Part 40 : Pusat Semestaku

10.4K 1.2K 181
                                        

Jangan lupa follow instagramku, ya, nurudin_fereira

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa follow instagramku, ya, nurudin_fereira

_________

Hari ini bude Mundasri tidak bisa ikut jualan karena harus pergi ke sekolah Gavin. Menghadiri panggilan dari Kepala Sekolah karena putra sulungnya kembali mendapat surat teguran atas kenakalannya.

Sementara Gavin tidak berangkat sekolah karena di scors dua hari. Alhasil, cowok itu menemani Tafia dan Aisya berangkat jualan ketoprak di tempat biasanya ibunya magang.

Setelah berpamitan dengan bude Mundasri yang akan bersiap-siap datang ke sekolah. Mereka bertiga langsung bergegas menuju tempat jualan sambil menenteng plastik berisi bahan dagangan dengan penuh suka cita. Ditemani oleh sunrise yang sinarnya mulai menusuk permukaan kulit.

Hembusan angin masih terasa dingin, embun pagi yang menempel pada rumput dan dedaunan masih enggan untuk mengering.

Tafia senyum-senyum sendiri sambil melirik ke arah cowok jangkung yang berjalan di sebelahnya. Gavin yang menyadari hal itu langsung menyindir. "Kenapa senyum-senyum sendiri?"

"Enggak, aneh aja." Tafia malu-malu kucing.

"Aneh kenapa?"

"Aneh aja, planet Venus kan biasanya muncul pas waktu fajar, sebelum matahari terbit. Tapi sekarang kok masih ada, ya?" tanya Tafia sambil menatap matahari yang mulai muncul dari balik gedung-gedung pencakar langit di depan sana.

Gavin masih melirik ke arah Tafia dengan wajah datar. "Karena aku adalah planet Venus yang diciptakan Tuhan khusus untukmu. Planet Venus yang nggak panas ....,"

"Tapi dingin kayak kulkas," sela Tafia cepat sambil nyengir kuda.

Gavin berhenti melangkah kemudian mencubit hidung Tafia gemas. "Dih, bukan lah, aku itu adalah planet Venus yang bisa kamu jadikan tempat untuk pulang."

Tafia menepis tangan Gavin yang mencubit hidungnya. "Sakit, ih!"

"Gemes."

Tafia mengerucutkan bibir. Melanjutkan langkahnya mengekori Gavin yang mengenakan jaket jeans  khas geng Alister.

"Hidup itu sebenarnya indah ya. Pengen apa-apa tinggal halu," ucapnya pelan.

Gavin menoleh sambil tersenyum tipis. "Hmm, andaikan halumu dan haluku berubah menjadi haluviyu dan haluviyu to."

"Rasanya syahdu." Tafia mengimbuhi. Membuat darah Gavin langsung berdesir.

"KAK VIN!! KAK TAF!! KALIAN MAU KE MANA SIH?!" panggil Aisya dari belakang.

Sontak, Tafia dan Gavin langsung menoleh ke arah Aisya dengan wajah kikuk.

"KALIAN KEBLABASAN IH!" teriak Aisya sambil menunjuk tenda tempat mereka jualan.

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang