Part 46 : Valentino Rossi

8.4K 1K 211
                                        

Dengan langkah lebar dan tawa yang menggelegar preman-preman itu kembali ke dalam mobil, kemudian langsung tancap gas melarikan diri.

Mundasri masih terdiam dengan tatapan kosong. Menatap lapak jualannya yang porak-poranda bagai diterpa badai.

Sementara Tafia menangis histeris sambil memukul-mukul aspal. Ia terlihat sangat shock melihat satu-satunya sumber pendapatan ibu Gavin dihancurkan tanpa belas kasihan oleh preman-preman itu.

"Ini gimana Bude?" Tafia menggoyang-goyangkan tubuh Mundasri yang masih membeku seperti patung.

Pandangan wanita paruh bayah itu masih terlihat kosong. Sampai pada akhirnya tak sadarkan diri setelah warga mulai datang berbondong-bondong.

Datang pula dua polisi yang langsung memproses kasus tersebut, mencari para preman yang menghancurkan lapak jualan Mundasri.

Tafia dimintai keterangan sebagai saksi. Bagaimana ciri-ciri preman tadi. Menerka-nerka apa motif preman-preman tersebut menghancurkan lapak jualan Mundasri.

Sesaat kemudian, barulah Gavin dan teman-temannya datang. Masih mengenakan seragam sekolah.

"Bangsat!" Rijal mengepalkan tangannya geram. "Siapa yang tega nglakuin ini sama ibu lo, Vin?"

Sama seperti ibunya, Gavin tidak menangis. Hanya terdiam dengan tatapan kosong. Tubuhnya membeku seperti patung.

Raffa memijat-mijat keningnya, pusing. Sebagai pimpinan geng, ia harus melakukan sesuatu untuk membantu salah satu anggotanya. "Rif, telepon seluruh anggota geng Alister. Kita cari preman yang tega nglakuin ini!" titahnya penuh emosi.

Raffa kemudian bertanya kepada Tafia bagaimana ciri-ciri preman yang menghancurkan lapak jualan Mundasri. Tafia juga menjelaskan tiga mobil yang dinaiki preman-preman tersebut.

"Def dikabari nggak, Raf?" tanya Rifki yang masih sibuk mengabari teman-temannya.

Raffa langsung menyahut ponsel Rifki. "Nggak usah!"

"Kenapa? Dia juga anggota inti geng Alister. Kita butuh Def buat merancang penyerangan kayak gini."

Raffa menatap Rifki dengan tatapan dingin. "Kita nggak butuh dia!"

"Cuma gara-gara Def udah nyomblangin lo sama Aliqa. Kenapa lo sampai benci sama Def kayak gini?" ucap Rijal sambil berkacak pinggang. "Dia juga temen kita Raf."

Raffa menghela napas. "Huh, ada satu kesalahan Def yang nggak bisa gue maafin seumur hidup," desis cowok berambut jambul itu di telinga Rijal.

"Apa anying?"

"Lo nggak perlu tahu!" Raffa menjorokkan tubuh Rijal kemudian memakai jaket kebesaran geng Alister. "Ayo berangkat!" tuturnya setelah melihat banyak anak bermotor yang memakai jaket jeans bordir khas geng Alister mendatangi tempat tersebut.

Gavin yang masih membeku di tempatnya mengepalkan kedua tangan, buku-buku jemarinya memucat. Cowok tampan yang rambutnya dibelah dua itu menghampiri Tafia.

Dengan bibir yang bergetar. Gavin berjongkok dihadapan Tafia. "Taf, aku minta tolong jagain ibuku, ya," lirihnya dengan wajah sendu.

Beberapa menit yang lalu, Mundasri langsung dibawa ke puskesmas setelah pingsan, oleh beberapa warga.

Tafia mengangguk, kemudian memegang pergelangan tangan Gavin. "Kamu nggak usah ikut."

"Kenapa?"

"Aku takut kamu kenapa-napa." Tafia menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

Gavin menelan ludahnya dengan susah payah. Menatap gadis berhijab merah itu dengan tatapan nanar. "Tidak ada yang lebih pecundang selain anak laki-laki yang diam saja ketika melihat ibunya ditindas."

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang