Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Sekembalinya Jeva ke kelas, ia segera menghempas tubuh ke atas kursi. Dengan dada yang naik turun cepat, juga gurat wajah yang kentara akan kesal. Beberapa temannya yang ada di kelas hanya memandangi heran. Tadi, saat bel istirahat, Jeva pergi bersama Rainey. Sekarang, anak laki- laki itu sendirian.
Mereka menghela napas. Jeva, dan segala kesensitifannya.
Benar. Tak lama, Rainey datang. Wajahnya pun tidak menunjukkan keceriaan seperti biasa. Kalau Jeva merengut, Rainey tak kalah kusut. Setelah melewati pintu kelas, gadis berbando hitam itu segera menuju meja Jeva.
"Je, lo kenapa lagi, sih?" desak Rainey frustasi.
Memangnya, apalagi? Haruskah Jeva katakan, padahal seharusnya Rainey-lah yang memahaminya? Jeva tidak suka Yonash, tidak mau Rainey berdekatan dengannya. Apa itu terlalu sulit diterima? Apa Rainey yang sebenarnya tidak mau Yonash menjauh? Jeva mendengus. Sejak awal, dugaannya bisa saja benar. Rainey yang menyukai Yonash. Pantas jika ia menolak disuruh menjauh.
Menyebalkan.
Tidak direspons. Masih disuguhkan wajah merajuk yang tak tahu kapan pudarnya. Rainey akhirnya meluap- luap.
"Bukan gue atau Yonash yang salah, tapi lo!" tekan Rainey. Wajahnya kian memerah seiring pengeluaran emosi di dalam dadanya.
Jeva memandang dengan dahi berkerut.
"Yonash cuma traktir gue, duduk di meja itu cuma biar bisa gabung, sama lo juga. Yonash juga udah minta maaf sama lo, Je. Bahkan dia minta maaf untuk hal yang bukan salah dia," tandas Rainey keras. Tatapannya menyala- nyala. Lama- lama, menghadapi Jeva yang lebih sering memikirkan diri sendiri daripada orang lain, membuat Rainey jengah juga.
Ini pertama kalinya Rainey marah, ditambah berteriak padanya. Jeva tercenung. Antara percaya dan tidak percaya. Gadis imut yang pipinya baru kemarin Jeva kecup, sebagai tanda sayang, kini memerah karena marah padanya.
Pun, Rainey begini hanya untuk anak laki- laki kelas sebelah itu. Jeva menggeleng pelan.
"Lo tuh, Je, apa- apa sensitif." Kemarahan Rainey belum berakhir. "Padahal Yonash cuma mau gabung. Lo aja yang egois. Apa pernah Yonash ganggu lo, sampe lo sebegini gak senangnya sama dia?!"
"Cukup ya, Ney. Gue gak mau bahas ini," sela Jeva.
"Gue mau!" balas Rainey meninggi.
Karena suara sahutan mereka yang kuat, perhatian seisi kelas, juga orang-orang yang lalu lalang di koridor terarah penuh pada mereka.
Jeva mengepalkan tangan. Menatap tepat ke netra Rainey dengan penuh kekesalan.
"Kalau didiamkan terus, lo selalu merasa orang lain salah. Lo tuh, selalu merasa kalau cuma perasaan lo yang penting. Lo kira Yonash gak akan tersinggung sama sikap lo tadi? Dia pun traktir itu bukan cuma untuk gue, untuk lo juga!"
"BELAIN AJA TERUS. IYA, BELAIN!" teriak Jeva. "GUE BAHKAN GAK BUTUH SAHABAT MACAM LO. ENYAH!" hardik Jeva lantang. Semua emosi yang bercekokol di dada, kini ia semburkan pada Rainey. Tanpa peduli pada bisik- bisik di sekitar. Tanpa tahu bahwa bentakannya membuat Rainey menciut. Hampir menangis.
Merasa seluruh tubuhnya panas dan kepalanya bisa saja berasap, Jeva segera meninggalkan kelas. Menabrak orang- orang yang menghalangi jalannya. Mengumpat tanpa henti dalam hati. Tidak lama, Jeva sudah lenyap dari keributan itu.
Rainey terduduk di kursi, pandangannya kosong.
Oh, Jeva tidak membutuhkannya.
Ya sudah. Rainey juga tak butuh sahabat egois macam Jeva.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.