| Sinis |

59 8 1
                                        

Classmeeting, dan Jeva tidak berminat mengikuti perlombaan apa pun.

Seluruh anak kelasnya antusias bergabung dalam acara pembukaan, yang kemudian berpencar mengikuti jadwal perlombaan yang ada. Jeva diam sejak tadi, duduk di tempat tanaman di pinggir lapangan utama. Ia bahkan hanya singgah sebentar di aula, sekadar mengisi absensi, kemudian mengacir mengasingkan diri.

Jeva tidak punya semangat.

Ada ragam perlombaan. Di panggung utama, ada kontes menyanyi. Melihatnya membuat Jeva senang, sendu, lalu kesal sendiri. Dulu, Jeva ada di atas sana bersama Rainey. Berjuang memberikan penampilan terbaik. Meski akhirnya, mereka kalah. Jeva justru mendekap Rainey yang saat itu berkecil hati.

Tidak mudah membuang gadis itu dari pikirannya.

Peserta pertama naik dan mulai menyanyikan lagu pilihan yang disediakan panitia. Penampilannya solo. Jeva menyaksikan dengan bungkam dari jauh, enggan bergabung dengan keramaian. Peserta itu cantik, rambutnya panjang, kulitnya eksotis.

Bahkan, Jeva teringat Rainey ketika melihat parasnya.

Sial, Jeva benar- benar tidak bisa lepas dari Rainey sebentar saja. Ia mendesis, merutuki kebodohannya. Namun meski sadar bahwa dirinya terlalu berlebihan membawa Rainey dalam pikiran, kini Jeva mengedarkan pandangan. Menelisik di antara keramaian, di sudut kelas, mencari Rainey.

Jeva yang menyedihkan.

Ia memilih beranjak akhirnya. Ditepuknya celana bagian belakang, lalu berjalan di koridor kelas dua belas. Semua kelas dikunci, siswa dilarang masuk. Karenanya, Jeva tidak akan naik ke kelas dan mendinginkan diri. Ia memilih ke parkiran saja, duduk- duduk di atas motor yang terparkir.

Namun, suara tawa yang tak asing itu membuatnya berhenti.

Jeva tahu ia overdosis memikirkan Rainey belakangan ini. Akan tetapi, suara tawa gadis itu terlalu nyata. Pasti bukan hanya di dalam kepalanya. Maka dengan cepat, Jeva menoleh ke arah yang ia yakini sebagai asal suara. Dan ya, Rainey di sana. Di koridor menuju kantin, tempat yang sepi di jam- jam pagi begini.

Dia tidak sendirian. Ada laki- laki dengan topi putih bersamanya. Jeva lihat, rahang dan bibir si laki-laki lebam. Kalau diingat, Jeva pernah menghantam Yonash di bagian itu, sampai pingsan. Memicingkan mata, dan akibat pergerakan si laki-laki yang agak bergeser, Jeva baru bisa melihat dengan jelas. Itu memang Yonash.

Rainey masih bertemu dengannya. Mau berapa kali Jeva katakan untuk jangan? Astaga.

Melihat Yonash, mengingatkan Jeva soal kejadian di kelas dua belas itu. Terlebih, ucapan Yonash yang memancing emosi Jeva membludak.

Demi apa pun, Jeva tidak bisa membiarkan Rainey diperlakukan begitu.

"Ney." Jeva bersuara, nyaris berbisik pada diri sendiri. "Rainey," panggilnya lebih kuat.

Rainey memutar kepala, dan Yonash turut menoleh. Sedetik kemudian, Jeva membelalak oleh tindakannya sendiri. Untuk apa ia memanggil Rainey, di depan Yonash, setelah pertengkaran mereka pula? Jeva menggeleng. Ini salah, ia tidak bisa berhadapan dengan Rainey.

"Iya, Je?" Rupanya, Rainey masih mau menyahut.

Oleh karena tatapan hangat itu, Jeva tertegun. Ah, sudah berapa lama Jeva tidak mendapatkan tatapan Rainey yang tulus? Rasanya, sudah lama. Tak sadar, Jeva jatuh lagi, lagi, tanpa tahu kapan berhenti.

"Eh, Jeva." Yonash menyapa. Senyumnya penuh makna. Namun yang jelas, ia seperti mengibar bendera permusuhan dengan Jeva.

Jeva memandangnya tajam. Tidak ditutup- tutupi.

Barangkali, itu tujuan Yonash. Membuat Jeva menatapnya penuh benci, membikin Rainey sadar bahwa Jeva masih tak bisa menerima kehadirannya.

Rainey bereaksi tak terduga. "Mau lo tonjok lagi, Je?"

Yang diajak bicara menoleh. "Ha?" tanyanya.

Kedua tangan Rainey melipat ke dada. "Lo masih sama, ya. Sensi sama Yonash."

"Gue gak ngapa- ngapain," bela Jeva. Dia memang tidak berbuat apa pun sejak tadi. Atas dasar apa Rainey menyerangnya begitu?

"Lo natap Yonash gak santai, Je."

"Mata gue emang begini."

"Terserah."

Tidak jelas.

Bahkan sebelum mengatakan dan berbuat apa pun, kekesalan sudah lebih dulu membisik, menyuruh Jeva pergi saja. Logika juga bergabung, mengatakan bahwa Rainey sudah sepenuhnya berpihak pada Yonash. Di kondisi ini, Jeva yang dianggap jahat karena telah melakukan pukulan pada Yonash. Yonash yang terluka. Jeva ditunjuk- tunjuk. Jadi, tidak ada lagi tempat Jeva di sana. Ia penjahat di mata orang- orang ini.

"Gue cuma mau bilang, hati- hati sama cowok ini," sembur Jeva, menunjuk malas pada Yonash dengan dagunya. "Dia gak sebaik yang lo pikirkan."

Rainey terlihat mengulum bibir dan menganggukkan kepala. "Ya, gue sudah terlatih. Berkat lo, gue tahu yang sempurna dari luar, gak benar- benar baik di dalam. Ya'kan, Je?"

"Lo barusan bilang gue gak baik?" serang Jeva tak terima.

"Lo yang bilang, bukan gue."

"Hah." Jeva tidak habis pikir. Mulut Rainey luar biasa sinis, padahal ia baru beberapa hari berteman dengan berandalan macam Yonash. Pada akhirnya, Jeva letih, dan memutuskan untuk bersikap masa bodoh.

"Ya, terserah." Ia kemudian pergi dari sana.

" Ia kemudian pergi dari sana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang