Jeno Lindraka terbiasa dengan fakta bahwa ia anak haram. Lahir dari dua orang tanpa pernikahan. Sepanjang hidupnya, Jeno tidak pernah benar- benar punya tujuan. Lingkar hidupnya selalu soal luka demi luka.
Juna Lindraka baik- baik saja meski hanya b...
Jeva tidak mau menemui Rainey, berdekatan, apalagi bicara.
Hari itu, pelajaran Penjas merupakan yang terakhir. Selesainya, bel pulang berbunyi. Rainey baru tampak setelah seluruh praktek selesai dan pengajar memberikan arahan. Sejak saat itulah, Jeva jauh- jauh darinya. Memasang wajah sebal tak berkesudahan.
Rainey belum menyadarinya hingga keesokan harinya.
Meminimalisir pertemuan, Jeva berangkat lebih awal ke sekolah. Sulit, mengingat Rainey selalu menjadi peringkat pertama sebagai siswa yang datang paling pagi di antara lainnya. Namun karena tekad kuatnya, Jeva bangun pagi sekali dan minta diantar sangat awal dari biasa. Karenanya, seluruh anggota keluarga Jeva bertanya- tanya.
Yang pasti, anak laki- laki itu sedang punya masalah. Ia enggan membicarakannya di saat- saat perasaannya tidak baik. Keluarga sudah sangat hapal.
Pagi ini, ia berhasil, tak ada siapapun di dalam kelas. Belum ada yang datang, Jeva yang pertama. Ia menaruh tas di kursi, lalu keluar dengan tergesa- gesa. Kantin jadi tempat ia singgah. Jeva hanya sempat minum seperempat susu hangat saat di rumah. Sekarang, ia memesan nasi goreng dan menyantapnya tanpa menunda.
Lancar, seperti yang Jeva harapkan. Meski makanan dan segelas air minum sudah tandas, Jeva masih belum ingin beranjak. Ia malah duduk dengan tenang, memerhatikan orang- orang baru memasuki kantin, duduk di kursi- kursi yang kosong. Jeva melihat jam tangannya, masih ada tiga puluh menit menuju bel masuk. Ia menghela napas.
Dalam benak, ia bertanya apakah Rainey sudah datang? Tengah panik mencarinya? Akankah berhasil sampai di kantin dan mengajaknya bicara?
Terlalu banyak harap. Jeva masih dini untuk tahu bahwa berharap tak selalu menguntungkan. Kadangkala, pedih. Terutama harapan yang digantung pada manusia.
Pukul tujuh tepat. Sasaran Jeva mungkin meleset. Rainey mungkin tidak akan mencarinya sampai di kantin. Sebabnya, Jeva mengembuskan napas kasar. Suasana hatinya memburuk lagi. Berdiri dari tempat duduk, Jeva meninggalkan kantin. Ia menyiapkan diri bertemu Rainey. Barangkali gadis itu tengah sibuk menanyai keberadaan Jeva pada teman- teman.
Namun, Jeva digertak harapannya sendiri.
Dari tangga, kelas di urutkan dari sosial satu hingga empat di ujung koridor. Jeva tidak tahu, rupanya letak strategis kelas ini akan menumpahkan bencana untuknya. Tepat Jeva selesai menaiki tangga, di depan kelas sepuluh sosial satu ia temukan Rainey bersama anak laki-laki itu, lagi.
Jeva lupa memberitahu Rainey bahwa ia tak suka Rainey dekat- dekat dengan laki- laki dari kelas lain itu.
Seharusnya, Rainey sudah paham sebelum Jeva beritahu. Sejak awal pun, Jeva kesal karena Rainey menemui laki- laki itu di kelas, lalu menerima pemberian kalung darinya. Selain gadis itu sendiri, Jeva tidak peduli pada yang lain. Kalau memang Rainey didekati, tidak masalah. Asal jangan Rainey respons.
Menyebalkan. Jeva mengepalkan kedua tangannya. Alisnya berkerut- kerut.
Kalau begini, Jeva jadi merasa ia tak lagi memiliki Rainey seutuhnya. Ia berbagi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Komen coba. Jeva punya hak seberapa banyak ya atas sahabatnya alias Rainey?