| Debar |

40 11 0
                                        

Usai berdebat dengan adiknya, soal siapa yang akan keluar rumah untuk menaruh sekantung sampah di tempat pembuangan, Juna kalah. Terpaksa ia yang membawa serta kantung sampah itu menuju luar gerbang rumah.

Juna disapa angin malam saat ia membuka pintu rumah.

Lingkungan komplek perumahan ini sepi pada malam hari. Tidak heran, tidak menyeramkan juga. Ada lampu jalan yang terang, menyorot jalanan lengang. Keamanan di daerah sini juga tergolong ketat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Sekantung sampah itu Juna taruh dengan benar di tempatnya.

Hanya itu tugasnya di luar. Karena telah diselesaikan, Juna segera berbalik badan, hendak masuk kembali ke dalam rumah.

Namun, suara isakan halus yang terkesan gemetar itu menarik atensi Juna.

Hawa dingin semakin menusuk, lalu suara itu terdengar mengerikan ketika sampai di telinga Juna. Malam-malam begini, dalam kawasan komplek yang tenang, siapa yang menyendu hingga menangis begitu?

Bulu kuduk Juna kontan berdiri.

Juna terbentuk menjadi pribadi yang seringkali dihujani rasa penasaran. Itu sebabnya, kini ia bahkan dirangkul banyak pertanyaan. Paling utama, siapa pemilik dari suara yang terdengar sangat pilu di bawah naungan langit pekat ini.

Ia rela mengenyahkan gemercik takut, dan berjalan pelan ke arah yang diyakini sebagai asal suara.

Kemudian, Juna dipertemukan pada Nakaisha yang terduduk di balik gerbang rumahnya.

Kalau saja Juna tidak terbiasa dengan hoodie abu- abu yang sering Nakaisha kenakan, ia pasti tidak akan bisa menebak bahwa gadis berambut terurai yang tengah  memeluk lutut itu adalah tetangganya sendiri.

Juna bertanya- tanya lagi. Kenapa Nakaisha ada di luar rumah, pun dalam keadaan sekacau ini?

Langkah Juna membawanya semakin dekat pada raga Nakaisha.

"Kai."

Nakaisha tak bergeming.

Sampai kini, Juna tidak pernah bisa mengerti tentang Nakaisha juga segala teka- tekinya. Ada berapa Nakaisha yang terlihat, ada berapa wajah dan perangai yang Nakaisha punya. Di setiap waktu, Juna melihatnya berubah- ubah.

Terkadang sinis, biasa saja, rapuh, kini hancur.

Tidak pernah sempat untuk benar- benar Juna ketahui.

"Dingin di sini," ujar Juna, berdirinya di sisi jalan. Berjarak kurang lebih satu meter dari posisi Nakaisha.

Selain kedua pundak Nakaisha yang bergerak naik turun tanpa tempo tetap, tak ada lagi yang terjadi.

Apa Nakaisha punya masalah dengan kedua orang tuanya?

Juna tahu ia tidak seharusnya khawatir, sebab yakin bahwa kawasan di sekitar rumahnya aman. Bersih dari tindak kejahatan apa pun. Akan tetapi, dalam konteks membiarkan Nakaiska tetap berada di luar tanpa teman, berbeda lagi. Juna tidak bisa untuk tenang. Ini perihal keselamatan seseorang.

Ia menghela napas. Setidaknya, ada yang Juna pahami betul soal Nakaisha.

Di waktu- waktu tidak darurat saja, gadis itu enggan bicara banyak. Saat sedih begini, pasti keengganannya menjelma berkali- kali lipat. Bertanya mengapa tidak akan membuahkan hasil.

Jadi, Juna mengambil duduk di pagar pembatas–antara halaman rumahnya dengan sebelah– yang hanya setinggi betis orang dewasa. Kedua tangannya saling meremat. Sesekali, Juna melirik Nakaisha dan mengembungkan pipi.

Juna akan menunggu. Sampai Nakaisha letih menangis, dan memutuskan masuk ke dalam rumah.

Kamu kalau nemu cowok modelan Juna Lindraka, tim baper atau langsung karungin?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kamu kalau nemu cowok modelan Juna Lindraka, tim baper atau langsung karungin?

Komen😭

seirasjiwa love you!♡

LINDRAKA✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang