Part 37 : Mencari Bintang

9.8K 1.1K 55
                                        

Tafia melangkah terpincang-pincang menyusuri trotoar. Gadis itu sengaja kabur, agar tidak menyusahkan Gavin. Ia harus mendapatkan pekerjaan hari ini. Agar bisa makan dan mendapatkan tempat tinggal.

Gadis itu berhenti di sebuah toko baju yang masih tutup. Ada plakat lowongan pekerjaan di sana.

Tafia akan menunggu sampai tokonya buka, sembari beristirahat karena terlalu lelah berjalan jauh. Dari sebelum subuh hingga matahari terbit dari timur.

Perutnya berbunyi. Ia ingat masih ada dua potong pitza di dalam tasnya. Gadis itu duduk berjongkok di teras toko, kemudian mengambil pitza tersebut. Sialnya, pitzanya sudah basi tidak bisa dimakan.

Alhasil, Tafia hanya bisa menahan lapar sambil memeluk foto almarhumah ibunya. Satu-satunya kenangan yang ia miliki. Foto yang beberapa kali hampir dibuang Ririn.

Beberapa menit kemudian sebuah mobil Innova berbelok ke arah toko. Turun seorang perempuan paruh bayah seumuran dengan mama tirinya.

Perempuan itu mengernyitkan dahi melihat Tafia yang duduk lesehan di teras. Tanpa bertanya sama sekali, perempuan itu membuka pintu toko yang terkunci.

Tafia buru-buru memasukan foto almarhumah ibunya ke dalam tas, kemudian beranjak dari duduk. "Maaf Mbak, apakah masih ada lowongan pekerjaan?"

Perempuan itu menoleh ke arah Tafia. Menatapnya dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik. "Mau melamar pekerjaan?"

Tafia mengangguk dengan antusias.

Wajah perempuan paruh bayah itu yang tadinya datar berubah menjadi ramah. "Oke, ayo masuk!"

Tafia disuruh duduk di salah satu kursi. Perempuan itu menyalakan lampu kemudian duduk di sebelah Tafia. "Apakah kamu membawa CV surat lamaran?"

Tafia menggeleng.

Perempuan itu menghela napas. "Sayang sekali, kalau melamar kerja di sini harus pake surat lamaran."

"Tolongin saya dong, Mbak, saya sangat butuh sekali pekerjaan." Tafia memohon dengan wajah memelas.

Perempuan paruh bayah itu merasa tidak tega. "Baiklah, coba saya telepon bu Ria dulu. Apakah boleh menerima karyawan baru tanpa surat lamaran."

Tafia langsung membulatkan mata. "Bu Ria siapa, Mbak?"

"Ria Permata Sari, bos besar pemilik cabang toko baju ini."

Ria Permata Sari? Ibu tirinya?

Tafia tampak gugup, gadis mungil itu buru-buru beranjak untuk keluar dari tempat tersebut.

"Mau ke mana, Mbak?"

"Saya tidak jadi melamar pekerjaan, Mbak," jawabnya cepat-cepat keluar dari toko.

Tafia lupa bahwa usaha butik mama tirinya memang sangat sukses. Ia tidak mungkin bekerja di salah satu cabang milik mama tirinya sendiri.

Gadis itu kembali melangkah dengan terpincang-pincang. Perutnya terasa sangat lapar, karena sudah sejak kemarin malam belum diisi makanan. Ia masuk ke dalam pasar swalayan, barangkali ada pedagang yang membutuhkan pekerja untuk menjual dagangan.

Pasar swalayan sudah sangat ramai walaupun masih pagi. Banyak sekali orang-orang yang berbelanja. Meskipun tempatnya sedikit kumuh, kotor, dan berisik. Banyak ibu-ibu yang sedang melakukan proses tawar-menawar.

Tafia mengedarkan pandangan ke sekitar. Teringat dengan masa kecilnya yang sering diajak ke pasar oleh sang ibu. Rasa rindunya kembali menggelora di dalam tubuh.

"Ikan segar! Ikan segar!"

"Diobral yuk, diobral!"

"Jeruk madunya Neng, manis, enak. Satu kilo sepuluh ribu."

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang