Part 49 : Perhatian

8.3K 1.1K 585
                                        

Yang belum follow instagram aku, follow dong

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yang belum follow instagram aku, follow dong. Biar makin semangat hehe...

Ig : nurudin_fereira

***

"Aisya, kak Gavin mana kok belum pulang-pulang dari tadi?" tanya Tafia kepada Aisya yang sedang asyik belajar mengaji. Membaca iqro' jilid tiga di depan teras sambil memelintir ujung kerudungnya.

Aisya pun menoleh sambil menggeleng. Kemudian melanjutkan bacaannya.

Tafia menghela napas, kemudian menatap tetesan air hujan yang membasahi bumi. Petir menggelegar beberapa kali, membuat mata Tafia sedikit menyipit.

Entah kenapa dirinya merasa khawatir dengan keadaan Gavin. Anak itu belum makan semenjak mengantarkan ibunya pulang dari puskesmas, dan sampai menjelang petang belum kembali ke rumah.

Gadis itu masuk ke dalam untuk mengambil payung. Kemudian berjalan menembus lebatnya hujan. Ia takut Gavin depresi dan melakukan hal yang tidak-tidak.

Tafia sangat hafal sekali bagaimana perasaan orang yang sedang frustasi seperti Gavin. Dirinya pernah berulang-ulang kali berada di posisi sulit. Makanya ia sangat mengerti dengan keadaan Gavin.

Gadis mungil itu berhenti tatkala melihat bunga camelia berada di depan salah satu rumah yang dilewati. Ada beberapa bunga yang terjatuh dan terbawa arus air hujan yang mengalir.

Kedua sudut bibirnya menyunggingkan seulas senyum setelah memetik bunga tersebut dari tangkainya. Teringat dengan ucapan Gavin yang mengatakan bahwa dirinya mirip sekali dengan bunga camelia.

Mungkin karena pipinya sedikit chubby dan memerah jika digoda. Atau karena bibir ranumnya yang merekah seakan-akan menggambarkan bunga camelia yang bermekaran. Entahlah, Tafia juga tidak tahu apa alasan Gavin mengebutnya mirip dengan bunga camelia.

Tafia melanjutkan perjalanan, sembari menggenggam bunga camelia di tangannya. Ujung gamisnya terlihat basah karena terkena cipratan air hujan yang memantul dari tanah.

Detik itu juga, ia berguman. "Venus, bisakah aku tumbuh subur di planetmu?"

***

Dug!

Bola yang ditendang itu memantul ke atas setelah menatap tiang gawang. Sebelum jatuh menyentuh tanah, seseorang langsung mengejar dan menendang si kulit bundar tersebut dengan sekuat tenaga hingga menatap gawang dan memantul kembali ke udara.

Gavin tidak membiarkan bola itu jatuh. Ia melakukannya berulang-ulang kali, walaupun tubuhnya sudah terlihat letih.

Di saat banyak pikiran seperti ini. Gavin selalu melampiaskan emosinya di lapangan. Ketika dunia semakin sulit ditaklukan. Hanya pada bola, Gavin bisa tetap berlari untuk mengejar.

Ia benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa. Ia benci karena tidak bisa membahagiakan sang ibu. Ia benci karena gerobak jualannya hancur. Ia benci karena orang yang menghancurkan lapak jualan ibunya adalah ayah dari gadis yang ia cintai. Ia juga benci karena tidak bisa mendapatkan gadis yang ia cintai.

TAFIA'S TEARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang