Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Jeno ada di kedai itu sampai waktu operasional buka berakhir.
Begitu ia melihat angka di jam tangan, Jeno terkejut karena sudah duduk selama dua jam di sana. Bahkan sampai di waktu ini, Jeno masih belum bisa menemukan alasan paling jelas perihal kedatangannya kemari.
Kalau hanya karena ingin tahu tempat lain Duwi bekerja, akan ada pertanyaan baru yang muncul.
Mengapa Jeno sepeduli itu?
Tidak mau memikirkan lebih larut, Jeno beranjak dari kursi. Sempat ia pandang seluruh isi kedai, menelisik tanpa celah. Beberapa pelayan bergerak merapikan ruangan, tetapi Duwi tidak tampak ikut serta. Mungkin, gadis itu bekerja di belakang. Jeno mengedikkan bahu.
Ia kemudian benar- benar keluar dan menaiki motornya.
Sepulang ini, Jeno tidak punya kegiatan lagi. Ia hanya akan sampai di rumah, berganti pakaian, jatuh ke atas kasur. Akan lancar- lancar saja jika ibunya tak datang dan mengoceh soal masalah- masalah baru yang Jeno ciptakan.
Jeno tidak benci diperhatikan. Dia hanya tak suka itu dilakukan karena pencitraan.
Setelah memasang sempurna helm full face- nya, Jeno memutar kunci motor. Menguatkan gas, lalu mengendurkannya. Terus begitu. Kendaraan roda duanya itu sudah siap membelah jalanan jika saja Jeno tidak berhenti setelah beberapa detik motor dijalankan.
Dari balik kaca helm yang hitam, Jeno melirik gadis yang baru saja keluar dari pintu kedai.
Berhubung jarak mereka tak jauh, jok belakang Jeno yang kosong, juga gelapnya malam yang tak bisa selalu aman, sebuah ide melintas kilat di dalam pikiran Jeno.
"Naik," cetus Jeno, suaranya agak redam ditekan helm.
Reaksi Duwi bisa ditolerir. Gadis itu terhenyak dari posisinya, keduanya matanya membulat dan memandangi Jeno takut- takut.
Jeno membuka kaca helm. "Naik," ulangnya.
Barulah saat itu, Duwi mampu bernapas lega.
"Gak apa- apa. Gue bisa jalan kaki," tolak Duwi pelan. Senyumnya tampak lelah. Redup di mata Jeno.
"Gue gak menawarkan." Jeno membalas dingin. Lebih dingin dari suhu kota yang lembab karena hujan di sepanjang sore tadi.
Di bawah remang hasil bulan yang malu- malu menampakkan diri, Jeno melihat dua alis Duwi yang alami mengerut.
"Terus?" tanya Duwi.
"Gue maksa."
Tidak disangka Jeno akan bertindak sejauh ini.
"Engh.. rumah gue dekat." Tentu Duwi tidak akan menerima semudah itu. Selain pertemuan awal mereka yang tak mengenakkan, juga rangkai- rangkai tatap tanpa rencana lainnya, Duwi dan Jeno tidak punya hubungan dekat hingga lazim untuk Jeno mengantarkan Duwi sampai ke rumah.
Di kota sebesar ini, kebaikan seseorang seringkali tidak benar- benar tulus.
Paham bahwa ajakannya percuma, Jeno melupakan rencananya itu. Ia menurunkan kaca helm, kembali menarik gas dan melaju begitu saja.
Duwi tertinggal sendirian.
Gadis berambut sebatas leher itu mendadak merasa tak enak. Namun, ia juga tidak menyesal sebab telah menolak Jeno. Toh, ia bisa pulang sendirian. Berjalan kaki tidak ada salahnya. Rumah Duwi ada di dalam lorong sempit, sangsi motor sebesar milik Jeno akan muat melewatinya.
Maka, ia berakhir menyusuri jalanan setapak menuju lorong kecil di ujung jalan.
Langkah- langkah Duwi terpilih. Sisa hujan, jalanan akan digenangi air. Becek, bisa mengotori sandal juga ujung bawah celana. Selain itu, lampu- lampu jalan tidak berfungsi dengan benar. Beberapanya tidak menyala. Duwi harus menajamkan pandangan.
Suara jangkrik mulai terdengar.
Dan lima menit kemudian, Duwi sudah sampai dengan aman di rumahnya.
Tanpa tahu, bahwa Jeno rela mengikuti serta mengawasinya dari jarak yang lengang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lihat bagaimana pria dingin ini memperlihatkan rasa peduli dan ketertarikannya😂
Akhir- akhir ini LINDRAKA terus menerus kehilangan ranking. Tidak apa. Ada fase di mana sesuatu berada di bawah dan di atas, bukan?