Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Jeno terbangun dengan mata terasa terbakar, juga bengkak.
Pedihnya masih terasa di ulu hati. Kepala Jeno berat, menyulitkan si empunya saat akan bangkit. Keras usahanya hanya untuk mendudukkan diri. Lima detik kemudian, ia kembali jatuh ke atas bantal.
Jeno tidak sanggup.
Memori cumbuan itu memenuhi otak Jeno. Menekan- nekan sampai rasanya luar biasa sakit. Lalu, teriak yang saling bersahutan, berlomba paling kencang terdengar tepat di gendang telinga Jeno, merongrong nyata di dalam kepalanya. Tak berkesudahan. Jeno sudah terlalu terpuruk.
Sekali lagi, ia menyesali kelahirannya di dunia kejam ini.
"Masih hidup."
Mata Jeno tidak sanggup membuka sempurna. Jadilah sekecil garis lurus yang mengintip, buram. Tubuh yang tinggi itu berjalan melewati pintu. Pakaiannya serba hitam. Jeno berpikir itu adalah malaikat maut, sebab terlalu kuatnya rasa sakit yang ia derita membikinnya ingin cepat- cepat mati saja.
Tetapi takdir yang senang mempermainkannya, tidak akan semudah itu melepaskan Jeno dari segala macam kepedihan.
Rambut pirang Jeno dijambak kasar.
"Kuat juga, ya. Masih hidup walau sudah gue hajar," kata laki- laki yang usianya tampak tua beberapa tahun saja dari Jeno itu.
Luka- luka di sekujur tubuh Jeno, ditekan tanpa perasaan.
Jeno berteriak.
"Sakit? Anak haram memang pantas diperlakukan begini." Laki- laki itu tertawa keras.
Jeno tertohok karena ucapan itu.
Dia benar. Jeno anak haram, lahir dari dua orang yang tidak punya ikatan pernikahan.
Tapi jika ia diberi kesempatan memilih sebelum lahir, Jeno ingin lahir dalam keluarga yang lebih baik. Ia ingin dicintai, dianggap ada, juga dihargai seperti anak beruntung lainnya. Jeno ingin berguna. Serta ingin- ingin yang lain hanya sebatas tak sampai hingga detik ini.
Pantaskah Jeno dihukum untuk dosa kedua orang tuanya?
"Dicky!" Samar Jeno mendengar suara Farah, juga ketukan hils-nya yang terburu- buru.
"Beb.." Laki- laki yang dipanggil Dicky itu menoleh pada Farah. Senyumannya lebar, menukik di salah satu sisi.
Farah lebih peduli pada tubuh lemah Jeno di atas lantai daripada eksistensi Dicky.
"Jen. Jeno!" Farah menelentangkan tubuh anaknya itu. Ditepuk- tepuk pipi Jeno berulang kali.
Jeno tidak bisa merespons.
Farah mendongak. "Kamu apain Jeno?"
"Tidak ada," balas Dicky acuh. Ia mengedikkan bahu dan menjejalkan kedua tangan di dalam saku celana.
Bibir Farah mendesis kesal. "Jawab jujur, kamu apain Jeno?!"
"Bermain," cetus Dicky. "Oh ayolah, beb. Dia sudah biasa di begitukan."
"Aku tahu." Farah berlari kecil menuju lemari pakaian Jeno. Mengusak isinya, mencari sesuatu yang justru ada di laci bawah nakas saat ia menoleh ke arah sana.
Kotak P3K itu Farah pangku. Tangannya dengan cekatan menuangkan obat merah ke atas kapas.
"Kamu peduli dia, beb?" Dicky bertanya sinis.
Farah membersihkan luka- luka di tangan dan wajah Jeno cepat. "Gak." Jeda sejenak. Farah membalut luka basah itu dengan plester. "Aku cuma gak mau media tahu soal ini. Nanti, akan ada gosip."
Dicky diam.
Setengah jam kemudian, seluruh luka Jeno sudah diobati. Tubuh rapuhnya dinaikkan ke atas kasur. Dengan sabar, Farah mengganti semua pakaian Jeno dengan yang baru. Sejak pulang tadi malam, anak itu tidak sempat berganti.
Dicky sudah telanjur menghajarnya ketika Jeno baru membuka pintu.
Saat itu, Farah juga dalam kondisi mabuk hingga tak bisa menghentikan kekasihnya menyakiti putra tunggalnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeno Lindraka itu .... (silakan lanjut sendiri, yaaa)
Sudah mental, fisiknya pun kena hantam. Pengin jadi sandaran Jeno, deh, ehem.
Terima kasih kunjungan dan jejak yang tertinggalnya. seirasjiwa menyayangimu!