Tafia tumbuh di tengah keluarga yang tak pernah benar-benar menginginkannya. Hari-harinya dipenuhi rasa serba salah, terlebih karena ia harus berbagi kelas dengan saudara tiri yang tak henti-hentinya membully dirinya.
Namun, kehidupan sekolahnya men...
Koridor sekolah itu sepi, hanya sesekali langkah berderap terdengar menggema di lantai ubin yang dingin. Seorang gadis kecil melangkah dengan tergesa, rambutnya terurai sedikit berantakan, sebagian menutupi wajahnya yang pucat. Nafasnya terdengar pendek, seolah melawan rasa takut yang mencengkeram.
Ketika ia memasuki kelas, suara gaduh langsung menyambutnya. Seorang cowok dengan jaket kebesaran khas geng elite berdiri di dekat pintu, senyumnya miring penuh ejekan. Sorot matanya menusuk, seperti predator yang baru menemukan mangsanya.
"Eh, senyum dulu, dong," katanya ringan, tapi nadanya menyimpan ancaman. "Kalau nggak, gue cium lo sekarang."
Sorakan meledak dari sudut-sudut kelas.
"Cium aja, Def!" "Cium!" "Cium!"
Tafia menunduk lebih dalam, kedua tangannya menggenggam erat ujung rok seragamnya, berusaha menahan gemetar. Ia melangkah ingin menghindar, tapi Def mencengkeram pergelangan tangannya dengan kasar.
"Wajah gue nggak cukup ganteng buat lo tatap, hah?" Tawa Def menggelegar, sementara tangannya menjambak rambut Tafia, memaksanya mendongak.
Mata Tafia berair, wajahnya meringis menahan sakit. "A-ampun, Def..." suaranya pecah, nyaris tak terdengar.
Tiba-tiba, fluh! Sebuah permen karet melesat ke arah Def, menempel tepat di pipinya.
"Anj***!" Def melepas cengkeramannya, berusaha mencabut permen karet itu dengan wajah jijik. Semua mata beralih pada sosok yang baru saja masuk ke kelas—Gavin. Cowok itu menyeringai, santai, seolah baru saja melakukan hal paling wajar di dunia.
"Kurang ajar lo, Vin!" Def melompat, mengejar Gavin yang sudah kabur ke sudut kelas.
Tafia menghela napas lega, tapi hanya sesaat. Ketika ia mencoba duduk, kursinya tiba-tiba ditarik ke belakang. Tubuhnya terjatuh dengan keras ke lantai, suara tawa membahana memenuhi ruangan.
"Haha, gobl ok!" Ririn, gadis yang terkenal kej_am di kelas, berdiri di atasnya. Dengan senyum sinis, ia menoyor kepala Tafia.
"Apa?! Mau nangis lo?"
Tafia bangkit perlahan, mengabaikan sakit di pinggangnya. Ia mencoba duduk kembali, tapi Ririn meraih tasnya dengan paksa.
"Mana buku tugas lo?" tuntut Ririn dengan nada tinggi.
"Aku—"
"Lo bud eg, ya? Gue nanya buku tugas lo!" Sebuah tendangan mendarat di paha Tafia, membuatnya terdorong ke depan. Tasnya terobrak-abrik, lalu Ririn mengangkat buku tugas yang ia cari.
"Jangan, Rin!" Tafia mencoba merebut bukunya, tapi Ririn lebih cepat. Buku itu dilempar, dioper ke Selly, lalu kembali ke tangan Ririn.
Hati Tafia mencelos. Gadis itu melompat, berusaha meraih bukunya yang dioperkan dari satu tangan ke tangan lain, tapi usahanya sia-sia.
"Hiks... tolong, jangan..." Air mata akhirnya tumpah. Tafia terduduk, bahunya bergetar hebat saat tangis menyesakkan dadanya.
Di tengah kekacauan itu, suara Ririn menggema. "Def, sobek aja, gih! Gue traktir lo nanti."
Suara sorakan menyambut usulan itu. Def mendekat, mengambil buku itu sambil tertawa kecil.
"Baiklah, demi keadilan kelas ini," katanya dengan nada teaterikal, "kita pastikan rank 1 bukan milik Tafia lagi. Setuju?"
"Setuju!!!" Sorakan bergema.
Tafia memejamkan mata, tubuhnya lemas. Ia tahu semua telah berakhir. Suara robekan kertas memenuhi udara, setiap lembar buku tugasnya jatuh seperti serpihan mimpi yang hancur.
Pintu kelas tiba-tiba terbuka lebar. Siluet seorang wanita berdiri di sana, hijab hitamnya melambai tertiup angin. Suasana langsung sunyi.
"Selamat pagi," sapanya dengan nada dingin.
"PAGI BUUU!" semua murid menjawab serempak, kecuali Tafia.
Ketakutan merayapi dirinya. Ia tidak memiliki buku tugas untuk diserahkan. Dalam kepalanya, ia sudah membayangkan diri berdiri di lapangan sekolah, dijemur di bawah matahari tanpa ada seorang pun yang peduli.
Ketika ia tenggelam dalam kecemasan, sebuah buku tiba-tiba menghantam mejanya.
Tuk!
Kepalanya terangkat. Gavin berdiri di depannya, dengan wajah datar.
"Jadi cewek gak boleh cengeng," katanya pelan. "Nanti gampang diinjek-injek."
Tafia melongo, matanya terpaku pada buku tugas yang kini ada di mejanya. Semua soal terisi rapi, berserta nama di cover itu yang berubah menjadi—Tafia Indriani.
Masih membekas nama Gavin yang dicoret menggunakan Tipe-X.
Di belakang, Def menggerutu. "Anak itu kenapa elah, sok jadi pahlawan?!"
Raffa tertawa. "Kena virus tik-tok kayaknya."
Namun bagi Tafia, buku di depannya adalah bukti kecil bahwa kebaikan belum sepenuhnya lenyap dari dunia ini.
TBC
Gimana, suka nggak sama ceritanya?
Yuk, ajak teman-teman kalian buat ikut baca hehe.
Support author dengan follow instagram : @nurudin_fereira
Cast :
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.