Part 21 : Balas Dendam

14.3K 1.5K 236
                                        

500 komentar baru next
Follow instagram aku yuk.
@nurudin_fereira

_________________

Def tersenyum getir. "Yah, gue tahu lo nggak bakalan percaya sama gue. Lo nggak bakalan bisa maafin kesalahan gue di masa lalu. Dan, gue tahu lo nggak bakalan bisa nerima gue. Makanya gue pengen kita sekarang berteman."

Tafia menggigit bibirnya yang bergetar.

"Sebelum gue ninggalin lo, lo harus bahagia."

Deg.

"Kamu ngomong apa?"

"Hmm, lupain. Ayolah, Taf. Lo harus berani menghadapi dunia."

Penderitaan apa yang kamu alami Def sehingga kamu terlihat sebodoh ini?

"Malam ini, sekali aja. Please!"

"Taf."

"Gue mohon!"

"Demi kebaikan lo!"

"Lo harus berubah."

Tafia mulai tebujuk, entah tertarik atau karena sudah percaya dengan perkataan Def. Atau mungkin sudah ...

Tersentuh dan jatuh cinta.

"Kita keluar lewat balkon kamar. Gue bantuin lo turun."

Tafia termenung. Ingin mengiyakan tapi ragu-ragu. Kalau dipikir-pikir niat Def baik. Tafia juga perlu tahu bagaimana keadaan dunia di luar sana. Dunia nyata tempat dirinya tinggal, bukan planet Venus yang diciptakan Gavin dari dunia halu.

"Pak satpam?" tanya Tafia.

"Tenang, gue udah minta bantuin Ririn."

"Ririn pasti punya niat jahat."

"Gue udah ngancem dia kalau dia berani macem-macem."

"Ngancem apa?"

"Gue punya video dia lagi nglakuin hal yang nggak senonoh sama cowoknya."

Tafia percaya. Akhirnya memilih mengangguk.

***

Def mengajak Tafia mengunjungi pasar malam di lapangan PKOR, Way Halim. Mulut Tafia menganga lebar melihat keramaian ini. Semua pengunjung tampak bahagia dan ceria, membuat hati Tafia ikut terbawa suasana.

Tempat tersebut seakan melemparkan gadis itu kepada kenangan masa lalu. Kenangan yang ingin sekali ia ulang kembali bersama mendiang sang ibu.

Tafia tersentak saat Def menarik tangannya. "Mau naik komedi putar?" tanyanya.

Langsung terlintas kenangan masa lalu. Ketika mendiang ibu Tafia sering mengajaknya menaikki komedi putar ketika berkunjung ke sini. Setelah ibunya meninggal, Tafia tidak pernah lagi berkunjung ke sini.

"Taf?" panggil Def karena melihat Tafia hanya terdiam. "Ayo!"

Tafia mengangguk. Membiarkan Def menarik tangannya. Cowok tengil itu begitu perhatian. Semakin menambah kadar ketampanannya.

"Lo tunggu di sini bentar, gue mau pesen karcis." Def langsung melenggang pergi meninggalkan Tafia.

Tafia mengedarkan pandangannya ke sekitar, mengamati ratusan orang yang hilir-mudik di sekitarnya. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Lagi-lagi karena teringat dengan kenangan bersama ibunya.

Def kembali datang sambil membawa dua gelas pop ice di tangannya. "Yuk!" ucapnya sambil menyodorkan segelas pop ice untuk Tafia. Mereka berdua bergegas menaikki gerbong komedi putar.

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang