Comment sebanyak-banyaknya, ya!
****
Setelah selesai sarapan Gavin langsung bergegas menuju lapangan. Menjalani latihan seperti biasa. Ia ingin meminta maaf kepada teman-temannya karena tidak bisa hadir di pertandingan kemarin. Untung saja Altoya FC menang dengan score tipis 1-0.
Sesampainya di lapangan, tak satu pun teman-teman satu tim Gavin menoleh ke arahnya. Mereka semua tampak ketus. Menganggap kehadirannya hanya seperti semilir angin yang berhembus.
Masih berdiri dengan kaku, cowok itu mengepalkan tangan. Ketika melihat teman-temannya berlari mengelilingi lapangan. Wajah Gavin terlihat sendu. Ia ingin menjelaskan, tapi lidahnya terasa kelu. Apakah ia sudah dicoret dari tim?
Coach Agung baru saja datang memarkir motor bebeknya. Gavin langsung buru-buru melangkah menghampiri pria paruh bayuh itu. "Coach!"
Coach Agung menoleh ke arah Gavin dengan kedua alis yang tertaut.
"Maafin saya, Coach. Kemarin motor saya bocor, saya terpaksa jalan kaki menuju ke basecamp, tapi pas sampai di sana mobil busnya sudah berangkat."
Coach Agung terdiam beberapa detik, kemudian menghela napas. Dengan wajah prihatin.
Rifki datang dengan napas terengah-engah. Sejak tadi hanya cowok itu yang terlihat kasihan melihat Gavin diabaikan oleh teman-temannya. "Coach, tolong maafin kesalahan Gavin. Tim ini sangat membutuhkan Gavin."
Coach Agung menggigit bibir, kemudian melangkah menuju ke tengah lapangan. Setelah sebelumnya berkata. "Altoya FC tidak butuh pemain yang kurang disiplin."
Jantungnya langsung mencelus. Gavin terperangah dengan tatapan kosong. Dunia yang ia pijaki terasa hancur berkeping-keping.
Rifki memegang bahu Gavin. "Maafin gue Vin, nggak bisa berbuat apa-apa buat belain lo."
Gavin masih terperangah, wajahnya muram bagaikan awan mendung di musim penghujan.
Rijal yang berada di tengah lapangan tiba-tiba berceletuk. "Rif, lo kenapa di situ, sih?"
Rifki menghela napas berat. Merasa tidak enak. "Anak-anak juga jadi benci banget sama lo. Mereka ngira lo lebih mentingin bucin daripada kepentingan tim."
Rijal yang geram dengan Rifki, karena mendekati Gavin, langsung datang menghampiri. "Rif, lo kenapa sih di sini? Ayo mulai latihan, elah!" Cowok itu mendorong Rifki untuk masuk kembali ke dalam lapangan.
"Orang nggak jelas kayak gitu diladenin," sindir Rijal kepada Gavin.
Cowok itu menunduk dalam-dalam. Merasa bersalah. "Maafin gue, Jal," lirihnya dengan nada getir.
"Ngapain lo di sini. Tempat lo bukan di sini, tapi di sana, di hatinya Tafia iya, kan?" cibir Rijal dengan nada ketus. "Sana pergi sama Tafia, nggak usah nongol laglag di lapangan."
Gavin hanya bisa tersenyum getir mendengar kata-kata pedas dari Rijal.
***
Kesabaran Gavin benar-benar diuji hari ini. Setelah di depak dari tim, ada masalah lagi yang membuat hatinya semakin sakit. Di tenda ketoprak tempat ibunya berjualan, datang seorang rentenir yang menagih hutang kepada Mundasri. Keluarga Gavin pernah berhutang untuk biaya operasi ayahnya tempo lalu.
"Tolong kasih waktu kami seminggu lagi, Pak. Suami saya hari ini masih belum gajian." Mundasri memohon dengan wajah memelas.
"Sudah berapa kali saya ngasih waktu? Tapi ujung-ujungnya tetap belum dibayar-bayar." Pria paruh bayah yang rambutnya sudah beruban itu terlihat kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAFIA'S TEARS
Ficção AdolescenteTafia tumbuh di tengah keluarga yang tak pernah benar-benar menginginkannya. Hari-harinya dipenuhi rasa serba salah, terlebih karena ia harus berbagi kelas dengan saudara tiri yang tak henti-hentinya membully dirinya. Namun, kehidupan sekolahnya men...
