Pukul 1 dini hari, Regal baru pulang ke rumahnya. Dia berdiri didepan pintu, kemudian mengintip dari lubang kunci rumahnya. Lampu sudah mati, berarti semua orang sudah tidur, pikirnya. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa dan berjalan masuk. Namun, langkahnya terhenti ketika lampu tiba-tiba menyala.
"Jam berapa ini Regal?" ucap Dewa Pradipta-- papanya.
"Jam 1," jawab Regal dingin dan tanpa menoleh.
"Kenapa baru pulang?"
"Bukan urusan Papa."
"Jangan kurang ajar kamu Regal!"
Regal tersenyum miring, "kan emang bukan urusan Papa."
Dewa menggeram. "Dasar anak sialan, mau jadi apa kamu hah?! Tiap hari pulang malam terus, dikira Papa gatau?" bentaknya.
"Mau jadi apapun Regal nantinya, itu sama sekali bukan urusan Papa." Regal mengepalkan tangannya, menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak.
"Papa cuma pengen kamu kaya Rigel, dia itu pinter, ga pernah pulang malem, nurut, gak kaya kamu! Berandalan yang hobinya pulang malam, gimana masa depan kamu nanti, Regal?!" sentak Dewa.
Mata Regal memerah, kepalan tangannya semakin menguat, dia menoleh kearah Dewa dengan tatapan tajamnya. "Buat apa papa mikirin masa depan Regal?! Mending papa urus saja anak kesayangan papa yang penyakitan itu. Satu lagi, jangan pernah samakan Regal dengan anak papa yang penyakitan itu. Karena sampai kapanpun Regal nggak akan pernah sama dengan dia. Regal ya Regal, Rigel ya Rigel. Selamanya Regal gak bakalan bisa jadi kaya Rigel," ucapnya penuh penekanan.
Dewa semakin emosi mendengar perkataan Regal, dia berjalan kearah Regal kemudian dia memukul wajah Regal hingga membuat Regal terjatuh dengan darah yang mengalir di hidungnya.
"Dasar anak sialan! Nggak ada sopan-sopannya, ya, kamu sama orang tua!?" bentak Dewa, kemudian ia melepas ikat pinggangnya dan mencambuk Regal dengan membabi buta.
Regal hanya meringis kesakitan, namun rasa sakit ini tidaklah seberapa dengan sakit hatinya karena mendengar ucapan papanya tadi.
Disisi lain, Bi Ima selaku pembantu di keluarga Pradipta menangis melihat perlakuan Dewa terhadap Regal. Walaupun ini sudah menjadi tontonannya sehari-hari, namun tetap saja dia tak tega melihat Regal diperlakukan seperti itu. Dia merasa iba, Regal sudah dianggapnya seperti anak sendiri oleh Bi Ima, hatinya ikut sakit menyaksikan Regal disiksa.
"PAPA BERHENTI!" teriak Rigel ketika melihat papanya mencambuki kembarannya. Rigel sebenarnya sudah tidur, namun terbangun karena mendengar keributan Regal dan papanya.
Dewa menoleh kearah Rigel, kemudian dia membuang gespernya ke sembarang arah dan pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Rigel menghampiri Regal, kemudian mencoba membantu Regal. "Lo gapapa?" tanyanya khawatir.
Regal menepis kasar tangan Rigel. "Gue gapapa dan gue gak butuh pembelaan lo."
Regal berdiri, kemudian berjalan terseok-seok menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, Regal mengunci pintunya dan tubuhnya merosot. Dia menangis meratapi nasibnya.
Regal meninju lantai berkali-kali hingga membuat tangannya mengeluarkan darah. "Gue benci diri gue, gue benci."
Regal menjambak rambutnya frustasi ketika ucapan Dewa terus terngiang-ngiang dikepalanya, "Kenapa gue harus lahir di keluarga ini, sih?! Hahhhh, gue capek."
Regal menggelengkan kepalanya sambil tertawa miris. "Nggak berguna banget gue jadi anak, bisanya cuman malu-maluin keluarga. Argghhh, gue benci diri gue sendiri!"
Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, Regal dengan cepat mengusap air matanya secara kasar.
"Siapa?" teriaknya dengan suara serak.
"Bi Ima, Nak," jawab Bi Ima yang mengetuk pintunya tadi.
Regal berdiri dengan kesusahan kemudian dia membuka pintunya. "Masuk, Bi!"
Bi Ima masuk dengan membawa kotak P3K, kemudian Regal mengunci pintunya lagi. Dia berjalan menuju kearah sofa, dimana bi Ima duduk.
"Sini bibi obatin lukanya," ucap bi Ima sambil menahan tangis.
Regal menyandarkan tubuhnya sambil menutup matanya. "Nggak usah, Bi. Nanti juga sembuh sendiri."
Bi Ima menggeleng. "Sini bibi obatin, biar nggak infeksi."
Regal menghela nafas kemudian dia membuka bajunya dan duduk membelakangi Bi Ima. "Pelan-pelan ya, Bi."
"Iya." Bi Ima kemudian mengobati luka dipunggung Regal, yang terkena cambukan Dewa tadi.
Bi Ima meringis ngeri melihat betapa banyaknya luka dipunggung Regal, bahkan ada juga yang sampai mengeluarkan darah. Bi Ima diam-diam menangis, namun dia sekuat tenaga menahan isakannya karena tak mau Regal tau bahwa dia sedang menangis. Regal paling tidak suka melihat Bi Ima menangis, maka dari itu Bi Ima tidak mau Regal mengetahui bahwa dia sedang menangis.
"Shh, perih Bi," ringis Regal ketika lukanya terasa perih.
"Tahan sebentar ya, Nak. Ini udah mau selesai," ucap Bi Ima.
Setelah selesai mengobati Regal, Bi Ima segera mengusap air matanya. "Udah selesai," ucapnya sambil memasukkan lagi obat kedalam kotak P3K.
Regal mengangguk kemudian memakai kaosnya lagi. "Makasih ya, Bi."
"Sama-sama, kalo begitu bibi pergi dulu ya, Nak," pamit Bi Ima.
Regal mengangguk. "Iya, Bi."
Setelah Bi Ima pergi dari kamarnya, Regal menuju kearah balkon kamarnya dan menyulut satu batang rokoknya. Setidaknya itu membuat pikirannya menjadi sedikit lebih tenang.
Lalu ponsel yang berada di saku celananya berdering, kemudian dia mengambilnya. Dilayar tertera nama Gio, dan Regal segera mengusap tombol hijau keatas lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo, ada apa?" tanya Regal.
"Halo, jadi gini, gue tadi pas pulang sama si bangsat Doni tiba-tiba hampir mau jatuh, soalnya gatau nabrak apa tadi gue anjing, kaget gue. Terus pas sampe rumah, gue liat motor gue bannya tiba-tiba kempes, gue mikirnya sih mungkin tadi gue nabrak babi makanya ban gue ketularan kaya babi juga, bocor coyyyy! Sialan emang, terus---"
"To the point aja, anjing!" kesal Regal.
Gio tertawa lepas diseberang sana. "Nah gitu dong ngegas. Maksud gue nelpon lo gue mau ijin, motor lo yang satunya, gue pake sama Doni besok ke sekolah boleh nggak?"
Regal berdecak. "Lo nelpon gue karena itu doang?" ucapnya tak habis pikir dengan sahabat kampretnya itu.
"Iya hehe."
"Ya kalo mau lo pake, ya, pake aja! Kayak sama siapa aja lo."
"Ya, setidaknya gue ijin dulu biar dikata sopan gitu."
"Halah, sok banget lo," cibir Regal.
Gio terkekeh. "Jadi, boleh, 'kan?"
"Boleh," jawab Regal.
"Alhamdulillah, terima kasih, Gal. Lo emang sahabat gue yang---"
Regal segera memutus sambungan telepon secara sepihak, tidak mau mendengar perkataan alay Gio yang bisa membuatnya mual. Sedangkan Gio misuh-misuh ditempatnya, karena Regal yang memutus sambungan teleponnya sepihak, padahal kan dia belum selesai berbicara.
"---paling anjing banget!" lanjut Gio kesal.
Setelah itu Regal mematikan rokoknya, dan berbaring diatas kasur king size nya, dia menutup matanya kemudian bayangan wajah Starla melintas dikepalanya membuatnya tersenyum tipis. "Starla, kayaknya gue suka sama lo," gumamnya kemudian dia terlelap.
***
SEE YOU NEXT PART 👋
JANGAN LUPA VOMENT 🤗
~Salam dari istri sah Bright Vachirawit ✌😂
KAMU SEDANG MEMBACA
REGAL [END]
Novela Juvenil[TAHAP REVISI] "Dia laki-laki yang dulu mencintai ku dengan sangat tulusnya. Namun, aku sia-siakan keberadaannya karena ketidakpuasan ku dan segala ambisi ku tentang laki-laki lain yang lebih darinya. Padahal kenyataannya dialah yang terhebat." -Sta...
![REGAL [END]](https://img.wattpad.com/cover/245873656-64-k79051.jpg)