Part | 43 kepergok

1.5K 207 62
                                        

Jika menurutmu aku tidak baik, maka tinggalkan aku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jika menurutmu aku tidak baik, maka tinggalkan aku. Aku tidak ingin seseorang bersamaku hanya karena terpaksa.

- Cassandra -

∆∆∆

Berbanding dengan Sandra yang terlihat tegang dan was-was, orang itu justru terlihat santai sembari memandang Sandra dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Tenanglah, darling. Mengapa kau terlihat takut bertemu denganku?" Sandra semakin merasa takut, kedua tangannya bergetar dengan keringat yang mulai membasahi telapak tangannya.

"Keluar lo dari apartemen gue sialan!" usir Sandra yang tak dihiraukan oleh cowok itu.

"Aku baru saja datang dan kau sudah mengusirku? Begitukah caramu menyambut tamu, darling?"

"Persetan! Gue bilang pergi ya pergi, bastard!" Sandra menunjukkan tatapan tajamnya, berharap orang itu mengerti dengan maksudnya.

Cowok itu semakin mendekatkan tubuhnya, yang spontan membuat Sandra memundurkan langkah. "Aku masih ingin berlama-lama denganmu disini. Dan kau tak berhak melarang ku!" orang itu balik membentak seraya menatap Sandra dingin.

Sebisa mungkin, Sandra mendorong kuat tubuh cowok itu hingga terjatuh di lantai. Sepertinya apa yang baru saja dilakukan Sandra salah. Justru hal itu semakin membangkitkan sisi liar cowok itu.

Dengan cepat cowok itu membangkitkan dirinya, menatap Sandra dengan seringaian nya dengan langkah yang mulai berusaha menggapai gadis itu. Perlahan tapi pasti, kini jarak antara Sandra dengan cowok itu sangatlah dekat.

"Kau mulai berani denganku, bicth!" cowok itu mencengkeram kuat leher Sandra, hingga membuat gadis itu kesulitan bernapas.

"Lep-pasin g-gue, Tristan," ucap Sandra susah payah. Selain karena pasokan oksigen di paru-parunya yang kian menipis, lehernya pun terasa sangat sakit akibat cengkraman yang sangat kuat, seakan ujung kuku cowok itu menancap di lehernya.

Masih dengan seringai yang tertahan di bibirnya, cowok bernama Tristan itu melepaskan cengkeramannya, ia mendekatkan wajahnya pada Sandra. "Belum saatnya kau mati, Cassandra Liora," bisik Tristan tepat di telinga gadis itu.

Bulu kuduk Sandra meremang saat merasakan hembusan nafas Tristan menyapu permukaan lehernya.  Detak jantungnya kian berpacu kala wajah Tristan tepat berada di depan matanya. Bukan karena adanya percikan cinta atau semacamnya, melainkan karena rasa takut dan kebencian Sandra terhadap Tristan. Tangan kiri cowok itu tergerak untuk mengelus sudut bibir Sandra, sementara tangannya yang lain mengunci pergerakan tangan gadis itu. Sandra ingin melawan, namun rasanya sangat sulit barangkali hanya untuk menggerakkan tangannya saja. Rasanya bila melihat wujud Tristan, seluruh keberanian dan kemampuan Sandra seolah lenyap begitu saja.

"P-pergi," lirih Sandra susah payah. Mengeluarkan suaranya pun sangat sukar bagi Sandra. Tristan, baginya lelaki itu adalah trauma terberatnya. Dialah alasan yang menyebabkan hidup Sandra yang tadinya kelam, kini semakin kelam.

Tristan seolah menulikan telinga. Jaraknya dengan Sandra kini sudah sepenuhnya terkikis. Dengan lancangnya, ia membungkam bibir Sandra dengan bibirnya dengan sangat kasar, masih dengan tangan Sandra yang dicengkeramnya sangat kuat. Sandra meronta, namun hal itu tak diindahkan oleh Tristan. Sandra hanya bisa membisu dengan air mata yang mulai meleleh keluar dari matanya. Ciuman Tristan begitu brutal, membuat bibir gadis itu terluka. Bahkan Sandra dapat merasakan asin dari darahnya sendiri.

Brak!

"BRENGSEK!"

Tristan melepaskan lumatannya saat bunyi sesuatu yang ditendang kasar menginterupsi. Tanpa persiapan, tubuhnya terhuyung akibat dihadiahi bogeman mentah.

Bhuk!
Bhuk!
Bhuk!

Gevan memukuli Tristan dengan membabi-buta. Amarahnya naik ke ubun-ubun saat melihat lelaki lain menyentuh bibir Sandra, gadisnya. Bahkan dia sendiri pun tak pernah menyentuhnya. Itu karena Gevan selalu ingin menjaga Sandra, tanpa berniat merusak gadis itu.

Karena kata Gevan apa yang dirasakannya pada Sandra adalah cinta, bukan nafsu semata.

Namun dengan mudahnya cowok itu merenggut bibir Sandra yang nantinya akan menjadi haknya. Hoho, tak semudah itu untuk Gevan terima.

Masih dengan amarah yang membendung, Gevan kembali menghajar Tristan tanpa memberi kesempatan untuk cowok itu membalas.

"Berani lo nyentuh dia, anjing!Punya nyawa berapa lo?"

Bhuk!

Sandra yang baru tersadar dari rasa syok nya, mendekati Gevan berusaha untuk menjinakkan lelaki itu.

"V-van udah Van,"

Bhuk!

Tak menghiraukan, Gevan tetap melanjutkan kegiatannya membogem cowok sialan itu.

"Mati lo bangsat mati lo!"

Hap!

Tangan Gevan berhenti, melayang di udara saat merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ia menoleh, menemukan Sandra yang memeluknya dengan wajah yang disembunyikan di balik punggungnya. Gevan terenyah, merasakan tubuh Sandra yang bergetar akibat isak tangis.

Memanfaatkan kesempatan, Tristan melarikan diri dari apartemen Sandra sembari memegangi perutnya yang kram. Namun sebelum itu, ia lebih dulu memamerkan smirk nya pada Gevan. Gevan tak acuh, ia masih terpusat pada Sandra, membiarkan gadis itu memeluknya tanpa ada niatan membalas pelukannya.

Hati kecil Gevan berkata untuk mendekap Sandra dan menenangkannya. Namun logika menentang. Menyuruhnya untuk segera meninggalkan gadis itu. Untuk kesekian kalinya, keegoisan lah yang kembali memenangkan situasi. Dengan kasar, Gevan melepaskan kedua tangan Sandra yang bertengger di pinggangnya.

"Jangan sentuh gue," ia menyorot Sandra tajam.

"Lo kenapa?" Sandra bertanya tenang, berusaha menutupi rasa sakit di dadanya akibat perlakuan Gevan.

"Lo tanya kenapa? Nggak usah sok lugu deh lo," Gevan terkekeh mengejek.

"Lo salah paham,"

"Alesan yang klasik. Nggak ada yang lebih elit lagi?" Gevan berucap dengan nada mengolok.

"Lo emang salah paham sama gue.  KENAPA SIH ELO NGGAK PERNAH PERCAYA SAMA GUE?" kesabaran Sandra akhirnya lenyap juga. Ia lelah jika terus saja dituduh hal-hal buruk oleh Gevan.

"Karena gue nggak mau terpengaruh sama omongan lo," sengit Gevan dengan nada dinginnya.

"Asal lo tau, gue dateng kesini buat minta maaf sama lo, Ra. Gue ngerasa bersalah sama diri gue sendiri, tapi apa yang gue lihat udah ngejelasin semuanya. Apa yang orang bilang itu bener. Elo itu bitch!" ucap Gevan sadar atau tidak, kembali menggoreskan belati di hati Sandra.

"Gue nggak nyesel bilang elo murahan, karena nyatanya elo itu emang murahan!" tambahnya tanpa memperdulikan air mata Sandra.

"Terus aja, Van. Terus keluarin semua asumsi lo tentang gue! Lo sama aja kayak mereka. Lo nggak tau apa yang gue rasain, Van! Lo nggak pernah tau," ujar Sandra dengan suara yang semakin pelan lebih terdengar seperti lirihan.

"Lo hanya peduli dengan omongan orang tentang gue. Iya gue emang bitch! Iya gue emang murahan. Itu kan yang elo mau denger? Jadi buat apa lo bertahan sama cewek murahan ini hah?"

"Putusin gue,Van!"

BROKEN SANDRA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang