Dia datang menaburkan banyak warna indah dalam hidupku. Namun aku lupa, bahwa kelabu juga bagian dari warna.
Namanya Cassandra Liora.
Seorang gadis dengan kisah kelam di masa lalunya yang mengubahnya menjadi sosok dingin tak tersentuh. Hingga rahas...
"Kenapa? Alasannya simpel, gue mau lo hancur dan ngerasain apa yang selama ini gue rasain," balas Sandra enteng tanpa beban.
Gevan tersenyum miris, melemparkan tatapannya ke sembarang arah. "Apa bener lo nggak ada perasaan sama gue? Lo nggak sayang gue? Lo nggak cinta sama gue? Jawab, Ra!"
"Iya! Gue nggak cinta sama lo, gua nggak ada perasaan apa-apa sama lo. Gue cuma mau mainin perasaan lo. Itu kan yang mau lo denger dari gue?"
"Salah gue apa sama lo, Ra?"
"Lo nggak salah. Yang salah itu Abang lo yang udah ngebunuh orang yang gue cinta. Lo nggak tau gimana rasanya ditinggal oleh satu-satunya orang yang peduli sama lo. Satu-satunya orang yang mau nerima lo apa adanya. Lo nggak tau, Van," ucap Sandra menggebu-gebu.
Gevan mematung tak percaya. Ia menjadi korban dari sesuatu yang bahkan tidak diketahui olehnya.
"Hidup gue nggak seberuntung lo, Van. Lo punya orang tua yang sayang sama lo. Sementara gue? Gue anak yang nggak pernah dianggep. Gue nggak punya seseorang yang bisa gue jadiin sebagai sandaran. Dan saat gue nemuin orang yang mau dengerin semua masalah gue, tiba-tiba pergi ninggalin gue untuk selamanya, dan penyebabnya karena dibunuh. Lo pikir gue bisa nerima gitu aja? Lo pikir gue bisa ngelupain dengan begitu mudahnya? Nggak, Van!" Ucap Sandra dengan suara bergetar. Bahkan tak disadarinya, dua sungai kecil sudah mengalir tenang di wajahnya.
"Gue tau itu nggak akan mudah, Ra. Gue tau lo nggak akan pernah bisa nerima itu, gue ngerti. Tapi apa pernah lo mikir jadi gue? Saat lo mencintai seseorang dengan begitu tulusnya, tapi apa? Lo dipermainkan hanya karena suatu hal yang bahkan elo pun nggak tau kejadiannya gimana. Lo dijadiin alat pembalasan dendam atas hal yang sama sekali nggak lo lakuin. Apa pernah lo mikirin perasaan gue!?" Kini gantian Gevan yang mengeluarkan semua unek-uneknya. Lelaki itu bahkan sampai menunjuk-nunjuk wajah Sandra saking emosinya.
Sandra hanya diam memberikan Gevan ruang untuk menyelesaikan ucapannya. Ia meremas pinggiran rokoknya dengan telapak tangannya yang berkeringat.
"Lo mau liat gue hancur kan? Itu kan tujuan lo? Selamat, lo udah berhasil!" Gevan menepuk tangannya, seolah memberi apresiasi kepada Sandra. Ia menyunggingkan senyum miringnya, kakinya melangkah berjalan mundur, namun matanya masih menatap Sandra.
"Gue cuma mau bilang satu hal, kalau lo mau bahagia, belajar dulu ngehargain perasaan seseorang, atau lo nggak akan bisa nemuin cinta sejati lo," Gevan berujar lembut. Ia membalikkan badannya, dan melangkah meninggalkan Sandra yang terdiam dengan segala pemikiran yang berkecamuk di benaknya.
***
Disebuah tempat dengan cahaya yang berkedip-kedip dan kerasnya music yang memekakkan telinga, dimana banyak orang yang menggerakkan tubuhnya penuh nafsu, mengikuti setiap lantunan music.
Untuk kesekian kalinya, Gevan menengguk minuman beralkohol itu langsung dari botolnya. Bahkan kini dia sudah dalam keadaan mabuk, tapi hal itu tidak dihiraukan oleh Gevan.
Sementara Satria, Cakra dan Erland bahkan Arkan yang duduk tak jauh dari Gevan, hanya memandangnya cowok itu jengah. Bukannya tak ingin menjauhkan minuman jahanam itu dari Gevan, tapi Gevan sendiri yang membantah mereka.
"Parah sih. Gue nggak nyangka Gevan sehancur ini," celetuk Erland menatap iba sahabatnya itu. Gevan bukanlah orang yang suka menginjakkan kaki ke tempat terkutuk ini, tapi sepertinya saat ini masalahnya benar-benar berat. Hingga ia mencoba melampiaskannya pada deretan minuman beralkohol itu.
Satria mengangguk membenarkan. "Gue kasihan juga liatnya,"
"Gue masih nggak percaya Sandra se tega itu sama Gevan. Gue kira dia baik. Ternyata gue salah," celetuk Cakra yang duduk di sebelah Arkan.
Arkan sendiri hanya diam seperti biasanya. Menutup kepalanya dengan Hoodie dengan tangannya yang sibuk bermain game online di HP-nya. Ia sangat risih dengan tatapan para jalang yang menatapnya lapar. Bahkan ada yang dengan terang-terangan menawarkan dirinya untuk tidur dengan Arkan. Cih! Arkan sangat jijik melihatnya. Seharusnya perempuan itu menjaga kehormatannya baik-baik bukan malah seperti wanita tadi yang-- sudahlah, Arkan tidak ingin membahasnya.
"Woi, Ar. Nggak dimana-mana lo nge-game mulu kerjanya. Nggak bosen apa," Cakra menyenggol lengan Arkan, hingga mengganggu fokus cowok itu.
"Ckck," Arkan berdecak kesal masih fokus pada game nya.
"Mumpung kita lagi disini, cari cewek Sono, Ar. Malu gue dikatain temenan sama orang yang disangkanya gay," Cakra semakin bersemangat menyenggol lengan Arkan hingga,
"DEFEAT!" Arkan menatap tajam Cakra, saat suara yang bagaikan kutukan untuknya itu, mengayun jelas di telinganya. Sementara Cakra, lelaki itu dengan sigap berlindung di balik punggung Erland, mencari tempat aman.
Arkan mendengus sebal, mau tak mau ia mematikan layar handphone nya, kemudian memasukkannya ke dalam saku belakang celananya.
"Jangan sentuh gue! Jauh-jauh lo, bitch. Gue cuma mau Sandra! Gue mau Sandra!"
Prang!
Serempak, mereka menoleh saat mendengar teriakan Gevan, disusul oleh suara pecahan barang.
Di sana, tampak seorang wanita berpakaian kurang bahan tengah berusaha menarik perhatian Gevan. Sedangkan Gevan menjauhkan wanita itu darinya.
"Cinta bisa buat goblok ya," Erland menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Gevan yang tadi melempar botol minuman yang masih setengah berisi, hingga melukai tangannya. Bahkan darah segar berwarna merah mengalir di tangannya.
"Padahal itu minuman kan mahal," tambahnya yang langsung mendapat pukulan di kepalanya. Tentu saja itu ulah Satria.
"Goblok, bukannya khawatir sama temennya malah mikirin minuman," semprot Satria yang di balas cengiran oleh Erland. Sementara Cakra kini sudah berada di samping Gevan, bertindak cepat sebelum Gevan melakukan hal lain yang lebih nekat dalam keadaannya yang sudah mabuk berat.
Mereka langsung membantu Cakra yang tampak kesusahan menahan bobot Gevan.
"Gimana nih? Bawa pulang nggak?" tanya Satria meminta pendapat. Tangan kanannya ia gunakan untuk memapah Gevan.
"Jangan goblok! Entar tante Bunga bisa syok liatnya," peringat Erland yang disertai umpatan.
"Lah terus gimana? Rumah gue nggak bisa. Bonyok gue udah balik," timpal Cakra menatap yang lainnya.
"Gue," ucap Arkan datar.
"Hah elo kenapa?" tanya Cakra dengan wajah cengo.
Arkan berdecak. "Apart gue,"
"Apart Lo ngapa? Dijual?" tanya Cakra masih dengan wajah cengo nya.
Plak!
"Maksud Arkan, Gevan bawa ke apartemennya!" Erland memukul kepala Cakra saling gemasnya dengan kegoblokan temannya itu.
"Lah mana gue tau. Lagian siapa suruh ngomong setengah-setengah," Cakra mendumel sembari mengelus bekas pukulan Erland.
"Kayak baru kenal Arkan aja. Dalah buruan papah ke mobil gue," perintah Erland yang langsung memasuki mobil sport berwarna oranye glossy miliknya, disusul oleh Cakra dan Satria yang memapah Gevan. Sedangkan Arkan, ia mengendarai mobilnya sendiri.