Gadis berkerudung oranye itu terdiam dengan tatapan kosong. Di tengah-tengah keramaian cafe mewah dengan interior dan eksterior yang di dominasi warna putih.
Meski cowok yang ada di depannya terus mengoceh, perempuan manis itu masih saja melamun. Memikirkan sesuatu yang membuat dirinya semakin resah.
Ingar-bingar suara riuh para pengunjung sedang mengobrol asyik menggema di setiap meja. Sibuk dengan dunia masing-masing. Beberapa dari mereka melemparkan guyonan, kemudian tertawa bersama-sama menciptakan kegaduhan.
Jauh berbeda dengan sepasang kekasih yang duduk di sudut ruangan. Hanya Brian yang berbicara. Sementara Tafia hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian melamun dengan tatapan kosong.
Berada di tempat seramai itu justru membuat hati Tafia semakin terasa hampa. Raganya ada di sini, tapi tidak dengan jiwanya yang melayang jauh entah kemana.
Padahal suasananya cukup romantis untuk sepasang kekasih. Dilengkapi alunan musik klasik yang dinyanyikan oleh vokalis wanita di atas panggung. Namun, Tafia justru semakin merasa tidak nyaman, saat sekelebat bayangan wajah kecewa Gavin terus memenuhi isi kepalanya.
Tafia tidak suka di dalam keramaian. Ia adalah makhluk invisible yang sering kali menghilang di dalam keramaian.
"Taf, kamu nggak pa-pa, kan?" Rupanya Brian mulai menyadari gelagat aneh Tafia.
Tafia langsung terbangun dari lamunan kemudian menatap Brian dengan wajah kikuk. "Eh, iya nggak apa-apa, kok," ucapnya memaksakan seulas senyum.
"Kamu sakit?" tanya Brian sambil menaikkan sebelah alis.
"Enggak." Tafia menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menyuruput kopi yang mereka pesan.
"Aku ke kamar mandi dulu, ya." Tafia mendorong kursi ke belakang, kemudian beranjak dari duduk menuju ke toilet.
Beberapa kali Tafia menabrak orang yang berlalu-lalang di depannya. Mulutnya menggumamkan kata maaf walaupun hanya pelan sekali. Sudut matanya melirik ke arah seorang cowok yang duduk di dekat jendela. Duduk bersama seorang perempuan yang satu sekolah dengannya. Mungkin pacar baru.
Cowok berambut acak-acakan itu tersenyum miring melihat kehadiran Tafia. Kemudian menggeleng-gelengkan kepala, seolah sedang mengatakan. "Rupanya begitu caramu membalas ketulusan Gavin."
Tafia semakin dihantui rasa bersalah. Gadis itu masuk ke dalam toilet, kemudian menangis terisak-isak. Begitu teganya ia kepada Gavin, membuat hati laki-laki tulus itu hancur berkeping-keping.
Tafia selalu teraniaya hidup di bumi, tapi kenapa ia masih sempat-sempatnya menyakiti perasaan seorang lelaki. Lelaki paling tulus yang sudah memberi warna dalam hidupnya.
Gadis itu meraih ponsel di dalam sling-bagnya. Mengetik sebuah pesan. Ingin mengucapkan permintaan maaf kepada Gavin. Jarinya gemetar saat akan menyentuh tombol send. Akhirnya gadis itu mendeletenya lagi dan mendengkus kasar.
Tafia meremas-remas gamis yang dikenakan. Kemudian mengusap-usap mata sembabnya. Gadis itu berulang-ulang kali membasuh wajah dengan kran air di wastafel. Matanya langsung membulat, melihat sesosok pria memakai hoodie merah maroon muncul pada pantulan kaca yang ia pakai untuk bercermin.
Tafia langsung menoleh ke arah pintu. Melihat cowok itu yang bersedekap santai sambil tersenyum miring. Setelah menutup pintu.
"Kenapa lo nangis?" celetuknya dengan nada ketus.
"I-ini toilet perempuan, kenapa kamu masuk?" Tafia menahan napas, kemudian menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aman. Cuma ada gue sama lo di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
TAFIA'S TEARS
Novela JuvenilTafia tumbuh di tengah keluarga yang tak pernah benar-benar menginginkannya. Hari-harinya dipenuhi rasa serba salah, terlebih karena ia harus berbagi kelas dengan saudara tiri yang tak henti-hentinya membully dirinya. Namun, kehidupan sekolahnya men...
