenakkan. Seperti pakaian yang berantakan di lantai, suara- suara menjijikan, lalu mereka yang bersatu dalam keringat dan napsu yang membara.
Tidak kenal waktu juga lokasi. Di ruang tamu pun, mereka bisa melakukannya.
Seringnya, Jeno bersikap tak peduli. Seolah ia tidak melihat apa pun. Namun, sekuat apa pun ia mencoba, tetap ia akan menangis begitu sampai di kamar dan berhasil menutup pintu.
Jeno sudah biasa dengan makian soal ia anak haram. Apakah selanjutnya Jeno juga akan dikatai anak dari perempuan tidak benar? Rasa sakitnya pasti akan lebih kuat, meremat dada erat, perihnya menjalar ke seluruh tubuh.
Jeno tidak akan sanggup.
Pernah suatu waktu, Jeno langsung diserang begitu ia membuka pintu. Ada bau minuman menguar. Pastinya, sepasang kekasih itu mabuk. Dan Jeno dijadikan pelampiasan amarah yang tak ada habis. Semalaman, ia ditendang, ditinju, ditampar.
Jeno ahli berkelahi. Namun serangan tiba- tiba membuat kepalanya pening dan pengang duluan.
Ia tidak bisa melawan saat itu.
Mungkin bukan seperti dirinya, tapi Jeno menangis kala rasa pedih menggoroti dada. Satu- satunya yang bisa Jeno anggap keluarga, bahkan tak melakukan apa- apa di kondisi terburuk Jeno. Farah duduk di sofa, menyilangkan kaki, menenggak wine.
Tanpa berpikir Jeno bisa saja mati saat itu juga.
Barangkali, Jeno memang tidak pernah diinginkan. Kalau hidup pun, tidak ada untungnya.
Tak sadar, Jeno tertawa pahit. Ia, dan hidupnya yang miris. Juga takdir yang menunda kepastian di dalam dunia Jeno. Senangnya bermain- main.
Jeno bangkit, berjalan ke cermin tinggi di samping lemari pakaian. Beberapa lebam dan luka di wajahnya sudah diobati. Mencolok, ada sebuah plester berwarna merah jambu dan terdapat gambar boneka kucing. Itu milik Duwi.
Disentuhnya plester yang tertempel di atas hidungnya itu. Bertepatan, muncul wajah Duwi di pikiran Jeno. Senyumnya, mata indahnya yang kemudian basah begitu mengetahui bahwa Jeno memiliki banyak sekali luka.
Jeno tersenyum kecut. Duwi hanya belum tahu soal luka-luka lain. Yang tak terlacak, yang letaknya jauh dari raga itu sendiri.
Gadis itu mungkin bisa menangis berhari- hari jika Jeno ceritakan segalanya.
Saat Jeno mengukir senyum tipis dan berniat beranjak, suatu hal melintas cepat di dalam otaknya.
"Dulu, dia abang gue. Anak pertama rumah ini."
Sial. Jeno lupa soal itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Penulis tidak tahu mau komentar apa.
Dipersilakan pembaca budiman dan kesayangan mengeluarkan keluh kesahnya.