Part | 38 Khawatir

1.8K 222 36
                                        

Selelah-lelahnya seseorang, bila masih sayang pasti tak akan pernah berfikir untuk menyerah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Selelah-lelahnya seseorang, bila masih sayang pasti tak akan pernah berfikir untuk menyerah.

- Gevano -

∆∆∆

Dengan mata yang diselimuti aura kemarahan, Gevan melayangkan pukulannya dengan membabi-buta kepada ketiga cowok dihadapannya. Sementara Sandra hanya menatap mereka tanpa berniat untuk melerai.

Ketiga cowok itu tentunya tak tinggal diam. Mereka membalas pukulan demi pukulan yang dilontarkan Gevan. Membuat Gevan sedikit kewalahan melihat jumlah mereka yang tidak adil dengan Gevan.

Bhuk!
Bhuk!

"Sshh," ringis Gevan saat sudut bibir dan perutnya mendapatkan pukulan dan tendangan secara bersamaan, membuatnya memegangi perutnya yang terasa nyeri. Namun mengingat bagaimana mereka melecehkan Sandra dengan ucapannya, Gevan dengan cepat menegakkan badannya, lalu kembali memberi serangan.

Bhuk!
Bhuk!
Bhuk!

Gevan tersenyum puas saat melihat ketiga cowok itu terkapar tak berdaya. Ia mendekati Zigo lalu mencengkeram kerah bajunya kasar.

"Sekali lagi gue denger elo semua ngerendahin dia, gue habisin lo pada. Terlebih elo," Gevan berucap tepat di depan wajah cowok yang tampak menahan sakit itu.

Bukannya takut, Zigo justru mengeluarkan kekehannya lalu menghempaskan tangan Gevan yang bertengger di lehernya.

"Cih! Elo kok ngebelain dia? Atau jangan-jangan lo di bayar selangkangan sama dia,"

Bhuk!

"Bangsat! Jaga ucapan lo, anjing," maki Gevan memukul wajah Zigo yang tadinya sudah bonyok kini tambah bonyok lagi.

"Lo inget baik-baik ucapan gue, sialan. Kali ini gue biarin lo hidup," Gevan menghempas kasar tubuh Zigo ke lantai.

Ia mengelus sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar berwarna merah lalu melemparkan tatapannya pada Sandra yang masih terdiam.

Tanpa kata, Gevan meraih pergelangan tangan Sandra lalu menariknya layaknya seekor anak kucing. Gevan terus menarik Sandra di belakangnya, tanpa memperdulikan ringisan Sandra akibat cengkraman Gevan yang tidak bisa di bilang pelan.

Sandra berusaha melepaskan tangannya dengan cara menggoyangkan tangannya kuat. Namun usahanya tak membuahkan hasil.

"Tangan gue sakit shh," adu Sandra yang tentu saja tidak diindahkan oleh Gevan. Cowok itu terus saja melanjutkan langkahnya.

Sandra berhenti meronta. Ia menurut kemana saja Gevan menggiringnya. Sandra pasrah saja meskipun nanti tangannya akan meninggalkan jejak kemerahan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sandra menghela nafasnya saat lagi-lagi banyak nyinyiran dan tatapan sinis  yang ditujukan pada dirinya. Dan ternyata Gevan pun menyadari hal itu.

Gevan menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, yang membuat Sandra bertubrukan dengan punggung kokoh Gevan. Sandra misuh-misuh tanpa suara, sembari mengelus keningnya yang menjadi korban.

"Diem!" bentak Gevan menatap tajam kepada kumpulan cewek-cewek rempong yang menjadikan Sandra sebagai bahan gibahan.

Benar saja, seketika mereka langsung kicep tak berkutik. Sekali lagi, Gevan memberikan tatapan tajamnya lalu kembali melanjutkan langkah. Tentu saja masih dengan tangan Sandra yang berada di genggamannya.

Sandra menyernyit bingung saat Gevan membawanya ke parkiran. Padahal sekarang masih jam pelajaran.

"Lo mau kemana?" tanya Sandra saat melihat Gevan memakai helm nya.

Bukannya menjawab, Gevan justru meraih helm lainnya dan memakaikannya pada Sandra yang masih memandangnya dengan tatapan menunggu jawaban.

Saat hendak memasangkan pengaitnya, Gevan menurunkan tatapannya hingga netra miliknya bertabrakan dengan mata Sandra. Keduanya saling bertatapan seolah mengisyaratkan kerinduan yang tak lagi mampu di bendung. Tak disangka, Gevan menarik Sandra ke dalam dekapannya. Ia menyandarkan kepalanya di ceruk leher Sandra.

Gevan terdiam beberapa saat, lalu kembali membuka suaranya.

"Berapa banyak lagi hal yang elo sembunyiin dari gue?" gumam Gevan yang masih bisa didengar oleh Sandra karena wajah Gevan yang sangat dekat dengan telinganya. Saat Sandra hendak membalas pelukan Gevan, cowok itu telah lebih dulu menarik tangannya. Dengan buru-buru Gevan mengaitkan pengait helm Sandra kemudian menaiki motornya.

"Naik," titah Gevan datar tanpa berniat menatap Sandra.

Sandra menghembuskan nafasnya, lalu dengan patuh menaiki motor Gevan.

***

Disinilah Sandra dan Gevan berada. Di apartemen Sandra. Gevan menyuruh Sandra agar tidak mengikuti pelajaran, daripada harus mendengarkan nyinyiran orang lain. Walaupun sebenarnya, Gevan pun ikut mencemooh Sandra.

"Shh,"

Gevan meringis saat Sandra menekan-nekan lukanya dengan kapas yang dibasahi dengan alkohol. Memang lukanya tidak parah, namun tetap saja akan terasa perih jika terkena alkohol. Apalagi dalam situasi awkward seperti ini.

"Um, thanks ya," ucap Sandra berusaha mencairkan suasana canggung diantara mereka.

"Buat?" tanya Gevan menaikkan alisnya.

Sandra menelan saliva nya gugup. "Thanks karena elo udah bantuin gue tadi,"

"Oh itu. Hem," jawab Gevan tak minat. Ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.

Sandra mengatupkan bibirnya. Percuma ia berusaha untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Sedangkan Gevan pun untuk menatapnya saja sudah tak ingin.

"Udah selesai," cicit Sandra membereskan kotak P3K yang tadi dipakainya untuk mengobati luka Gevan.

"Gue balik ke sekolah. Lo nggak usah kemana-mana disini aja," ucap Gevan dengan nada datar namun tak mampu menutupi kekhawatirannya.

Sandra menganggukkan kepalanya tak lupa memberikan senyumannya. "Hati-hati," pesan Sandra kepada Gevan yang hanya dibalas gumaman oleh si empu.

Gevan pergi, dan Sandra hanya bisa tersenyum pasrah. Ingin rasanya Sandra memeluknya dari belakang dan meminta lelaki itu untuk lebih lama lagi tinggal bersamanya. Jika bisa jujur, Sandra sangat membutuhkan kehadiran Gevan. Namun lagi-lagi Sandra teringat akan dirinya yang telah mengukirkan kekecewaan di hati cowok itu.

Sandra melangkahkan kakinya ke arah balkon kamar, mengembarakan matanya menatap bentangan langit yang dilukis dengan polesan warna biru cerah. Lamat-lamat Sandra memandanginya sembari flashback dengan kejadian di sekolah. Saat rahasia terbesarnya sudah terkuak.
Hingga bulir-bulir kristal bening mulai gugur dari pelupuk matanya.

"Hiks hiks," isak tangis Sandra begitu kentara dalam apartemen nya yang sangat sepi.

Bukan keinginan Sandra untuk mempunyai masa lalu seburuk itu. Sungguh bukan keinginannya.
Namun apa boleh buat, takdir itu lebih memilih Sandra.

Sandra tak menampik jika dirinya pantas disebut jalang.

Sandra tak menampik jika dirinya pernah menjadi korban pemerkosaan.... bergilir.

Namun sekali lagi, itu bukan keinginan Sandra.

BROKEN SANDRA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang