Part 32 : Def Pamit

10.9K 1.2K 129
                                        

____________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

____________

Hujan masih membiarkan kedua insan itu terkurung dalam kebersamaan. Tak memberikan celah sedikitpun pada Tafia dan Gavin untuk berpisah.

Lagipula, mereka berdua memang tidak ingin waktu cepat berlalu. Masih ingin berlama-lama menikmati ribuan tetes hujan yang mengguyur pepohonan, kemudian jatuh memantul di atas tanah dan jalan raya hingga akhirnya mengalir ke dalam selokan.

Tafia memeluk tubuhnya semakin erat, karena angin berhembus sedikit kencang hingga percikan air hujan mengenai seragam sekolahnya.

Tubuh gadis mungil itu terhenyak saat sebuah jaket jeans tebal membungkus tubuhnya. Ia langsung mendongak, menatap Gavin yang tersenyum manis di sebelahnya.

Tafia membeku beberapa detik ketika pandangannya bertubrukan dengan iris mata coklat milik Gavin. Untuk kali kedua cowok itu memberikan jaket jeansnya kepada Tafia.

Gadis itu mengalihkan pandangannya ke depan, menahan senyum. Gavin sengaja menyenggol lengannya hingga tubuh Tafia sedikit bergeser ke samping.

"Apaan sih, Vin?" dengkus Tafia pura-pura kesal.

"Salting?"

Tafia memanyunkan bibir. "Enggak, kok!"

"Kalau mau senyum, senyum aja. Nggak usah ditahan-tahan."

"Hey, enggak."

Gavin mencubit pipi Tafia gemas. "Dasar!"

Wajah Tafia langsung bersemu merah. Ia tidak berani menatap wajah tampan Gavin terlalu lama. Karena jantungnya terus berdebar-debar seperti genderang perang.

Gadis itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Rasanya jadi tinggi itu gimana sih? Aku belum pernah," tanyanya sambil menggelembungkan pipi. Sangat menggemaskan.

"Rasanya seperti menjadi Ironman." Gavin tersenyum hingga kedua matanya membentuk bulan sabit.

"Kayak oddading Mang oleh, rasanya anjim banget gitu?" Tafia menirukan gaya bicara salah satu video yang viral di facebook beberapa bulan yang lalu.

Mereka berdua langsung terkekeh. Gavin merasa bahagia karena bisa membuat Tafia tertawa.

Rasanya tidak ingin berlalu dari adegan ini ....

Hmmm, terlalu manis.

Seketika itu juga, raut wajah Gavin berubah sendu. Cowok itu tersenyum getir. "Aku seneng bisa bikin kamu ketawa."

Sontak saja Tafia langsung menghentikan tawanya. Gadis itu mengernyitkan dahi ketika melihat mata Gavin yang berkaca-kaca.

"Kenapa kamu malah kelihatan sedih?"

Gavin menghela napas, kemudian mengusap-usap wajahnya. "Enggak, aku bahagia kok."

"Matamu nggak bisa berbohong, Vin." Tafia menatap cowok itu lekat-lekat.

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang