Part 64 : Penyelamatan

7.7K 980 178
                                        

Maaf banget nih, udah nggak update lama. Soalnya sibuk banget garap cerita lain hehe...

Mungkin, cerita ini bakalan update seminggu dua kali ya.

Karena aku mau ngurusin ceritaku yang ada di KBM app. Mohon dimengerti ya hehe, author lagi bokok. Jadi, garap tulisan yang berbayar dulu di KBM app.

Terimakasih atas partisipasinya 🙏🙏🙏

***

Plakkk!!!

"Kamu bawa kemana anak saya?!"

Satu tamparan keras mendarat tepat ke pipi Gavin. Cowok itu langsung menunduk. Menerima kemarahan besar dari mama Ria.

"Kamu pernah bawa Tafia tinggal di rumahmu berminggu-minggu, sekarang kamu mau membawa dia kabur lagi?" Mama Ria melotot tajam. Mereka berdua memang pulang terlalu sore.

"Saya sudah pernah mengingatkan kamu, jauhi Tafia. Kamu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami. Kamu tidak akan bisa membahagiakan Tafia dengan gerobak ketoprakmu itu!"

Kedua tangan Gavin terkepal kuat, mendengar kata-kata pedas tersebut.

"Sekali lagi kamu deketin Tafia lagi. Saya tidak akan segan-segan bertindak lebih."

Gavin masih menundukkan wajahnya dalam-dalam. Menahan kesedihan yang terpendar di dalam dada. Sakit, ini sungguh sakit sekali.

"Ma!" ucap Tafia memegangi lengan mama Ria, sambil menangis terisak-isak.

"Kamu masih mau berhubungan sama dia!" teriak mama Ria murka. "Sekali lagi mama liat kamu berhubungan sama dia. Mama akan memindahkan kamu ke sekolah lain."

"Nggak perlu Tante, saya akan putus sekolah. Tafia tidak akan melihat wajah saya lagi," ucap Gavin sambil menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya sudah berair, dengan wajah yang memerah menahan emosi.

"Bagus.Yaudah pergi sana! Saya sudah muak melihat wajah kamu!"

Dengan tubuh lemas, Gavin melangkah meninggalkan gerbang rumah megah itu. Tafia menangis meraung-raung memanggil nama Gavin.

Setelah sampai beberapa meter, Gavin kembali menoleh ke belakang. Melihat mama Ria menahan tubuh Tafia yang meronta-ronta.

***

Sudah tidak ada alasan lagi bagi Gavin tetap berada di kota penuh dengan kenangan menyedihkan ini. Ia sudah membulatkan tekatnya untuk putus sekolah, ikut ayahnya bekerja sebagai kuli di sebuah proyek bangunan di luar kota.

"Pikirkan masak-masak lagi Gavin, ayah masih sanggup menyolahkan kamu."

Gavin hanya menunduk dengan wajah sendu. Sejak kejadian kemarin, cowok itu suka sekali menunduk. Bahkan, ketika berhadapan dengan siapapun. Untuk menyembunyikan kesedihannya.

"Gavin tidak akan jadi apapun meskipun sudah lulus sekolah. Lebih baik Gavin langsung terjun ke lapangan pekerjaan, Bu."

"Hiks ... hiks ... hiks ..., ibu minta maaf ya Vin." Mundasri memeluk putra sulungnya itu sambil menangis terisak-isak.

"Ibu nggak perlu sedih, ini sudah menjadi kewajiban Gavin sebagai anak pertama. Biarkan Gavin berkorban, Bu. Setidaknya untuk satu-satunya harapan keluarga kita, Aisyatul Ulfa." Rahang Gavin mengeras, giginya bergemelutuk penuh emosional. "Gavin akan menaruh harapan dan mimpi-mimpi Gavin di pundak Aisya. Gavin akan mati-matian menyekolahkan Aisya sampai kuliah. Gavin pengen lihat Aisya sukses. Aisya nggak boleh kayak Gavin."

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang